
Setelah mereka berkonsultasi, mereka mampir di ruangan Dokter Juna.
Mereka bisa melihat wajah Dokter Juna sedih dan tiba-tiba terkejut melihat pasangan aneh itu sudah berada di depannya.
"Kenapa kau sampai kaget melihat kami?" tanya Sean sambil terduduk di sofa ruangan itu.
"Kalian tiba-tiba muncul membuatku kaget saja"
"Buatkan kopi!"
"Kau pikir disini warung kopi?"
Sean menatap tajam ke arah Dokter Juna lalu pria itu menghela nafas dan memilih mengalah ketimbang harus berdebat dengan Sean si pria sinting.
Dokter Juna membuatkan kopi favorit Sean dengan takaran gula yang tidak terlalu manis.
"Kau mau kopi juga, Mauren?" tanya Dokter Juna.
"Es teh saja, Dok"
"Kau pikir ini warung?"
"Iya... iya... aku mau kopi, Dok. Gulanya 3 sendok dengan takaran cinta dan jangan lupa diaduk 32 kali supaya gulanya benar-benar larut," jelas Mauren.
Dokter Juna mengelus dadanya, sepertinya pasangan itu sungguh aneh dan sangat kompak dalam kebegoan mereka.
Setelah membuatkan kopi, Dokter Juna memberikan kopi itu kepada mereka.
"Di tambah pisang goreng pasti enak," ucap Mauren asal.
"Ini ruangan dokter bukan cafe, aneh-aneh sekali kau Mauren," ucap Dokter Juna marah.
"Sialan kau! Kenapa kau memarahi istriku? Mau mengajakku bertengkar kau?" ucap Sean tidak terima jika istrinya dimarahi oleh orang lain.
Mauren menghentikan Sean yang akan berdiri seolah ingin mengajak Dokter Juna bertengkar. Dokter Juna berdecih, ia langsung duduk di seberang mereka.
Sean menatap Dokter Juna, ia bisa membaca jika Dokter Juna sedang marah pasti mempunyai masalah.
"Kenapa kau Juna? Ada masalah apa?" tanya Sean.
"Aku sedang galau, Sean. Istriku mengirimkan surat gugatan cerai"
"Itu pasti gara-gara kau mata keranjang dan selingkuh di belakangnya," jawab Sean sambil menyeruput kopinya.
"Mana ada aku berselingkuh? Justru Anita yang selingkuh. Aku tidak habis pikir dengannya, kenapa dia tega dengan ku?"
Sean berdiri, ia mendekati Dokter Juna yang terduduk di seberangnya. Dia langsung memeluk teman terdekatnya itu dan saat itu juga Mauren merasa terharu karena Sean yang kasar dan arogan ternyata bisa memiliki hati hello kitty.
"Aku akan mendukung keputusanmu Juna, jika bisa pertahankan rumah tanggamu dan jika tidak bisa, maka lepaskanlah dia dari pada menyakiti perasaanmu," ucap Sean sambil memeluk Dokter Juna.
"Tumben kau pintar, Sean?" ejek Dokter Juna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arkan termenung di depan bengkelnya, ia masih kecewa gadis yang di sukainya adalah istri dari kakak tirinya.
__ADS_1
Sungguh sangat menyesakkan, apalagi ia takut sang kakak semakin membencinya.
Dia mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada Sean jika ia meminta maaf karena sudah mendekati kakak iparnya. Ya... walaupun Sean tidak akan membalasnya yang terpenting dia sudah berusaha meminta maaf.
"Gaes... aku mau beli minuman, kalian mau?" tanya Arkan kepada para pegawainya.
"Jika di traktir bos ya maulah"
"Iya bos, traktir dong bos!"
"Oke," jawab Arkan singkat.
Arkan memakai jaket dan helmnya lalu berjalan kearah motornya. Dia lalu teringat jika ia masih memiliki hutang kepada Mauren saat ia di traktir makan malam kemarin.
Arkan
Kakak ipar, nanti malam bisa bertemu atau tidak? Bersama Bang Sean juga gapapa. Aku mau membayar makanan kemarin, aku tidak mau berhutang budi.
Mauren
Tidak usah. Aku ikhlas
Oh btw... kau sepupunya Oppaku?
Oppaku? Apa yang dimaksud Bang Sean? Manis sekali panggilannya. Batin Arkan.
Arkan
Hemm... aku adik tirinya Bang Sean.
Mauren
Ada hal yang ingin aku tanyakan tentang kalian. Bye.. aku mau lanjut kerja lagi.
Arkan mengerutkan dahi, ia lantas naik diatas motornya dan menuju ke sebuah kedai minuman. Tetapi saat perjalan ke cafe ia melihat Mama Sean berdiri di pinggir jalan seolah sedang menunggu seseorang.
Arkan langsung menghentikan motornya lalu turun dan melepaskan helmnya.
Mama Sean terkejut melihat Arkan yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Selamat pagi, Tante"
"Kau"
"Tante sedang apa disini?" tanya Arkan dengan sopan.
"Beraninya kau muncul di hadapanku. Kau tidak tau malu, Arkan?"
"Kenapa saya harus malu, Tante?"
