
Sean mencoba menelpon sang kakek berulang kali tetapi tidak diangkat. Setelah itu ia berdiri lalu menghampiri sang asisten di ruangannya. Rasa kesal san emosi bercampur menjadi satu karena kakeknya begitu keterlaluan.
"Kim, si kakek tua itu diam-diam menarik saham Papa Alana. Kau hubungi Papa Alana dan meminta maaf sebesar-besarnya atas kelalaian kita yang tidak tau tentang hal itu. Kau urus juga supaya perusahaan Papa Alana kembali menerima saham kita," ucap Sean.
Asisten Kim terkejut mendengar ucapan sang tuan, ia lalu mengecek di laptopnya dan benar jika Kakek Askar mencabut saham tanpa persetujuan Sean.
"Saya akan mengurus semuanya, Tuan. Anda jangan khawatir"
Sean mengagukan kepala lalu ia melirik Sera tertidur di sofa panjang dengan santainya. Sean mendekati Sera lalu menjitak kepalanya membuat Sera terkejut lalu membuka mata.
Dirasa kepala sang adik terasa panas, Sean memegang kening Sera. Dia terkejut saat merasakan jidat Sera sangat panas.
"Kau sakit, Sera?" tanya Sean panik.
Asisten Kim lalu melirik mereka berdua, ia juga tidak menyadari jika Sera sedang sakit.
"Kau apakan adikku, Kim? Hingga dia bisa sakit begini?" tanya Sean.
"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu jika Sera sedang sakit, dia hanya meminta izin berbaring di sofa karena merasa lelah," jelas Asisten Kim.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Kemarin aku main hujan-hujanan jadinya begini," ucap Sera.
Sean berdecak mendengar penjelasan dari sang adik, ia menelpon tantenya supaya menjemput Sera dan membawa Sera ke rumah sakit.
"Sambil menunggu Mamamu datang, kau tiduran di kamarku saja! Kim, kau gendong Sera dan bawa dia ke kamarku!" ucap Sean.
"Kenapa harus saya, Tuan?"
"Jadi kau menyuruhku untuk menggendong Sera? Cih... bocah kecil ini sangat berat"
Asisten Kim tidak mau berdebat, ia lalu menggendong Sera. Sera sangat senang, ia memperhatikan wajah pria itu lalu tersenyum melihat ketampanannya. Setelah masuk di kamar pribadi Sean, Asisten Kim merebahkan Sera di ranjang tetapi dia terkejut saat Sera tidak melepaskan tangan di leher pria itu.
"Lepaskan, Nona!"
Sera menggelengkan kepala, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Asisten Kim.
"Aku sakit gara-gara Asisten Kim jadi Asisten Kim harus bertanggung jawab!" ucap Sera.
"Nona sendiri yang main hujan-hujanan, kenapa saya yang bertanggung jawab?"
Sera dengan cepat melum*t bibir pria di depannya membuat pria itu terkejut. Tapi entah kenapa ia tidak bisa menolak dan mulai menikmati permainan itu.
"Sera, kau sakit?" ucap Mauren yang tiba-tiba membuka pintu dan langsung terkejut melihat pemandangan yang tidak terduga.
(Baca kisah lengkapnya di youtube : Mariana Vikram)
__ADS_1
...****************...
"Alana, aku meminta maaf atas keteledoranku. Aku sudah mengurusnya jadi kau tidak perlu khawatir!" ucap Sean melalui panggilan telepon.
"Terima kasih, Sean. Ku pikir kau yang melakukannya. Oh ya bagaimana hubunganmu dengan gadis itu?"
"Aku akan melakukan resepsi bulan depan. Kau harus datang, Alana!"
Alana mengerutkan dahi. Resepsi? Kapan menikahnya? Itu yang terlintas pada pikiran Alana.
"Aku akan menjelaskannya tapi tidak sekarang karena aku harus bekerja. Bye Alana," ucap Sean sambil menutup telponnya.
Sean mulai bekerja lagi, ia kini fokus untuk merubah sebagian saham milik sang kakek menjadi atas namanya sendiri. Dia berusaha membuat sang kakek kesulitan karena selama ini Kakek Askar hanya membuang-buang uang. Bahkan bukan itu saja ternyata Kakek Askar memberikan harganya untuk gadis-gadis murahan itu tanpa sepengetahuan Sean.
"Sialan! Jika kakek memberikan kepada gadis yang ia nikahi tidak masalah. Tetapi ia malah memberikan harta untuk gadis-gadis yang ia tiduri tanpa ia nikahi. Parahnya bukan hanya 2 gadis tetapi sudah puluhan yang ia kencani," gumam Sean merasa kesal.
Kepalanya semakin berdenyut merasakan sakit akibat terlalu banyak pikiran, ia meletakan kepalanya di meja sambil menepuk-nepuk kepalanya.
"Oppa?"
"Apa?"
