Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 195 - Test pack


__ADS_3

Nanti di novel baru ku memang bertema mafia psycopat, action, komedi guling-guling dan romantis.


Jadi saat ini aku memang bercerita saat masa kecil Seina dan Daleon.


Aku akan ceritain semua sifat aneh yang dipunyai Daleon.


Yang gak tau psycopat bisa cari di google, banyak penjelasannya.


Novel terbaruku tentu masih banyak komedinya ditambahkan adegan menegangkan karena menceritakan kisah hidup mafia, gangster dan psyco.


Bakal lebih seru ceritanya yang pasti bikin ngakak, sedih, romantis, kesel, serem jadi satu.


Semoga kalian gak berhenti baca karna bakal ada adegan ngeri.


Kalo kalian pernah baca karya tentang mafia pasti taulah gambarannya kek apa.


Thank you.


****


"Dokter, aku mau menghampiri Daleon dulu di kamar, dia masih pegang cutter," ucap Mauren.


Sambil memegang tangannya yang terluka, Mauren berjalan masuk ke kamar dengan diikuti Dokter Juna.


Mauren melihat Daleon menangis sambil memegangi cutter.


"Daleon sayang, mama minta cutternya?" ucap Mauren sambil berjalan pelan menahan perih di tangannya.


"Jangan dekat Dale, mah. Dale melukai mama," ucap Daleon sambil menangis.


Dokter Juna mendekati Daleon dengan pelan lalu berhasil merebut cutter yang di pegang Daleon.


"Jangan main benda tajam, Daleon. Nanti orang di sekitarmu akan terluka," ucap Dokter Juna.


Daleon menangis lalu di gendong Dokter Juna. Dokter Juna menenangkan Daleon sedangkan Mauren menghela nafas karena akhirnya Daleon tidak membawa benda tajam itu.


Mauren melirik Seina yang dari tadi dibelakangnya. Gadis manis itu cukup trauma dengan apa yang ia lihat.


Setelah Daleon terdiam, Dokter Juna segera menjahit lengan Mauren.


Seina tak hentinya menangis melihat sang mama di jahit.


"Sheren ajak Daleon di depan kolam saja ya, mama gapapa kok. Jangan khawatir!"


"Tapi ma..."


Karena Seina tidak bisa melihat tangan sang mama di jahit akhirnya memutuskan mengajak Daleon di depan kolam renang. Sempat ada rasa takut dekat dengan Daleon tetapi ia tepis dan menganggap semua itu ketidaksengajaan.


"Dale mau disini, nemenin Mama. Maafin Dale, maaa...," ucap Daleon.


"Ayo Dale! Kita main di depan kolam," ajak Seina.


Daleon tidak mau, ia melihat sang mama di jahit sedangkan Seina tidak berani melihat dan memalingkan wajah.


Daleon menangis melihat mamanya terluka karena dirinya.


"Ma, Sheren udah telpon papa. Katanya papa akan pulang," ucap Seina.


"Mama 'kan udah bilang jangan bilang papa. Papa sedang kerja"


"Tapi mama terluka parah, Sheren gak tega melihat mama berdarah-darah"


Mauren menghela nafas, dia yakin pasti Sean sangat khawatir dengannya. Apalagi kini ia berada di kota sebelah untuk memantau proyeknya.


Setelah setengah jam Dokter Juna menjahit lengan Mauren akhirnya selesai juga. Dokter Juna mengatakan sebentar lagi pasti efek obat biusnya akan segera hilang dan pasti timbul rasa nyeri. Dia meresepkan obat untuk di tebus ke apotek supaya luka itu cepat mengering.


"Dale tidak boleh main benda tajam lagi ya? Kasian mama," ucap Dokter Juna.

__ADS_1


Daleon menganggukan kepala lalu Dokter Juna berpamitan untuk pulang.


Mauren mengantar Dokter Juna sampai di depan pintu, setelah memastikan Dokter Juna keluar ia kembali ke dalam.


Mauren tersenyum ketika anak-anaknya mengkhawatirkannya.


"Dale minta maaf ma," ucap Daleon.


"Iya, gapapa sayang. Jangan diulangi lagi ya!"


Mauren lalu mengajak anaknya untuk tidur di kamarnya dan Seina mulai merengek karena boneka babinya rusak.


Seina juga bilang yang merusakan bonekanya juga Daleon.


"Nanti mama jahit ya, sudah kalian bobok siang saja," ucap Mauren.


Mereka tidur bersebelahan dan seperti biasa Mauren mendongengkan kisah untuk mereka sebelum tidur.


Kejadian hari ini pasti membuat mereka sangat syok, apalagi Daleon yang tidak sengaja melakukan itu.


Aku sempat berpikir jika Dale sedikit berbeda, tapi aku tidak mau membuat diriku ketakutan sendiri.


Daleon normal seperti yang lainnya.


Setelah mendongengkan selama 10 menit mereka berdua tertidur. Mauren kini bisa ikut beristirahat. Dia melihat tangannya yang di jahit cukup panjang.


Jika Sean tahu pasti akan sangat marah.


Mauren teringat jika hari ini sudah sebulan tidak datang bulan. Mauren beranjak dari tempat tidur dan mengambil test pack di laci.


Dia melangkah ke kamar mandi dengan mantab. Dia berharap ia memang hamil setelah sekali keguguran lagi saat Daleon berumur 2 tahun.


Mauren melakukan apa yang harus di lakukan dan beberapa menit kemudian keluar hasilnya. Dia sangat terkejut, dua garis merah tergambar di alat tersebut.


