
Saat sampai di apartemen, kedua pasangan aneh itu nampak saling mendiamkan tidak bertegur sapa.
Sean yang sudah lelah berdebat dengan Mauren memilih diam ketimbang memperburuk suasana.
Setelah mandi Sean merebahkan diri diranjang, ia melirik Mauren yang duduk cemberut menghadap ke depan.
Sean mendekatkan wajahnya ke wajah Mauren, ia sangat gemas melihat Mauren yang marah.
Tetapi tiba-tiba Mauren menggigit hidung Sean yang sangat mancung membuat Sean terkejut lalu berteriak kesakitan.
"Aaaaww"
Sean mencubit paha Mauren membuat gadis itu melepaskan gigitannya.
Sean nampak memegangi hidungnya, ia lalu menatap kesal Mauren.
"Sudah sinting kau, ya? Sampai hidung kau gigit"
Mauren tidak menggubris ucapan Sean. Dia mendengus kesal karena Sean selalu bersikap semena-mena dengannya.
"Ayo bertengkar, Oren!"
"Ayo, Oppa!"
Sean mengunci tubuh Mauren dan ia menggelitiki tubuh Mauren membuat gadis itu berteriak kencang.
Sedangkan Asisten Kim yang mau mengetuk pintu apartemen mereka langsung terhenti ketika mendengar teriakan Mauren yang menurutnya teriakan desahan.
"Aaaaaah... Oppaaaaa... Ampun Oppaaaa... Aaaaah"
Asisten Kim menghela nafas, nasibnya begitu sial ketika mendengar sang Tuan dan mantan gebetannya itu menurutnya sedang hoho hihe padahal tidak.
Sabar Kim! Bila waktunya tiba kau pasti juga merasakannya. Tetapi dengan siapa? Batin Asisten Kim.
Pikiran kotor Asisten Kim langsung muncul, ia membayangkan jika dirinya melakukan ihik-ihik dengan seorang gadis muka buram. Dia menikmati setiap pikiran kotoran joroknya sampai ia tersadar lalu memukul pipinya sendiri dengan keras.
Plaaaak...
Sadar Kim! Bisa-bisanya berpikiran mesum. Huh! Lebih baik aku kembali ke kamarku lalu melakukan ritual di kamar mandi.
Di kamar Sean.
Nafas Mauren terengah-engah karena kelelahan berteriak. Dia memang sangat benci digelitiki sampai rasanya ia ingin mengompol.
"Uluh uluh uluh... istriku yang cantik muka berantakan. Sungguh imutnya," goda Sean melihat rambut Mauren yang acak-acakan karena dirinya.
"Aku sudah berulang kali bilang kepada Oppa jika aku tidak suka digelitiki"
"Sungguh?" tanya Sean, " Seperti ini?" lanjut Sean sambil menggelitiki Mauren.
Mauren bergelinjang tatkala Sean menggelitik perutnya dan dengan sigap Mauren terbangun dengan kuat sampai kepalanya membentur dagu Sean dengan kencang.
Duaaaaak...
"Aduh.... Awwww... Keras sekali kepala kau... Arrgghhh"
"Kualat itu Oppa. Rasakan itu!" ucap Mauren mengejek.
__ADS_1
Mereka saling menatap melampiaskan kemarahan. Mereka lalu merebahkan diri secara bersamaan dan menarik selimut. Dalam kondisi rebahan mereka saling menatap seolah sedang mengumpati satu sama lain.
Awas kau, Oren! Ku kerjai kau saat di kantor. Batin Sean.
Aku tidak takut, Oppa. Batin Mauren.
Secara bersamaan mereka membalikan badan mereka membelakangi satu sama lain dan menarik selimut mereka sampai menutupi kepala mereka.
**
Keesokan harinya.
Mauren terbangun lebih awal, ia melihat Sean masih tertidur pulas. Dia dengan langkah hati-hati berjalan menuju kamar mandi dan mandi secepat kilat lalu memakai seragam kerjanya.
Setelah selesai mandi, ia mengambil ponselnya di meja dengan hati-hati lalu berjalan pelan keluar dari apartemen.
Dan seketika itu Sean membuka matanya, ia menatap pintu yang baru saja tertutup.
Kau mau main kejar-kejaran denganku Oren? Sialan! Beraninya kau mengendap-endap, mau main Tom and Jerry kau denganku?
Sean langsung terbangun, ia cepat berganti baju lalu mengenakan jaket lalu mengambil sandal tetapi ia kurang fokus malah mengambil sandal pink berbulu milik Mauren.
Sean langsung menuju apartemen Kim dengan tergesa-gesa. Dia mengetuk pintu Asisten Kim dengan kencang membuat sang asisten terkejut.
"Ada apa, Tuan?"
"Ayo ikuti Oren! Sepertinya dia memang berselingkuh, dia keluar mengendap-endap seperti maling," ajak Sean.