"Besok kita touring bawa apa saja?" tanya Mauren.
"Bawa otak, pikiran yang jernih dan jangan lupa bawa harga diri," ucap Sean ngasal yang masih menyandarkan kepala di meja.
"Apapun yang akan terjadi jangan sampai kita berpisah, aku mencintaimu dan aku sudah merencanakan resepsi di gelar setelah ulang tahun Young Group yaitu bulan depan. Aku sudah mempercayakan kepada wedding organizer untuk mengurus resepsi kita dengan mewah dan berkelas. Kita tinggal fitting baju pengantin kita saja," jelas Sean.
Mauren terdiam, ia berpikir apakah harus melakukan resepsi? Bahkan seperti ini saja dia sudah bahagia. Dia takut akan mendapat cacian dari netizen jika ia menikah dengan orang terpandang di negeri itu.
Mauren lalu melepas genggaman Sean.
"Kenapa Oren?" tanya Sean.
"Tidak usah melakukan resepsi, Oppa. Aku sangat yakin jika para netizen pasti tidak suka denganku"
"Bagaimana lagi, Oren? Aku sudah datang ke pesta pernikahan para kolegaku lalu tidak lupa memberi uang sumbangan ke mereka dan kini saatnya mereka memberiku sumbangan dengan datang ke pesta resepsiku," jelas Sean tidak malu.
"Oppa ini orang kaya jiwa miskin masih saja mikirin sumbangan"
"Hidup ini berputar, Oren. Kita akan selalu bergantian," ucap Sean.
Mauren menatap lekat wajah Sean yang terkesan serius dan tidak bercanda.
Aku tidak bisa membayangkan jika kita mempunyai anak pasti Oppa akan pelit sekali dengan anak-anaknya. Batin Mauren.
__ADS_1
Sean lalu mengusap perut Mauren, rasa ingin mempunyai buah hati tidak bisa di pungkiri. Dia berharap Mauren segera hamil lagi dan ia bisa segera menggendong sang anak.
"Oppa jika tidak sabar mempunyai anak, Oppa bisa cari istri lagi," ucap Mauren.
"Kenapa bilang begitu? Aku 'kan sudah bilang jika kita masih punya banyak waktu. Jangan berkecil hati, Oren! Dan lagipula ini ulah keluargaku juga, aku minta maaf jika kau harus seperti ini"
Sean memeluk Mauren, memang selama ini Sean merasa bersalah dengan Mauren. Keluarganya selalu menyakiti sang istri terutama Mamanya.
"Terima kasih Oren telah mencintaiku apa adanya," ucap Sean.
"Harusnya aku yang ngomong begitu, Oppa"
...****************...
Hari sabtu telah tiba saatnya Sean mengistirahatkan pikiran sejenak dengan bermain motor selama 2 hari untuk melakukan touring.
Malam sebelumnya, ia menyuruh Mauren untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa tetapi pagi ini dia terkejut melihat 2 tas besar yang sudah di persiapkan oleh Mauren.
"Kita naik motor, Oren. Kenapa kau membawa banyak barang begini? Dan isinya apa itu?" ucap Sean heran.
"Bawa hujan sebelum payung, Oppa. Berjaga-jaga jika terjadi apa-apa"
Sean lalu membongkar dua tas itu, ia tercengang dengan isi tas yang tidak masuk akal. Ada sebuah payung, jas hujan, boneka, guling kecil lalu beberapa pakaian milik Mauren.
"Yang benar saja kau, Oren! 2 tas ini isinya barangmu semua, cih... tidak penting semua. Barangku pun cuman semp*k sebiji. Dasar kau!" ucap Sean kesal.
"Oppa bilang jika aku harus mengemas barang yang akan kubawa. Ya itulah barang yang akan ku bawa"
Sean menatap kesal lalu membongkar kedua tas itu. Barang yang tidak penting ia lempar membuat Mauren menatap sinis sang suami.
"Ya ampun Mauren. Sabun sirih kau bawa juga?" tanya Sean heran.
"Itu penting, Oppa. Biar selalu wangi"
"Kita itu akan touring bukannya bulan madu, untuk apa kau bawa ini?" tanya Sean sambil membuang sabun sirih tersebut.
Cih... kenapa Oppa tidak mengemasi sendiri dari kemarin? Huh... punya suami ribet amat banyak protesnya.
___________
Hallo si kim udah update bab 4-5 di youtube. Biar gak ketinggalan makanya subscribe dan bunyikan lonceng supaya tidak ketinggalan jika sudah update.
Yang bilang youtube boros kan masih bisa di download.
Kenapa sih gak disini aja updatenya?
__ADS_1
Aduhhh... kalian jangan gitu dong. Author juga butuh diapresiasi gak hanya gini2 doang
Author udah sampe bab 138 aja bersyukur banget masih bertahan disini walaupun kalian masih pelit vote, komen, like.