Dia menitikan air mata karena terharu akhirnya ia bisa hamil lagi di umurnya yang akan menginjak usia 25 tahun.


Pasti oppa akan senang dan semoga tidak keguguran lagi. Aku harus berhati-hati.


Mauren merebahkan dirinya di ranjang dan terlelap di alam mimpi di siang bolong ini.


3 jam kemudian.


Sean berjalan panik memasuki apartemen, sedari tadi ponsel Mauren tidak aktif membuatnya semakin panik.


Saat di telpon Seina, Seina hanya bilang jika Daleon melukai mamanya sampai berdarah-darah. Sean yang baru sampai di kota sebelah langsung memutuskan untuk terbang lagi kembali ke kotanya.


Sampai ia menggunakan pesawat komersil bukan pesawat jet miliknya. Karena jadwal penerbangan harus di atur terlebih dahulu dan tidak bisa mendadak.


Sean masuk ke dalam kamarnya dan melihat Mauren dan Daleon masih tertidur sedangkan Seina sudah terbangun.


"Papa...," ucap Seina.


"Mauren, bangun sayang!"


"Ma... bangun ma! Papa pulang," ucap Seina membangunkan mamanya.


Mauren membuka mata lalu terkejut melihat suaminya sudah berada di depannya.


Sean melihat tangan Mauren beserta bekas jahitannya.


"Apa ini perbuatan Dale?" tanya Sean.


"Dale tidak sengaja, oppa"


Sean memeluk Mauren, kecemasan tentang Daleon akhirnya terjadi juga.


Bocah berusia hampir 5 tahun itu sangat spesial. Saking spesialnya ia di pantau oleh psikiater.

__ADS_1


"Oppa kenapa pulang?" tanya Mauren sambil melepas pelukannya.


"Aku mengkhawatirkanmu, Oren"


Seina lalu memeluk Sean, ia tadi sangat ketakutan.


"Papa jangan pergi jauh-jauh! Sein takut," ucap Seina.


"Sein jangan takut! Papa akan segera pulang jika terjadi apa-apa dengan kalian," ucap Sean.


Sean melihat Daleon yang masih tidur pulas. Daleon memang belum dinyatakan psyco tetapi ia sudah merasa jika Daleon mempunyai perbedaan dari anak lain.


Sebelum terlambat, ia harus mencegahnya.


***


Sore ini Sean menemani Daleon bermain, ia tidak membahas masalah tadi. Kini mereka mulai menyimpan benda-benda yang membahayakan supaya tidak mudah di jangkau anak-anaknya.


"Dale mau main hape, pah," ucap Daleon.


"Tidak boleh, kita main ular tangga saja. Jika kalian menang maka papa akan kasih uang 50 ribu buat kalian," ucap Sean.


"Sedikit sekali, pah? Sein minta mamah aja di kasih 200 ribu," ucap Seina.


"Uang banyak-banyak untuk apa kalian?" ucap Sean.


Seina mendengus, ia sudah tahu jika sang papa sangat pelit. Bahkan dia tidak pernah meminta uang kepada papanya.


"Pa... Seina besok di suruh nyanyi sama bu guru"


"Seina 'kan pintar bernyanyi, tunjukan bakat menyanyimu," ucap Sean.


"Pa... kalo Sein sudah besar mau jadi artis terkenal"


"Untuk apa? Kau bantu urus perusahaan papa saja"


Seina menggelengkan kepalanya. Dia bersikeras ingin menjadi seorang artis.


Sean menciumi gemas pipi Seina sedangkan Daleon seolah iri dengan sang kakak.


"Dale juga pengen di cium papa," ucap Dale.


"Papa mau cium Dale tapi Dale jangan nakal!"


Daleon menganggukan kepala, Sean langsung mencium Daleon bertubi-tubi.


Daleon merasa kegelian hingga berteriak.


Mauren yang mengintip mereka sangat tersentuh. Sean begitu sangat menyayangi mereka.


Mauren memegangi perutnya, ada janin yang bersarang di perutnya saat ini.


Dia lalu berjalan menghampiri mereka lalu terduduk di sebelah Sean.


"Papa... aku punya kado buat papa," ucap Mauren kepada Sean.


Sean menatap Mauren lalu melihat sebuah kotak kecil yang disodorkan oleh Mauren.


"Apa ini?" tanya Sean.


"Buka saja!"


Sean membukanya, ia sangat terkejut saat melihat test pack yang menandakan bahwa sang istri sedang hamil.


Sean menatap Mauren, ia memang merasa bahagia jika Mauren hamil lagi tetapi ia cukup khawatir dengan keadaan Mauren yang di paksa untuk hamil.


Sean sudah kehilangan 3 janinnya. Dia cukup trauma akan hal itu. Maka dari itu ia mewanti kepada Mauren supaya tidak hamil lagi.

__ADS_1


"Kita selalu berusaha dan kita selalu berdoa supaya Tuhan memberi kesehatan pada bayi kita sampai lahir nanti," ucap Mauren.


Sean memeluk Mauren. Kegigihan Mauren supaya bisa memiliki keturunan memang patut diacungi jempol. Bahkan Sean masih mengingat saat Mauren melahirkan Daleon, Sean sampai menangis ketika sang istri tak henti merintih kesakitan dan saat itulah Sean berjanji tidak akan menyakiti Mauren ataupun Mama yang melahirkan Sean.


__ADS_2