Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 133 : Kejutan!


__ADS_3

Kegiatan pasangan aneh itu hanya seperti itu-itu saja. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang, ihik-ihik, bobok dan seperti itu terus sampai author pusing karena mulai kehabisan ide.


Tapi author tidak menyerah, author merebahkan diri ranjang sambil garuk-garuk hidung yang mulai gatal lalu mulai berpikir, apa ya yang seharusnya aku tulis hari ini? Ahaaa... author mulai dapat ide tetapi ketika mulai mengetik ide itu hilang seketika.


"Otak Bangs*t! Ayo kita bertengkar! Jangan permainkan aku!"


Author menatap langit-langit kamar dan mulai konsentrasi, aku memikirkan wajah Sean yang tampan beserta kekonyolannya, author mulai tersenyum sendiri seperti orang gila. Ahaaaa... author mulai dapat ide lagi.


Author mulai mengetik satu kalimat tetapi tiba-tiba...


"Mah... e'ek wawik.. e'ek wawik...," ucap anak author berumur 2,5 tahun dengan suara cadelnya yang meminta cebok.


Author meletakan ponsel lalu mulai mengurusi anak imut author. Ya... beginilah seorang ibu muda harus siap siaga 24 jam mengurusi anak.


Dan setelah tugas negara itu selesai, author mulai memegang ponsel dan siap mengetik lagi tetapi tiba-tiba author nyasar di instagram, biasa anak gaul harus update instastory dulu, eh follow yak instagram asli author (Mariana_Vikram). Dan setelah update lalu mulai buka apk noveltoon, ahh... tapi tiba-tiba teringat postingan author yang ada di facebook dan akhirnya nyasar lagi di facebook sampe lama.


Dan saat itu langsung ingat, eh iya harus setor naskah di noveltoon. Ah... author mulai pikun dan akhirnya mulai serius mengetik cerita.


Mauren membuka lokernya dan mengambil sekotak susu coklat favoritnya lalu setelah itu meminumnya sambil membuka ponsel.


Dia duduk di kursi panjang dan mengirimi pesan kepada orang tuanya untuk menanyakan kabar.


Setelah itu membuka akun IG nya, ia membuka pesan yang membludak dari puluhan orang yang ingin mengendorse barang-barang mereka kepada Mauren.


Tetapi dia terbelalak karena seorang aktor terkenal mengirimi pesan kepadanya.


Hai Mauren. Salam kenal.


Mauren tersenyum kecut, ia tidak menghiraukan pesan itu karena baginya ia sudah menikah dan harus setia kepada sang suami.


Sampai ponselnya berbunyi yang sebuah alarm pemberitahuan tentang hal yang sangat penting walaupun itu dulu saat belum menjadi istri dari Sean.


"Kak Kim ulang tahun? Kenapa aku bisa lupa? Aku harus beritahu Oppa supaya bisa memberi Kak Kim pesta kejutan," gumam.


Mauren menutup lokernya lalu menuju keruangan Sean dan saat melewati ruangan Asisten Kim, gadis itu melirik Asisten Kim yang sibuk berkutat dengan laptopnya.


Mauren tidak menyapa dan langsung menuju ruangan Sean.


"Oppa? Eh... maksudku Tuan?"


"Apa?"


"Kak Kim ulang tahun hari ini. Bagaimana jika kita membuat pesta kejutan untuknya?"


Sean terdiam sesaat untuk berpikir, ia mengerutkan kening. "Tidak usah! Buang-buang duit saja"

__ADS_1


"Oppa pelit sekali, cih... padahal Kak Kim selalu baik kepada Oppa"


"Terserah kau saja! Kau yang urus, pekerjaanku banyak, Mauren. Lihat rambutku mulai rontok lagi!" ucap Sean sambil memegang rambutnya.


Mauren tersenyum, ia memeluk Sean dan mencium pipinya. Dia tahu jika Sean sangat baik. Gadis itu menarik kursi lalu duduk disebelah Sean dan mulai mencari kue ulang tahun di toko online.


Sean meliriknya dan ada sedikit rasa cemburu dibenaknya.


"Kau masih menyukai Kim?" tanya Sean.


"Kenapa Oppa berpikir seperti itu?"


"Kau bahkan masih ingat ulang tahunnya"


Mauren meletakan ponselnya lalu menatap Sean. "Oppa, Kak Kim tidak mempunyai keluarga. Jika tidak kita yang peduli dengannya terus siapa lagi? Dan aku tidak yakin pacar Kak Kim tahu ulang tahun Kak Kim"


Sean mengelus rambut Mauren lalu mencium keningnya. Dia beruntung mempunyai istri baik dan perhatian seperti Mauren.


"Oren. Bagaimana kau berhenti bekerja saja? Kau di rumah saja belajar masak dan fokus dengan program hamilmu?"


