Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Ekstra part


__ADS_3

"Oren, jangan lari-lari!" ucap Sean memperhatikan istrinya berlarian menyusuri garis pantai.


Dengan rambut panjangnya serta memakai celana pendek dan kaos putih ibu dari 3 anak tersebut nampak awet muda. Dia berlarian menikmati berliburnya bersama sang suami tercinta.


Mauren tertawa lepas menumpahkan rasa bahagianya setelah melewati lika liku pernikahannya yang sering dihantam badai sampai ia tidak menyadari menginjak sepatunya sendiri lalu membuatnya terjatuh.


"Oreeeeen....," teriak Sean.


Sean dengan panik menghampiri Mauren lalu memeriksa lutut Mauren. Mauren tersenyum melihat sang suami yang begitu panik.


"Aku tidak apa-apa, oppa"


"Huh... Jangan lari-lari Oren sayang!"


Sean dengan cepat mengangkat Mauren, Mauren meronta dan ingin meminta turun tetapi Sean tidak menghiraukan. Kebahagiaan jelas tergambar di wajahnya.


"Aku akan menurunkanmu ketika sudah sampai di kamar hotel," ucap Sean.


Ya, hari ini mereka berlibur di pulau Bali. Mereka melepas penat dengan berlibur bersama tetapi mereka tidak membawa anak-anak mereka.


Kini Seina sudah kelas 3 SMP, Daleon kelas 1 SMP dan Navier kelas 2 SD. Mereka tumbuh seperti anak pada umumnya. Mereka sering bertengkar membuat Sean setiap hari harus marah-marah kepada mereka.


Setelah sampai di kamar hotel, Sean membaringkan Mauren di ranjang. Sean lalu ikut berbaring di sebelah istrinya.


"Rasanya seperti kembali muda tetapi badanku sudah cepat mulai lelah," ucap Sean.


"Oppa sering bolos olahraga sih. Dasar pemalas!" ucap Mauren.


"Tiap malam 'kan aku olahraga denganmu sayang," goda Sean.


Mauren tertawa, Sean memang tidak pernah berubah dalam urusan ranjang. Dia selalu meminta dan jika tidak dituruti pasti akan marah.


"Seina sebentar lagi masuk SMA, aku semakin khawatir dengan pergaulannya," ucap Mauren.


"Dia anak baik pasti bisa memilih pergaulan mana yang harus dipilih"


"Tapi tentang Daelon, aku khawatir, Oppa," ucap Mauren.


"Aku sudah konsultasi dengan Dokter Arga, perkembangan Daleon meningkat, ia sudah bisa mengontrol gejolak emosinya"


"Huh... Walaupun begitu baru minggu kemarin kita di panggil guru BK karena Daleon sering absen dan membolos. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Dale," ucap Mauren sambil menghela nafas.


"Dia anak istimewa sayang. Kita tidak boleh selalu mengekangnya dan parahnya lagi penyakit itu tidak bisa disembuhkan kecuali Dale yang bisa mengontrolnya sendiri"


...****************...


Disisi lain, Asisten Kim tengah melatih Daleon. Daleon begitu pandai saat mengayunkan tangannya memukul samsak. Dia begitu berkarisma dan aura dinginnya seketika keluar.


Asisten Kim yang ikut berada didalam ring sangat fokus melatih keponakannya itu. Dia memperhatikan sambil bersedekap.

__ADS_1


"Sudah cukup Dale, kita istirahat dulu," ucap Asisten Kim.


Asisten Kim memberikan handuk kecil pada Daleon. Daleon mengusap keringatnya menggunakan handuk itu. Dia sudah kelelahan setelah satu jam berlatih dengan pamannya.


"Ayah...," teriak Ali kesal kepada sang ayah.


"Ada apa Ali?"


"Ayah berjanji akan bermain bola denganku"


"Ali sayang, ini sudah menjelang malam. Kita bisa bermain bola besok"


Ali mendengus, ia melempar bola dan hampir mengenai Daleon. Dia begitu benci dengan Daleon karena ayahnya selalu mementingkan urusan Daleon.


"ALI! Ayah tidak pernah mengajarkanmu seperti itu. Kau apa tidak lihat ini sudah setengah 7 malam?" ucap Asisten Kim marah.


"Ayah tidak sayang Ali. Sebenarnya anak ayah itu Ali apa Dale?" jawab Ali.


Ali sangat kesal, ia berlari menuju apartemennya. Dia langsung menghampiri mamanya dan mengadu kepada mamanya.


"Sayang, benar kata ayahmu jika ini sudah malam. Besok 'kan bisa?" ucap Sera.


"Tapi ayah selalu mementingkan Daleon. Kenapa ayah lebih memilih mengajari Dale ketimbang bermain bola bersama anaknya sendiri?" ucap Ali sambil menangis tersedu-sedu.


