
Sean dan Mauren sedang menikmati bulan madu mereka sedangkan Asisten Kim mengambil alih perusahaan selagi sang tuan pergi.
Asisten Kim adalah orang paling di percaya oleh Sean. Buktinya, Sean dengan santai meninggalkan perusahaannya di tangan Kim.
"Kim?" ucap Dasha membuka pintu ruangannya.
"Bisakah anda mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Asisten Kim.
Dasha tertawa, ia lalu mendekati Asisten Kim. "Jangan begitu! Haha... Asyik sekali Sean berbulan madu ketika saham perusahaannya merosot"
"Itu bukan urusan anda, anda disini hanya menjadi supir nona Mauren dan tidak boleh mencampuri urusan perusahaan," ucap Asisten Kim.
Dasha tersentak mendengar ucapan Asisten Kim. Dia kesal kepada pria yang lebih muda darinya itu.
"Pantas saja semua orang membencimu, kau terlalu angkuh. Apa bagusnya dirimu sampai menjadi asisten Sean bertahun-tahun?" ucap Dasha.
"Tanyakan pada Tuan Sean sendiri!"
Dasha berdecih lalu meninggalkan ruangan Asisten Kim.
Awas kau, Kim! Aku akan membuat Sean membencimu dan memecatmu. Batin Dasha.
Disisi lain, Sean dan Mauren sudah sampai di Korea setelah melakukan penerbangan dari Thailand.
Mauren ingin sekali datang ke Korea. Dia sangat penasaran dengan negeri ginseng itu.
Dalam perjalanan ke hotel, Sean mendapat kabar dari Dasha jika Asisten Kim korupsi dan mengambil uang perusahaan sangat banyak.
Dasha juga meyakinkan Sean untuk segera memecat Asisten Kim yang kini patut dicurigai akan menguasai perusahaan selagi Sean tidak ada disana.
Kim tidak mungkin melakukan itu. Aku sudah mengenalnya lama.
Sean tidak ingin masalah itu mengganggu pikirannya. Dia menyimpan ponselnya lalu membuang pikiran kotornya tentang sang asisten.
"Oppa?"
"Apa?" jawab Sean sedikit kaget.
"Oppa mikirin apa?"
"Tidak apa-apa"
Mauren masih memandang wajah Sean, ia melihat wajah Sean sangat gusar.
Ponsel Sean berbunyi lagi, ia segera membukanya. Ternyata Dasha mengirim laporan tentang penyelewengan dana terhadap Asisten Kim dan jelas-jelas Asisten kim sengaja memasukan uang milyaran ke rekening pribadinya.
Apa ini? Kim tidak mungkin melakukan ini.
"Oppa?"
Sean terkejut lagi lalu tersenyum, ia tidak ingin merusak bulan madunya hanya karena masalah perusahaan.
__ADS_1
"Oh kita sudah sampai. Ayo turun!" ucap Sean mengalihkan suasana.
Mereka kini ke pulau Jeju dan menyebrang menggunakan kapal.
Di dalam kapal Sean masih termenung memikirkan hal tadi. Bisa-bisanya sang asisten mengkhianatinya.
Sedangkan Mauren asyik berfoto tidak menghiraukan Sean yang sedang melamun.
Setelah pulang dari bulan madu aku akan menanyakan ini kepada Kim langsung. Kenapa dia tega mengkhianatiku?
Setelah sampai di pulau Jeju mereka berjalan-jalan mengikuti arahan tour guide. Sean yang berpikiran dengan pengkhianatan sang asisten dan Mauren yang berpikiran tentang Arseina membuat bulan madu di Korea ini merasa hampa karena tidak fokus ke bulan madu mereka.
Apalagi saat Mauren mendapat kabar dari emaknya jika Seina sakit demam dan rewel semalaman.
"Oppa?" ucap Mauren ingin memberitahukan jika ia sudah mengadopsi bayi itu tetapi tiba-tiba Sean malah bercerita duluan.
"Oren, kau percaya jika Kim akan mengkhianatiku?" tanya Sean.
Mauren mengerutkan dahi, ia masih belum paham maksud pembicaraan Sean.
"Kim korupsi hampir 10 milyar, aku tidak percaya dengan hal itu tetapi saat aku mengecek data dari para bawahanku ternyata itu memang benar jika Kim melakukan korupsi," jelas Sean. "Maaf jika aku merusak suasana bulan madu kita," sambung Sean.
Mauren masih tidak percaya dengan ucapan Sean. Asisten Kim korupsi? Itu sangat tidak mungkin. Apalagi Asisten Kim terkenal sebagai seorang asisten yang jujur.
"Aku tidak mempermasalahkan nominalnya tetapi kepercayaanku kepadanya selama ini merasa terkhianati," lanjut Sean.
Mauren menepuk bahu Sean, ia memberikan semangat untuk sang suami yang masih syok karena pengkhianatan sang asisten.