"Benarkah, Tuan? Sebentar Tuan, saya akan berganti baju"
"Tidak usah! Begini saja kau," ucap Sean sambil menarik tangan Asisten Kim.
"Tuan, kunci mobilnya masih di apartemen saya, Tuan"
"Ambil cepat beg*!"
Disisi lain Mauren sudah menaiki taksi, butuh 15 menit sampai di lampu merah jalan kenanga. Setelah sampai ia menunggu di dekat ruko, ia menengok ke kanan dan ke kiri melihat si bule kopetan itu sudah datang atau belum.
"Ojek neng?"
Mauren bernafas lega, ia melihat pria menyebalkan itu sudah datang menggunakan motor ninjanya dengan helm fullface menutupi wajahnya yang tampan.
"Mana tasku?"
"Eiits... tunggu dulu! Kau tau namaku siapa?"
"Tidak tau dan tidak mau tau," jawab Mauren ketus.
"Oh ya sudah... sepertinya memang kau sudah tidak butuh tasmu," goda Arkan.
"Syahrukhan?"
Arkan mengerutkan keningnya, ia tertawa terbahak-bahak membuat Mauren kebingungan.
"Namaku Arsekan, baby. Bukan Syahrukhan"
"Oh namamu ****? Oke **** berikan tasku sekarang!"
__ADS_1
Wow! Dia benar cewek unik. Baru kali ini aku di panggil ****.
"Hari ini kau cantik sekali," puji Arkan.
Mauren semakin kesal dengan pria itu, ingin sekali Mauren memukulnya lagi.
"Kau jadi cowok jangan kegatelan!"
"Iya nih, gatel banget. Garukin dong!"
Mauren terjongkok, ia sangat kesal dan tidak menyangka ada pria yang lebih parah dari Sean.
Disisi lain, Sean memantaunya dari mobil. Sean penasaran siapakah pria tersebut karena pria itu membelakanginya dan masih mengenakan helm. Dia merem*s tangannya sendiri, ia tidak menyangka jika sang istri tega berselingkuh di belakangnya.
"Ini tasmu," ucap Arkan sambil menyodorkan plastik kresek hitam yang berisi sesuatu.
Mauren langsung berdiri, ia merebut kresek hitam itu lalu membukanya dan memang benar isinya tas mahalnya.
"Hei... bisa-bisanya tas mahalku di masukan dalam kresek hitam?" ucap Mauren kesal.
"Kenapa? Dari pada kutali dengan rafia terus kuseret menggunakan motorku menuju kesini?"
Mauren menatap kesal, ia lantas berjalan meninggalkan Arkan tetapi Arkan memegangi tangan Mauren.
"Mau kemana? Ayo cari sarapan dulu! Kau belum makan 'kan?" ucap Arkan.
"Lepaskan! Aku terburu-buru berangkat kerja"
"Ini pun masih jam 6 lebih 15 menit dan kantormu masuk jam 8 'kan?"
Di dalam mobil, Sean semakin geram melihat mereka seakan bergandengan tangan. Dia mengutuk Mauren supaya terjatuh karena semakin kesalnya kepada sang istri.
Dan di saat bersamaan Mauren mencoba mendorong Arkan tetapi tangan Arkan yang masih memegangi Mauren membuat Mauren malah jatuh di pelukan Arkan yang bersandar pada motornya.
"Aaaaaaargggh... kenapa mereka berpelukan, Kim? Bangs*t!" umpat Sean kesal sambil mengacak rambutnya.
"Ucapan adalah doa, Tuan. Anda mendoakan Nona Mauren terjatuh dan akhirnya terjatuh juga," jawab Asisten Kim santai.
"Tapi tidak jatuh di pelukan pria itu juga, bangs*t!"
Sean semakin frustasi melihat pemandangan sial itu. Mulutnya terus mengumpati Mauren yang sangat tega melakukan itu kepadanya.
Disaat itu, Mauren langsung berlari meninggalkan Arkan, ia langsung masuk ke dalam angkot yang kebetulan lewat.
Arkan tersenyum, ia sangat terpukau dengan sifat unik Mauren.
Tetapi matanya teralihkan ketika melihat sebuah satu anting tergeletak di bawah kakinya. Dia langsung mengambil anting itu.
"Apakah ini miliknya? Haha bisa buat alasan lagi untuk bertemu dengan gadis lucu itu," ucap Arkan senang.
Dia langsung menaiki motornya dan disaat itu juga Sean mengikuti Arkan dari belakang.
Arkan tidak sadar jika ada mobil yang mengikutinya, ia melajukan motor sangat kencang dan masuk ke gang membuat Sean kehilangan jejak pria misterius itu.
"Sialan kau, Kim! Menyetir saja tidak becus. Lihatlah kita kehilangan jejaknya!" ucap Sean kesal.
"Maaf, Tuan. Dia melajukan motornya begitu kencang"
__ADS_1
"Payah kau, Kim. Kau bilang kau seorang pembalap. Cih! Tidak berguna kau"