Disaat bersamaan, Asisten Kim datang. Dia bisa tahu jika anaknya mengadu kepada Sera. Asisten Kim tidak menghiraukannya, ia langsung menuju ke kamar mandi.


"Sudah sayang, nanti mama akan memarahi ayah," ucap Sera sambil mengusap air mata Ali.


Malam ini mereka makan malam bersama dan ketiga anak Sean ikut makan malam bersama. Selama Sean dan Mauren ke Bali, anak-anak mereka titipkan kepada Kim dan Sera.


Sera mengambilkan makanan kepada bocah-bocah itu. Mereka makan dengan lahap kecuali Ali. Dia masih marah kepada ayahnya.


"Cepat makan, Ali!" ucap Asisten Kim.


Ali memalingkan wajah.


"Besok pagi kita main bola," ucap Asisten Kim.


Sera membujuk Ali untuk makan, Ali tersenyum lalu memakan makanannya.


"Tapi janji ya besok main bola, yah?" ucap Ali.


"Iya," jawab Asisten Kim.


Mereka makan dengan tenang sampai Daleon berdiri lalu meletakan sendoknya. Semua orang memperhatikannya.


"Aku sudah kenyang. Aku mau kembali keatas," ucap Daleon.


"Makanannya belum habis Daleon. Habiskan dulu!" pinta Sera.

__ADS_1


"Tidak aunty. Aku sudah kenyang dan terima kasih untuk makanannya"


Daleon menunduk lalu berjalan keluar, Navier menangis ingin ikut kakaknya tetapi Daleon seolah tidak peduli. Padahal Navier ingin dekat dengan sang kakak tetapi Daleon cukup dingin dan tidak ingin di dekati.


"Aku juga ingin keatas, terima kasih untuk makanannya," ucap Seina sambil menggendong Navier.


Sera menghela nafas, anak-anak kakaknya memang susah diatur apalagi Daleon. Dia selalu bersikap seenaknya sendiri.


Selesai makan Asisten Kim menuju lantai atas untuk sekedar menengok mereka. Mereka termasuk masih kecil dan butuh pengawasan.


Ketika masuk, ia melihat Seina dan Navier bermain sedangkan Daleon berada di depan kolam renang sambil menikmati soda. Asisten Kim mendekati Daleon lalu duduk di sebelahnya.


"Papamu akan pulang 2 hari lagi. Uncle harap bekas lukamu hilang dalam 2 hari," ucap Asisten Kim.


"Apa pedulinya Uncle kepadaku? Itu bukan urusan Uncle"


Asisten Kim tersenyum, sifat Daleon seperti Sean ketika sedang marah.


"Papamu akan marah kepada Uncle jika tahu bekas lukamu itu," ucap Asisten Kim.


Daleon berdiri, ia menghadap kolam renang. Dia tidak memperdulikan papanya marah atau tidak yang jelas papanya begitu menyayanginya.


"Uncle kenapa tidak ingin mengajarkan jurus itu kepadaku?" tanya Daleon.


"Kau belum cukup umur. Setelah lulus SMA nanti uncle akan mengajarkannya kepadamu"


Daleon mendengus, ia menghadap Asisten Kim sambil bersedekap. Asisten Kim menatap wajah Daleon yang begitu tampan malah lebih tampan dari anaknya yaitu Ali.


"Uncle, besok kita nonton pertandingan silat di gor selatan ya?" ajak Daleon.


"Boleh, kita bersama dengan Ali juga"


"Kenapa uncle tidak mengajari Ali beladiri?" tanya Daleon.


"Bukannya uncle tidak mau mengajarkan Ali beladiri tetapi Ali yang tidak mau dan jika diajak malah menjawab lebih baik bermain masak-masakan dengan Kak Sein," ucap Asisten Kim cukup geli dengan anaknya.


Daleon tersenyum kecut, Seina, Ali dan Navier memang tidak normal. Makanya ia tidak mau bermain dengan mereka


Tiba-tiba Asisten Kim memeluk Daleon, entah kenapa ia sangat sayang kepada keponakannya itu.


"Uncle?"


"Uncle ingin memelukmu, kau cepat sekali besarnya Dale," jawab Asisten Kim.


Daleon memaksa melepas pelukannya. Dia mendengus lalu masuk kedalam dan melihat ketiga adik-adiknya sedang bermain.


"Kak Dale ayo main masak-masakan," ajak Navier.


"Sini Dale, kakak buatkan buaya panggang," ucap Seina.

__ADS_1


Sedangkan Ali juga ikut menikmati permainan itu. Asisten Kim hanya mengelus dadanya. Bocah kelas 6 SD itu sungguh kekanakan dan hampir mirip dengan sang mama yaitu Sera.


__ADS_2