Sean tersenyum lalu mengajak fokus untuk bulan madu kali ini dan melupakan semua masalah sejenak.
Angin sepoi-sepoi menerpa rambut mereka apalagi Mauren nampak asyik berfoto selfi dengan latar belakang laut yang begitu indah.
Sedangkan Sean malah duduk di pinggir pantai memperhatikan sang istri tengah sibuk berfoto selfi.
Mauren memperhatikan Sean lalu menghampirinya.
"Oppa, kita kembali ke hotel saja yuk!" ucap Mauren melihat Sean begitu sedih.
"Kenapa, Oren? Jangan pedulikan aku! Nikmatilah selagi kau berada disini," ucap Sean.
"Untuk apa aku menikmati jika Oppa sedang bersedih begini. Ayo kita istirahat di hotel saja sampai besok setelah itu langsung ke Paris," ajak Mauren.
Sean menganggukan kepala, ia merasa tidak enak dengan Mauren yang telah merusak bulan madu mereka.
Yang tadinya ada jadwal jalan-jalan sampai malam kini mereka kembali ke hotel dan memutuskan istirahat disana sampai besok.
Di dalam mobil Sean terdiam, membuat Mauren khawatir. Dia tahu rasanya dikhianati oleh seseorang membuat ia tahu kesedihan Sean.
"Kenapa oppa tidak menelpon Kak Kim langsung?" tanya Mauren.
"Percuma saja, masalah ini tidak bisa di jelaskan lewat telepon," jelas Sean.
__ADS_1
"Oppa jangan sedih. Atau kita pulang saja?"
"Jangan Oren! Jangan korbankan bulan madu kita! Cukup hari ini saja kita berdiam diri di hotel, besok kita mulai lagi ke Paris. Aku janji tidak akan merusak suasana bulan madu kita," ucap Sean.
Mauren tersenyum lalu memeluk Sean. Tak masalah jika bulan madunya terganggu yang terpenting suasana hati Sean harus baik lebih dahulu.
Waktu menunjukan pukul 12 siang, setelah sampai hotel mereka segera menyantap makan siang lalu setelah itu istirahat di dalam kamar hotel.
Setelah berada di kamar hotel, Sean langsung merebahkan diri di ranjang. Dia berusaha tidur tetapi ia tidak bisa.
Pikirannya semakin kacau memikirkan temannya yang tega merusak kepercayaannya.
"Oppa?" ucap Mauren.
"Ya"
"Aku tidak begitu mengenal Kak Kim tetapi ku rasa Kak Kim tidak mungkin melakukan itu," ucap Mauren.
"Kau membelanya?"
Mauren tersentak mendengar ucapan Sean. "Bukan begitu oppa, ini hanya pemikiranku saja"
"Kau tidak ingat saat Kim menciummu dibelakangku? Bukankah itu sudah bisa membuktikan jika Kim bisa melakukan pengkhianatan?" tanya Sean menatap tajam Mauren.
Mauren tidak bisa berkata-kata. Memang yang di ucapkan Sean benar, ia juga merasa bersalah ketika terlibat pengkhianatan itu.
"Tapi itu sudah lama, oppa. Kami pun tidak sengaja dan sudah meminta maaf kepada Oppa. Oppa kenapa sensitif begini? Apa yang membuat oppa jadi begini?"
"Aku hanya ingin kau jujur. Aku tidak ingin pengkhianatan. Kau dan Kim adalah orang terpenting di hidupku"
Mauren memeluk Sean, ia bisa melihat sang suami cukup trauma dan takut adanya pengkhianatan. Sean membalas pelukan Mauren, ia menumpahkan semua kesedihannya. Apalagi ia sekarang tahu jika Kim sedang melakukan korupsi di perusahaannya.
Sean sangat mempercayai Kim. Kim adalah sahabatnya dari remaja.
Sean lalu melepas pelukannya dan menyuruh Mauren memasak sesuatu untuk di makan.
Mauren tersenyum. Mereka akhirnya ke dapur bersama.
Mereka memasak bersama, Sean membuka kulkas yang berisi makanan segar yang belum di masak.
"Kita masak daging saya, aku ingin makan daging," ucap Sean.
"Baiklah, oppa. Aku akan menyiapkan bumbunya"
Mauren mengiris bawang dan cabai beserta sayuran pelengkapnya. Sedangkan Sean mencuci daging supaya lebih bersih.
"Oppa? Jangan dipikirkan! Aku tidak mau bulan maduku hancur karena masalah pekerjaan"
"Semakin aku ingin tidak mengingatnya maka semakin tergambar jelas ingatan itu. Aku merasa sakit hati jika Kim tega melakukan itu," ucap Sean sambil membersihkan dagingnya.
Mauren meletakan pisaunya, ia mencuci tangan lalu memeluk Sean.
__ADS_1
"Aku akan selalu ada di sampingmu, oppa. Aku akan tetap selalu menyemangatimu. I love you," ucap Mauren.