Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 201 - Maaf


__ADS_3

Setelah Mauren terlelap, Sean mencoba membopong Mauren supaya tidur di kamar yang tersedia. Tetapi Mauren terbangun dan menolak untuk pindah tempat. Dia tersadar bahwa ini bukan mimpi, dia melihat wajah putrinya yang masih sama terlelap menggunakan kapas di hidungnya.


"Sheren, bangun sayang! Jangan tidur! Bangun! Sheren tidak kasian mama? Kenapa Sheren ninggalin mama?" ucap Mauren berteriak histeris.


Sean menenangkan Mauren dengan memeluknya erat. Mauren meronta dan menyuruh dokter memeriksa ulang jika Seina hanya tidur bukan meninggal.


"Kenapa mereka menaruh kapas di hidung Sherenku? Sherenku tidak bisa bernafas," ucap Mauren sambil melepas kapas di hidung Seina.


Sean berusaha menenangkan Mauren yang semakin histeris. Dia seperti orang gila dan kehilangan akal.


Disaat bersamaan Daleon datang bersama Kim. Daleon berlari memeluk papa dan mamanya.


"Papa, mama. Kenapa ninggalin Dale?" ucap Dale.


Mauren langsung terhenti dari isak tangisnya lalu memeluk Daleon. Dia sempat melupakan Daleon dan kini ia bisa menumpahkan kesedihannya dengan cara memeluk Daleon.


Daleon masih kebingungan, ia melirik kakaknya berada di peti mati. Dia pikir kakaknya hanya tertidur biasa.


"Ma, Dale mengantuk," ucap Daleon.


"Oren, temani Dale tidur! Kasian Daleon," ucap Sean.


"Aku ingin dekat dengan putriku, oppa"


"Kasian Dale, Oren. Ini sudah hampir jam 1 pagi"


Dengan terpaksa Mauren menemani Daleon tidur di kamar yang sudah disediakan. Sebelum itu, ia mencium kening Seina yang mendingin. Dia berharap Seina terbangun.


Setelah Mauren dan Daleon masuk ke kamar.


Sean memutuskan duduk bersandar ditembok didekat peti mati putrinya.


Dia memandang wajah Seina, hanya penyesalan yang ada di otak Sean.


Sean mengelus rambut Seina lalu ia ingin menyisir rambut putrinya itu.


Dia mengambil sisir di tasnya dan menyisir rambut Seina yang panjang dan halus itu. Sean juga menyisir poni Seina dan tak terasa air matanya menetes.


"Papa menyesal, Sein sayang. Papa minta maaf jika selama ini papa tidak menjadi papa yang baik buat Sein. Papa minta maaf selalu membentak Sein. Papa tidak akan memaafkan diri papa sendiri. Papa adalah orang jahat," ucap Sean.


Dokter Juna mendekati Sean lalu menepuk bahunya. Dokter Juna menyuruh Sean tidur untuk istirahat.


"Aku tidak bisa tidur, Juna. Penyesalan menggerogoti jiwaku. Aku jahat kepada Seina," ucap Sean.


"Sean, tidurlah. Istirahat supaya besok bisa mengantar Seina ke peristirahatan terakhirnya. Dia akan sedih jika kau terus seperti ini," ucap Dokter Juna.


Dokter Juna mengambil tikar lalu menggelar tikar itu didekat peti Seina.


Dia menyuruh Sean tidur dan memberinya bantal.


Terlihat Juna dan Kim ikut tertidur di sebelah Sean. Mereka memang teman terbaik di kala kesusahan.


Air mata Sean terus saja mengalir, ia tidur sambil menangis sesegukan.


Asisten Kim menyelimuti sang tuan dan mengelap air matanya. Dia juga ikut sedih dengan kepergian Seina.


Seina merasa berjalan di awan putih, ia berjalan sendirian tak tentu arah. Dia mencari seseorang. Seina ketakutan karena ia seorang diri disana.


"Mama? Mama dimana? Sheren takut," ucap Seina.


Seina tetap berjalan diatas awan itu. Dia lalu menangis karena tidak ada seorang pun disana. Dia hanya ingin pulang dan bertemu kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Seina?" ucap seseorang.


Seina terkejut, ia langsung mencari sumber dari suara itu. Dia berjalan cepat dan semakin suara itu terdengar.


"Seina, ini ibu"


"Siapa? Ibu siapa?" teriak Seina.


"Aku ibumu, aku yang melahirkanmu"


Seina terus berlari mencari keberadaan suara itu sampai ia melihat seseorang wanita menggunakan gaun putih tersenyum kepadanya.


"Tante siapa?"


"Aku ibumu"


"Ibu Sein bukan tante tapi Mama Mauren"


Wanita itu tersenyum lalu mengelus kepala Seina. Seina menggelengkan kepalanya dan mengucek matanya. Dia tidak bisa melihat wajah dari wanita itu.


Semakin ia ingin melihat maka semakin buram wajah wanita itu.


"Seina mau pulang, mau ketemu mama. Mama pasti mencari Sein," ucap Seina.


"Seina ikut ibu saja. Seina anak ibu"


"Bukan, tante salah orang. Aku anaknya mama Mauren," jawab Seina.