"Haha... anak ini bergurau? Setelah Ibumu menjalin hubungan dengan suamiku dan sampai kau lahir didunia ini membuat Sean harus berpisah dengan Papanya. Dan parahnya lagi suamiku malah lebih menyayangimu ketimbang Sean"
"Maaf, Tante. Kenapa kalian semua menyalahkan saya? Saya tidak tahu apa-apa tentang itu"
Mama Sean tersenyum kecut, ia membisikan kalimat menyakitkan di telinga Arkan membuat pria itu merasakan sakit hati yang luar biasa.
__ADS_1
"Sekalinya anak haram tetap anak haram. Dan jangan harap kau mendapatkan marga Adinata di nama belakangmu! Karena itu sangat tidak mungkin," ucap Mama Sean berbisik sambil menepuk bahu Arkan.
Arkan terdiam mematung seolah terhipnotis dengan kalimat mematikan itu. Sedangkan Mama Sean mulai berjalan meninggalkannya dan menuju ke mobilnya yang sudah dari tadi ia tunggu.
Apakah anak haram sepertiku sangat menjijikan? Kenapa mereka begitu jahat kepadaku? Aku tidak berharap mendapat marga Adinata. Aku hanya berharap mereka melihatku sebagai Arkan, saudara tiri dari Arsean William bukannya anak haram yang selalu di caci maki.
**
Mama Sean berjalan memasuki gedung Young Group dengan langkah angkuhnya.
Sampai ketika ia melihat Mauren masuk ke salah satu ruangan dan Mama Sean mengikutinya.
"Hai... menantuku. Bagaimana kabarmu?"
Mauren membalikan badan, ia sangat terkejut. Dia berusaha menghindar tetapi Mama Sean dengan cepat menghalanginya.
"Kau tidak sopan, sayang. Seperti itu kah jika kau bertemu Ibu mertuamu?"
"Tante membuatku muak. Tante tidak sadar apa yang telah Tante perbuat kepadaku? Itu semua meninggalkan bekas luka di hati teramat sakit dan tidak akan pernah sembuh"
"Maka dari itu pergilah dari kehidupan anakku! Kau hanya menjadi parasit dikehidupan Sean. Dasar tidak tau diri! Apa bagusnya dirimu untuk Sean? Kau hanya sekedar wanita penjilat harta Adinata saja 'kan?" Bentak Mama Sean melampiaskan semua amarahnya.
Mauren merem*s jemarinya, ia sangat kesal dengan ucapan Ibu mertuanya yang tidak berperasaan itu. Sampai ketika Asisten Kim datang di ruangan itu seolah tahu jika posisi Mauren terancam.
"Saya sudah merekam semuanya di ponsel saya. Saya akan berikan rekaman ini kepada Tuan Sean," ucap Asisten Kim tiba-tiba membuka pintu.
Mama Sean terkejut, ia memarahi Asisten Kim dan menyuruh menghapus rekaman itu tetapi pria itu tidak mau dan bersikeras akan memberitahukan kepada sang tuan.
"Kau sudah lancang, Kim! Kau tidak ingat jika kau sudah menganggapku seperti ibumu? Dan kau sudah ku anggap seperti anakku sendiri. Apakah ini balasanmu?"
"Maaf Nyonya, anda sudah sangat keterlaluan dengan menantu anda. Tuan Sean sudah memberi anda kesempatan kedua tetapi anda malah menyiakannya," ucap Asisten Kim santai sambil mengirim rekamannya ke nomor Sean, "Sudah terkirim Nyonya, silahkan siapkan koper anda setelah ini," sambung Asisten Kim dengan tatapan dingin.
Dan ketika itu ponsel Mama Sean berbunyi yang rupanya dari Sean.
Mama menelan ludah, ia harus melakukan apa saat ini. Jika ia menghindar pasti Sean akan semakin marah.
"Nyonya dan Nona Mauren, mari saya antar ke ruangan Tuan Sean," ucap Asisten Kim.
Mama Sean langsung berjalan melewati Asisten Kim dan menabrak bahu pria itu, ia berjalan ke ruangan Sean dan sudah menyiapkan kata-kata permohonan maaf untuk sang anak.
Sedangkan Asisten Kim menenangkan Mauren yang masih syok lalu mengajak Mauren untuk ke ruangan Sean.
Diruangan Sean.
Sean melepas jas hitamnya dan meletakannya di kursi termahalnya.
Dia merem*s jemari tangannya melampiaskan kekesalan kepada Mamanya.
Sampai suara pintu terbuka, ia bisa melihat sang Mama datang dengan wajah memelas dan di belakangnya datang Mauren dan Asisten Kim.
Sean lalu melambaikan tangan seolah memanggil salah satu dari mereka dan ketika itu Mamanya langsung mendekati Sean karena merasa jika sang anak memanggilnya.
"Bukan Mama," ucap Sean sinis, "Kemarilah, Orenku!" sambung Sean.
Sang Mama terhenti dari langkahnya dan ketika itu Mauren mendekati Sean yang sudah berdiri dan bersandar pada meja. Sean langsung merangkul Mauren dan memberinya kecupan mesra.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan Mamaku kepadamu, Oren?" tanya Sean sambil bibirnya tidak berhenti mengecup pipi Mauren membuat gadis itu sangat risih karena Ibu mertuanya melihat Sean melakukan itu tanpa merasa malu.