"Di rumah mau ngapain, Oppa? Aku bekerja disini karena ingin bersama Oppa setiap hari"


Sean tersenyum, ia lalu merangkul Mauren dan menggesekkan hidungnya pada hidung gadis itu.


Setelah itu Sean menyuruh Mauren untuk membantu pekerjaannya yang mudah. Mauren menganggukan kepala, ia membantu pekerjaan sang suami.


Malam hari telah tiba, setelah pulang dari kantor Asisten Kim masuk ke apartemennya. Entah kenapa sang tuan hari ini pulang cepat tanpa memberinya alasan yang pasti.


Asisten Kim mulai membuka pintu apartemennya. Dia terkejut saat apartemennya begitu gelap. Dia berjalan menuju saklar lampu dan menyalakan lampu.


"Kejutaaaaaaan...," teriak Mauren dengan suara kerasnya.


Sedangkan Sean terlihat tidak niat dan Dokter Juna malah asyik tidur di ranjang tanpa berdosa.


"Hei Mauren! Tidak usah teriak-teriak kenapa?" ucap Dokter Juna merasa terganggu dengan pesta kejutan itu.


Mauren hanya melirik dan tidak menghiraukan ucapan Dokter Juna.


Dia lalu menyuruh Sean untuk mencari korek api.


"Jiaaah... harusnya nyalakan lilin dulu baru memberi kejutan. Kau ini bagaimana Mauren? Kim sudah datang baru meminta korek. Aku juga tidak punya korek," ucap Sean.


"Terus ini bagaimana Oppa? Dokter Juna punya korek?"


"Tidak punya Mauren"

__ADS_1


Mauren kebingungan karena ia lupa tidak menyiapkan korek. Asisten Kim tidak masalah jika memang tidak ada tiup lilin.


"Tiup kompor saja kau, Kim!" ucap Sean.


"Bagus sekali idemu, Sean. Ayo Kim tiup kompor biar aku rekam," ucap Dokter Juna bersemangat sambil bangun dari ranjang.


Teman kurang ajar. Batin Asisten Kim.


"Apaan sih kalian? Pegang dulu kuenya Kak Kim. Biar aku nyalain lilin dari kompor," ucap Mauren.


Anda penyelamat saya, Nona Mauren.


Sean dan Dokter Juna merasa kecewa karena gagal mengerjai temannya.


Setelah lilin yang telah nyala itu datang, Mauren segera menancapkan lilin itu pada kue tersebut.


"Sudah Kak Kim. Make a wish," ucap Mauren menyuruh Asisten Kim meminta harapan dan berdoa.


Asisten Kim mulai berdoa, dia berdoa supaya dia selalu bahagia. Selalu diberi keselamatan dan orang-orang disekitarnya selalu dalam perlindungan Tuhan. Dia juga berdoa hubungannya dengan Lili bisa sampai menikah dan tidak terhalang oleh apapun.


Setelah selesai berdoa, Asisten Kim mulai meniup lilin yang bertuliskan angka 26 tahun.


Mauren bertepuk tangan lalu Sean dan Dokter Juna nampak biasa saja.


"Potong kuenya, Kak Kim!" perintah Mauren.


"Yang jadi pertanyaan kenapa kuenya berwarna pink?" tanya Asisten Kim.


"Karena pink adalah warna favoritku," jawab Mauren.


"Jangan banyak omong kau, Kim! Cepat potong kuenya! Aku sudah lelah sedari tadi berdiri," jawab Sean mulai kesal.


Mauren mencari pisau kuenya tetapi tidak ada, ia lalu mengumpat kepada toko online tersebut karena tidak memberikannya pisau.


"Pisaunya tidak ada, bagaimana ini?" tanya Mauren.


"Pakai alat las saja kau! Aneh-aneh sekali pakai pisau," ucap Sean kesal dengan sang istri.


Mauren lalu terduduk di ranjang, ia mulai menangis karena gagal memberikan kejutan untuk Asisten Kim. Mulai dari kuenya yang jelek, korek dan pisaunya tidak ada lalu Sean dan Dokter Juna tidak niat memberikan kejutan.


"Maafkan aku Kak Kim, aku hanya ingin memberikan kejutan yang terbaik untuk Kak Kim tetapi semua tidak sesuai rencana," ucap Mauren sambil menangis.


"Jangan menangis, Nona! Kalian sudah mengingat ulang tahun saya, saya sudah merasa senang," hibur Asisten Kim.


Mauren mengelap air matanya tetapi Sean berdecih dan memalingkan wajah karena sang istri malah menangisi pria lain.

__ADS_1


"Sudahlah Oren! Kau terlalu lebay. Mari biar ku carikan pisau di dapur," ucap Sean sambil berjalan kearah dapur Asisten Kim.


Bersambung....


__ADS_2