Seina berlari menjauhi wanita itu tetapi wanita itu selalu ada setiap Seina berlari kesana kemari. Seina lalu menangis kencang membuat wanita itu mengelus pipi Seina.


"Seina rindu mama?" tanya wanita itu.


Seina menganggukan kepala. Dia menangis terisak.


"Tante tidak ikut?" tanya Seina.


Wanita itu menggelengkan kepala, dia lalu menyuruh Seina untuk berjalan mengikuti jalan panjang di depannya.


Seina lalu mengikuti arahan wanita itu.


Wanita itu melambaikan tangan dan perlahan wajahnya terlihat.


"Sampai jumpa Seina. Jadi anak baik ya. Jangan bandel!" ucap wanita itu.


Dan seketika itu Seina terbangun, ia mencoba menggerakkan tubuhnya tetapi terasa sakit.


"Papa... mama..."


Sean, Juna dan Kim sudah terlelap. Seina mencoba memanggil papa dan mamanya dengan keras.


"Papa... mama... badan Sein sakit," teriak Seina.


Sean yang terbangun merasa terkejut, ia masih belum sadar jika itu suara putrinya. Sean mencoba mendengar lagi sampai ia menyadari suara itu adalah suara Seina.


"Papa... mama..."


"Seina?" teriak Sean. "Seina masih hidup? Seina sayang," sambung Sean.


"Kenapa papa menidurkanku disini? Keras papa"


"Juna, Kim. Bangun kalian! Seinaku masih hidup," teriak Sean.

__ADS_1


Sean mengangkat Seina dari peti dan terlihat Juna, Kim terbangun lalu terkejut melihat Seina yang masih hidup.


Sean mengangkatnya dengan hati-hati lalu meletakan Seina di pangkuannya.


"Kaki ku sakit, pa"


"Mana yang sakit sayang? Seina, anakku...," ucap Sean sambil menciumi pipi Seina.


Dokter Juna lalu memegang tangan Seina dan memeriksa denyut nadinya.


Denyut nadi gadis itu normal.


"Sean, kita harus bawa Seina ke rumah sakit. Dia harus segera di periksa karena ini kejadian langka. Sudah dinyatakan meninggal oleh pihak medis tetapi tiba-tiba bangun lagi dan ternyata masih hidup," ucap Dokter Juna.


Sean menganggukan kepala tetapi ia menyuruh membangunkan semua orang untuk berkumpul di ruangan itu.


Asisten Kim segera menuruti apa kata Sean.


"Papa, kakiku sakit sekali," rengek Seina.


"Sebentar sayang, kita akan ke rumah sakit," jawab Sean.


"Papa, Sein haus"


Sean lalu meraih air mineral gelasan di dekatnya lalu meminumkannya ke Seina. Seina sangat kehausan karena beberapa jam ia tidak minum. Sean sangat bersyukur jika Seina kembali hidup.


"Sheren?" teriak Mauren terkejut.


Mauren langsung memeluk Seina yang ada di pelukan Sean. Dia menangis dan lalu bersujud syukur karena Tuhan mendengar doanya.


"Sheren, jangan tinggalkan mama, nak! Mama sayang Sheren"


"Sheren gak kemana-mana kok. Mama jangan nangis!" jawab Seina.


"Setelah ini kita akan bawa ke rumah sakit, kau mau ikut tapi Dale bagaimana?" tanya Sean.


"Dale masih tidur, kita titipkan mama saja"


Mereka lalu menuju ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Mauren. Sedangkan Daleon bersama omanya.


Mauren terus mengucapkan puji syukur karena Seina masih di beri kesempatan untuk hidup.


Mauren di dalam mobil terus memeluk Seina. Seina masih kebingungan karena orang tuanya menangis tetapi ia bersyukur bisa kembali pulang.


"Mama... aku kangen mama," ucap Seina.


"Mama juga kangen Sheren"


Seina lalu melirik Sean, cukup ada ketakutan saat ia melihat sang papa yang sempat memarahinya.


Sean mengecup keningnya dan ia meminta maaf kepada Seina karena selalu memarahi Seina.


"Papa gak sayang Seina. Papa hanya sayang Dale," ucap Seina.


"Papa sayang Sein. Papa sangat menyayangi kalian semua. Maafkan papa"


"Papa hanya memarahiku saja, papa selalu membela Dale. Dale selalu nakal kepadaku tapi papa tidak mengerti," ucap Seina sambil menangis.


Mauren melirik Sean, ia juga cukup kesal jika sang suami selalu membedakan kedua anaknya. Mauren tahu jika Daleon sangat berharga untuk Sean tetapi bukankah Seina juga tak kalah berharga? Dia bisa menjaga Daleon. Dia bisa menjadi kakak yang baik untuk Daleon.


"Oppa harus janji, jangan pernah bersikap kasar lagi dengan Seina! Oppa harus bisa mengontrol emosi," ucap Mauren.

__ADS_1


Sean menganggukan kepala lalu mencium pipi Seina. Dia berjanji supaya tidak memarahi Seina dan bersikap kasar dengan Seina.


__ADS_2