
Setelah mendapat telepon dari Asisten Kim, Daren segera merapikan mejanya dan bergegas menuju ruangan Sean. Dia berjalan dengan santai sesekali mengajak tersenyum kepada pegawai yang lewat di depannya.
"Tuan Sean memanggilku?" tanya Daren kepada Asisten Kim.
"Iya, masuklah! Tetapi jangan sampai membantah apa yang Tuan Sean katakan," ucap Asisten Kim.
Daren lalu mengetuk pintu ruangan Sean terlebih dahulu, setelah diizinkan masuk iain langsung membuka pintu dan melangkah dengan santai di hadapan Sean.
Terlihat di meja Sean terdapat setumpuk dokumen penting yang siap dikerjakan oleh Daren.
"Tuan Sean memanggil saya?" tanya Daren dengan sopan.
Sean menatap tajam lekat wajah Daren, ia memperhatikan dari ujung rambut dan ujung kaki. Pria blasteran itu memang tampan tetapi bagi Sean dirinya lah yang paling tampan.
"Berapa hari kau kerja disini?"
"3 hari Tuan"
"Tidak tanya," jawab Sean masih menatap lekat wajah Daren.
Daren hanya mengerutkan dahi, ia tidak mau membantah ucapan Sean. Entah kenapa tengkuk lehernya menjadi merinding ketika Sean menatapnya, ia sudah mendengarkan jika Sean di rumorkan pria gay. Itulah sebabnya ia tidak berani menatap mata Sean.
"Kerjakan ini semua! Aku ingin hari ini selesai, aku tidak mau tau. Dan juga kau harus keliling ke cabang perusahaan Young Group untuk meminta tanda tangan ke petinggi masing-masing perusahaan cabang Young Group," jelas Sean.
"Tapi Tuan untuk meminta tanda tangan bukan pekerjaan saya," bantah Daren.
"Apa kau bilang?" ucap Sean sambil menggebrak meja.
"Maaf Tuan. Saya akan lakukan yang Tuan pinta," ucap Daren panik karena telah membantah Sean.
Sean lalu mengibaskan tangan untuk menyuruh Daren pergi. Daren dengan cepat membawa setumpuk berkas lalu berpamitan dengan Sean, tetapi Sean seolah cuek.
Daren berjalan menuju pintu tetapi saat tepat di depan pintu seseorang membuka pintu dengan keras membuat kepala Daren terbentur dan berkasnya terjatuh ke lantai.
"Aaaw...," ucap Daren kesakitan.
Seseorang yang membuka pintu itu adalah Mauren, dengan sigap ia refleks memegang kepala Daren yang nampak memerah, ia mengambil plester di saku roknya dan menempelkan pada dahi Daren. Sedangkan mata Sean terbelalak melihat istrinya perhatian dengan pria lain.
Setelah memplester dahi Daren, ia membantu mengambil berkas yang berserakan di lantai lalu tak sengaja tangan mereka saling bertemu dan wajah mereka saling memandang membuat Sean semakin marah.
Sean yang sedari tadi duduk di kursi direkturnya dengan sigap berdiri lalu berjalan kearah Mauren dan Daren. Sean langsung menendang berkas itu saat di pegang oleh mereka yang sedang saling bertatapan.
"Brengs*k kalian! Ini bukan FTV beg*. Bisa-bisanya kalian melakukan itu di hadapanku," ucap Sean sangat marah.
Mauren dan Daren segera mengambil berkas itu kembali setelah terkumpul Daren segera keluar dari ruangan neraka itu. Sedangkan Mauren berjalan menunduk melewati Sean yang melototinya.
Sean segera duduk di kursi termahalnya dengan Mauren di hadapannya yang menunduk.
"Tuan tadi mengataiku brengs*k dan beg*, Tuan harus memberiku 200 ribu!"
"Persetan dengan 200 ribu. Disini aku bosnya dan kau pegawaiku. Aku harus profesional disini," ucap Sean.
Profesional? Huh! Bahkan dia sering meminta jatah kepadaku di kantor ini.
__ADS_1
Entah kenapa kali ini Mauren merasa takut dengan Sean. Bahkan ia tidak berani menatap wajah Sean yang marah, ia tahu kejadian di lift dan barusan membuat Sean marah.
"Mundur kau 10 langkah!"
Mauren menuruti ucapan Sean, ia mundur 10 langkah.
"Kau mundur baru 9 langkah. Coba maju kedepan dan ulangi lagi dari awal!"
Mauren menghela nafas, ia melakukan apa yang disuruh Sean. Kali ini ia menghitung dengan benar sampai 10 langkah.
"Mundur 5 langkah lagi!"
Mauren segera mundur 5 langkah.
"Mundur lagi 5 langkah!"
"Hey Tuan. Kenapa dari awal tidak bilang mundur 20 langkah saja?" tanya Mauren kesal.
Sean menatap tajam Mauren, Mauren menutup mulutnya dan menundukan kepala. Dia kali ini tidak mau berdebat panjang dengan Sean, lalu ia mundur 5 langkah lagi sampai badannya terpentok lemari.
"Geser 3 langkah ke kanan!"
Sean melotot karena Mauren malah geser ke kiri.
"Kanan bodoh bukan kiri," ucap Sean marah.
Mauren menghela nafas lalu ia geser ke kanan seperti yang Sean minta.
