
Dokter Juna adalah orang yang masuk ke warung itu. Terlihat warung itu nampak biasa saja seperti pada umumnya ada penjual dan ada pembeli.
Sean, Mauren dan Asisten Kim lalu menyusul Dokter Juna.
Sean memandang di sekelilingnya sambil terheran bagaimana warung berada di tengah hutan dan siapa para pembelinya yang bahkan di depan warung tidak ada motor kecuali motor milik mereka.
Mereka memasuki warung sambil memandang orang-orang yang tengah terdiam. Mereka duduk terdiam dengan wajah pucat pasi dan tanpa ekspresi.
"Mana penjualnya?" tanya Dokter Juna.
Sean menghampiri dua orang yang sedang bermain catur tetapi anehnya mereka hanya terdiam memandangi papan catur tanpa ekspresi. Sean menepuk salah satu dari bahu mereka tetapi mereka masih terdiam tanpa bergerak sedikitpun.
"Pak? buk? Pesan kopinya. Woy... kemana nih mereka penjualnya?" ucap Dokter Juna kebingungan.
Sedangkan Mauren memandang jendela yang nampak gelap sampai ia melihat sesuatu yang bergerak. Mauren mendekatinya, ia sangat terkejut ketika seonggok pocong tiba-tiba nongol dari jendela warung itu.
"Pocoooooooong....," teriak Mauren.
Sean, Asisten Kim dan Dokter Juna ikut terkejut. Mereka langsung berlari keluar lalu menuju motor mereka.
Mereka segera menancapkan gas lalu pergi dari warung misterius itu tetapi anehnya ketika mereka berusaha melaju sekencang mungkin tetapi mereka malah kembali ke warung itu.
Mereka kini sudah 4 kali kembali ke warung itu membuat mereka kesal.
Sean lalu turun dari motor dengan berani menghampiri warung itu lagi.
"Pesan kopinya 4," teriak Sean sambil membanting pintu warung tersebut.
Mauren, Asisten Kim dan Dokter Juna hanya saling memandang. Mereka lalu ikut masuk menyusul Sean yang sudah terduduk di bangku menunggu pesanan kopinya.
"Apa yang kau lakukan, Oppa? Cepat pergi dari sini!" pinta Mauren.
"Kita sudah terlanjur masuk ke dimensi mereka, setidaknya kita harus menyicipi makanan atau minuman mereka," ucap Sean.
"Maksudmu dimensi apa, Sean?" tanya Dokter Juna masih belum paham.
"Kita masuk alam gaib makanya sejauh kita melarikan diri dari warung ini maka kita akan kembali ke tempat ini lagi," jelas Sean.
Mauren segera duduk di samping Sean, ia khawatir jika tidak bisa kembali ke alamnya. Asisten Kim ikut terduduk sedangkan Dokter Juna masih tidak mempercayai ucapan Sean.
"Kau bisa jelaskan yang lebih masuk akal lagi, Sean?" tanya Dokter Juna.
Tangan Sean menunjuk 2 orang yang sedang memandangi papan catur dan seketika Dokter Juna melihatnya, 2 orang yang berwajah normal tadi kini menjadi berwajah rusak di penuhi bekas luka dan darah. Dokter Juna sangat syok lalu Mauren menarik tangan Dokter Juna untuk duduk.
"Sudah percaya?" tanya Sean sambil melipatkan tangan di dadanya.
Dokter Juna mencoba melirik mereka lagi tetapi Mauren mencegahnya.
"Tidak usah di lihat dok!" ucap Mauren.
Setelah itu pesanan kopi mereka datang, seorang nenek renta yang mengantarkannya sekitar berumur 80 an. Dia meletakan keempat cangkir kopi itu dengan hati-hati.
"Terima kasih nek," ucap Sean ramah.
__ADS_1
Dokter Juna dan Asisten Kim melihat kopi tersebut dan kopi itu berwarna hitam pada umumnya tetapi berlainan yang dilihat Sean dan Mauren yang memang memiliki indra keenam. Mereka melihat kopi itu adalah darah merah segar dengan aroma anyir yang sangat kuat.
"Minumlah! Setidaknya satu tegukan!" ucap Sean langsung menyeruputnya.
Amis, mual, tidak enak, itu yang dirasakan Sean saat meminumnya kecuali Asisten Kim dan Dokter Juna yang menenggaknya sampai habis karena yang mereka lihat adalah kopi pada umumnya sedangkan Mauren cukup ragu untuk meminumnya.
"Minumlah sedikit, Oren!" pinta Sean sambil mengelus pundak Mauren.
"Tapi ini..."
"Minumlah supaya kita cepat pulang," jawab Sean.
Dengan terpaksa Mauren menutup hidung lalu menyeruput darah itu. Rasa mual dan amis ia rasakan sampai ingin muntah tetapi ia tahan mengingat tidak sopan memuntahkan sesuatu minuman buatan orang lain.
"Baru kali ini aku minum kopi seenak ini," ucap Dokter Juna.
"Habiskan punyaku jika begitu," pinta Sean.
Dokter Juna lalu meminum milik Sean dan ketika itu Sean keluar dari warung untuk mencari batu dan daun lalu ia bawa ke dalam warung.
"Nenek, minumannya enak sekali. Uangnya kami tinggal di meja," teriak Sean sambil menaruh batu dan daun yang ia ambil tadi.
Sean lalu mengajak teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan. Tidak lupa mereka membaca doa terlebih dahulu supaya cepat menemukan jalan pulang dan benar saja mereka tidak kembali ke warung itu lagi tetapi bukan berarti mereka sudah keluar dari hutan itu, mereka malah melintasi area pemakaman yang membuat bulu kuduk merinding.
Sean dan Asisten Kim menghentikan motornya, mereka tidak yakin melewati jalan di tengah pemakaman tersebut tetapi bagaimana lagi, satu-satunya jalan yang harus mereka tempuh yaitu melewati pemakaman yang sangat panjang itu.
Dokter Juna terlihat menggenggam erat tubuh Asisten Kim, ia membenamkan wajahnya pada punggung pria itu.
"Tadi kau bilang tidak percaya dengan hal begituan tetapi sekarang kau takut, Juna?" ejek Sean.
Sean berdecih padahal Dokter Juna yang paling tua diantara mereka berempat.
Setelah itu mereka melewati pemakaman dengan was-was, Sean berada di depan dan Asisten Kim berada di belakang. Semuanya nampak normal tidak ada yang aneh sampai suatu ketika motor Sean tiba-tiba menjadi sangat berat untuk di gas.
Sean berusaha mengegas motornya tetapi motor Sean semakin melaju pelan.
"Hihihihi... hihihihi..."
Sean melirik kaca spion sampai ia melihat bukan Mauren yang memboncengnya melainkan mbak kunti membuat Sean sangat terkejut.
Sean menghentikan motornya dan turun dari motor lalu melihat ketiga temannya sudah tidak ada di belakang mereka.
"Kunti sialan! Lancang sekali kau membonceng motorku. Pergilah kau setan dan dimana Orenku? Awas kau jika menyakiti Orenku! Akan ku botak rambut kau yang gembel itu," bentak Sean.
"Hihihihi... hihihihi..."
Kunti itu terbang dan hilang di pepohonan dengan cepat Sean memutar arah untuk mencari ketiga temannya yang entah kemana.
Sean mencari keberadaan mereka sampai melihat Mauren tengah bermain dengan anak-anak kecil.
"Jiaaaah... ngapain kau disini? Bukannya tadi kau memboncengku di belakang?" ucap Sean.
"Oppa meninggalkanku," jawab Mauren.
__ADS_1
"Hoi anak setan. Pulang sana entar di samperin pocong lho," ucap Sean kepada para tuyul itu.
"Gak takut Om. Tuh Paman Poci di belakang Om"
Sean membalikkan badan dan melihat pocong berwajah rusak sudah berada di depannya. Mauren yang sangat takut dengan pocong lalu memeluk Sean.
"Sialan! Wajah jelekmu mengagetkanku saja cong," ucap Sean lalu mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah pocong itu.
Sean memperhatikannya secara detail setiap kerusakan wajah pocong tersebut, dia tidak takut sama sekali.
Sampai pocong itu meludahi wajah Sean yang tampan membuat Sean sangat panik dan terkejut.
"Lihatlah Oren! Pocong itu meludahi wajahku yang tampan. Sialan!" ucap Sean panik.
Mauren mengambil sapu tangan lalu mengelap dengan hati-hati sampai ludah hitam busuk itu hilang.
Sean langsung mendekati pocong itu lalu meludahinya untuk membalas dendam.
"Cuih... cuih... cuih... cuih...," Sean ketika meludahi pocong laknat itu.
Mauren hanya ternganga melihat kelakuan sang suami yang meludahi setan begitu semangatnya.
"Jangan diam saja Oren! Cepat bantu aku untuk meludahinya! Cuih... cuih... cuih... cuih... cuih..."
Mauren langsung membantu Sean untuk meludahi pocong itu dan pocong itu tiba-tiba hilang.
Dalam hati pocong : Dasar manusia gendeng!
"Wuahahaha... Arsean kok di lawan. Hahaha," ucap Sean membanggakan dirinya.
Hebat sekali sampai pocong pun takut dengan Oppa. Batin Mauren.
Mereka lalu bergegas naik motor untuk mencari keberadaan Asisten Kim dan Dokter Juna yang entah kemana.
Mauren sibuk meneriaki nama mereka berdua tetapi mereka tetap tidak menyahut.
"Jangan-jangan mereka sudah di bawa ke alam lain?" tanya Sean sambil menyusuri jalanan pemakaman yang tiada ujungnya.
"Jangan bilang begitu, Oppa!"
"SEAN? MAUREN? Dimana kalian?" teriak seseorang yang nampak tak asing suaranya.
Sean dan Mauren menghentikan motornya. Mereka mendengarkan suara itu dengan seksama.
"SEAN? MAUREN?"
Suara itu terdengar beberapa kali sampai Sean dan Mauren melihat gerombolan teman-temannya datang mencarinya.
"Sean? Mauren? Kalian baik-baik saja?" tanya Hasan sangat khawatir kepada mereka.
"Dari mana saja kalian? Kenapa baru mencari kami? Eh... Juna dan Kim sudah bersama kalian? Sialan. Teman laknat bisa-bisanya meninggalkan kami berdua," ucap Sean marah.
"Maaf, Tuan. Anda malah masuk ke area pemakaman padahal di sebelah kirinya ada jalan lain. Kami menyusul anda tetapi malah anda sudah tidak ada. Untungnya kami bertemu dengan teman-teman lalu memutuskan mencari anda," jelas Asisten Kim.
__ADS_1
"Sudah jangan bertengkar! Yang penting kalian selamat," ucap Hasan.
Mereka lalu memutuskan mulai perjalanan lagi sampai keluar dari hutan misterius ini. Dan mereka saling memantau supaya tidak ada yang tertinggal dari rombongan.