"Balik kanan kau!" ucap Sean.
"Tatap fotoku sampai jam istirahat tiba! Cermati dan pahami jika aku lah yang paling tampan di perusahaan ini!" ucap Sean tidak main-main.
Mauren mengerutkan dahi, ia menuruti perintah Sean. Dia melihat foto-foto Sean yang sangat tampan, saking tampannya membuat Mauren mengantuk.
Setengah jam kemudian.
Rasa pegal terasa di kaki Mauren, sudah setengah jam ia berdiri melihat foto suaminya sampai ia merasa bosan. Apalagi ia hari ini memakai sepatu hak tinggi membuat kakinya tidak tahan untuk berlama-lama berdiri.
Uuuuuh... Hal yang ku takuti terjadi juga. Celana dalamku masuk ke celenganku.
Tidak mungkin aku membetulkannya disini apalagi di belakang ada Oppa.
Rasa mengganjal dirasa membuat tidak nyaman, ia tidak tahan dengan semua itu dan pada akhirnya ia berani membetulkannya dengan benar. Toh orang dibelakangnya adalah suaminya sendiri.
Sedangkan Sean yang dari tadi menatap laptop tiba-tiba melihat Mauren yang tangannya sedang masuk ke dalam roknya.
Aaah... lega rasanya. Batin Mauren setelah membetulkannya.
"Kenapa kau memakai rok ketat itu lagi? Aku 'kan sudah membelikanmu rok baru," ucap Sean.
"Rok yang dibelikan Tuan kepanjangan. Aku tidak suka," jawab Mauren yang masih menghadap membelakangi Sean.
"Lihatlah! Pant*t mu begitu terlihat menonjol"
__ADS_1
"Aaaaaaw... Tuan sangat mesum," ucap Mauren sambil menutupi pant*tnya dengan kedua tangan.
"Suka sekali kau memamerkan tubuhmu. Aku tidak suka kau membuat ular-ular diluar sana terbangun. Aku tidak mau tau besok kau harus memakai rok yang telah ku belikan," ucap Sean terlihat marah.
Mauren tidak mau berdebat, ia mengiyakan omongan Sean. Setelah itu mereka terdiam, Sean melanjutkan pekerjaannya dan Mauren menatap foto Sean sambil mengantuk.
Tangannya bersedekap lalu ia tidak sengaja menyentuh sebuah spidol hitam di saku seragamnya. Pikiran nakalnya menyeruak dan ia memandangi foto Sean di depannya lalu terjadilah keisengan itu.
Nah, seperti ini 'kan jauh lebih tampan. Batin Mauren sambil menyoret wajah Sean di foto tersebut.
"Oren?"
Mauren terkejut dengan cepat menyimpan spidol itu.
"Iya Tuan"
"Buatkan kopi!"
Dengan langkah malas Mauren menuju ke alat pembuat kopi yang berada di ruangan itu.
Dia membuatnya dengan senang dan tersenyum sendiri membuat Sean mengerutkan dahi.
"Ini Tuan. Silahkan diminum!" ucap Mauren tersenyum.
Sean yang masih terduduk di kursi direkturnya segera menyeruput kopi hitam itu tetapi ia langsung menyemburkan kopi itu karena sangat pahit.
"Kenapa pahit sekali?" tanya Sean sambil mengelap lidahnya dengan jarinya.
"Tuan tinggal melihat wajah saya yang manis," ucap Mauren tersenyum puas.
Mendengar ucapan Mauren, Sean menyeruput lagi kopi itu sambil menatap wajah Mauren yang tersenyum lebar.
"Benar. Kopi ini menjadi manis ketika meminumnya sambil melihat wajahmu. Tapi aku ingin tahu apakah kopi ini akan manis jika kau meminumnya sambil melihat wajahku yang tampan ini? Cobalah!"
Mauren menolak, tetapi Sean memaksanya dan mengancam akan memotong gaji Mauren jika berani membantah apa yang di suruhnya.
Mauren meminumnya dengan pelan, rasa pahit mendominasi pada lidahnya. Bahkan ia ingin sekali muntah.
"Apakah manis?"
"Manis Tuan," jawab Mauren terpaksa.
"Kembali ke tempatmu lagi!"
15 menit kemudian.
Mauren menghadap foto Sean yang sudah ia coret-coret. Kakinya makin pegal dan perutnya terasa tidak enak setelah meminum kopi pahit itu.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu lalu Mauren melirik yang ternyata adalah Sekertaris Yuna datang dengan beberapa dokumen yang harus di tandatangani.
Sekertaris Yuna juga melirik Mauren, ia seolah bingung kenapa Mauren berdiri diam di depan lemari.
Terlihat Sean menunjukan wajah cuek dan dingin kepada Sekertaris Yuna bahkan ia tidak berucap satu kata pun. Sean hanya menjawab dengan anggukan kepala lalu mengibaskan jemari tangannya untuk menyuruh Sekertaris Yuna keluar.
__ADS_1
Setelah Sekertaris Yuna keluar, Mauren memberanikan diri berbicara dengan Sean.
"Sekertaris Yuna cantik sekali ya? Tubuhnya bagus, idaman para lelaki. Dadanya sangat wow membuat yang memandang tidak mengedipkan mata. Dia juga pandai. Tuan tidak menyukainya?"