
Mauren hari ini tidak ikut bekerja dengan Sean. Dia memilih tidur di apartemen, ia merasa tidak enak jika harus selalu ikut bekerja dengan sang suami.
Hari ini agendanya hanya menonton TV, makan dan sesekali berenang Supaya bisa menyegarkan badannya.
Tidak lupa Sean menyuruh bodyguard untuk menjaga pintu apartemen mereka supaya tidak ada seorangpun yang bisa menyakiti Mauren.
Semua itu karena kemarin malam Sean bertengkar hebat dengan sang Mama.
Maka dari itu ia harus berjaga-jaga supaya Mauren bisa di apartemen dengan tenang.
Mauren kini berjalan kearah kulkas, ia mengambil jus mangga dan beberapa buah leci favoritnya. Dia tersenyum karena stok buah yang ada di kulkasnya selalu terisi penuh. Sean memastikan makanan yang akan dimakan Mauren selalu tersedia, dia sangat menyayangi Mauren beserta bayinya. Mauren lalu teringat saat dirinya masih di kos-annya dulu, ingin makan buah saja harus ia tahan karena tidak mempunyai uang dan sekarang ia kini bisa memakan sepuasnya sampai perut kenyang.
Terdengar suara ponselnya berbunyi, ia langsung mengangkatnya. Dia sangat terkejut ketika mendapat berita jika Sean dibawa ke rumah sakit. Mauren sangat syok, ia bergegas mengambil tas dan jaketnya lalu segera menuju ke rumah sakit.
Tetapi saat akan keluar dari apartemennya, para bodyguard mencegahnya untuk keluar.
"Aku harus ke rumah sakit. Tuanmu masuk ke rumah sakit," ucap Mauren.
Para bodyguard mengerutkan dahi, mereka saling bertatapan. Mauren lalu menjelaskan jika ia baru saja mendapat kabar jika sang suami kini dirawat di rumah sakit dan membuat bodyguard itu membiarkan Mauren pergi.
Mauren dengan langkah panik menaiki lift, ia menelpon Asisten Kim tetapi pria itu tidak menjawab telponnya membuat Mauren semakin khawatir.
Ketika lift itu sudah terbuka, ia berjalan cepat menuju keluar dengan tergesa-gesa. Dia mencari taksi tetapi sepertinya tidak ada yang lewat.
Mauren lalu membuka ponselnya untuk memesan taksi online tetapi ketika itu ia lengah membuat seseorang dengan mudah membekapnya dari belakang dan seketika itu ia pingsan.
Gelap
Gelap
Gelap
Hanya gelap yang dirasakannya, ia membuka matanya. Dia melihat dirinya diruangan yang sangat gelap. Dia berusaha menggerakan tubuhnya tetapi tidak bisa. Tangan dan kakinya terikat pada ranjang yang ditidurinya. Mulutnya juga disumpal membuatnya tidak bisa berteriak.
Ceklek...
Terdengar suara pintu berbunyi dan seketika lampu menyala. Dia bisa melihat dua orang setengah baya berjalan mendekatinya.
Mauren tersentak ketika ia menyadari jika mereka adalah Mama Sean dan Mama Zara.
"Sudah bangun dari tidurmu manis?" tanya Mama Zara.
Lalu datang lagi dua orang yang nampak memakai baju dokter. Mauren sangat ketakutan.
"Lakukanlah Dok! Angkat janin itu dari rahim gadis ini!" perintah Mama Sean.
Mauren terkejut mendengar ucapan Mama Sean, ia lantas memberontak tetapi dengan cepat dokter itu membiusnya dan membuatnya pingsan kembali.
__ADS_1
Diruangan Sean.
Setelah melakukan pekerjaannya, ia kini bisa bersantai sambil meminum kopi favoritnya. Tetapi ketika sedang mengambil cangkir di meja, tangannya cukup licin dan membuat cangkir itu jatuh dan pecah.
Pyaaaar...
"Bangs*t!" umpat Sean terkejut.
Dan disaat itu juga Asisten Kim masuk ke ruangan Sean dengan panik.
Dia mengabarkan jika Mauren keluar dari gedung apartemen dan terlihat dari rekaman CCTV jika Mauren dibekap oleh seseorang lalu langsung membawanya masuk mobil.
Sean sangat terkejut, ia mencoba menelpon Mauren tetapi nomor gadis itu tidak aktif. Sean khawatir lalu menyuruh sang Asisten untuk mengerahkan semua bodyguardnya.
"Apa jangan-jangan ini ulah Kakekku, Kim?" tanya Sean.
"Tidak mungkin,Tuan. Sekarang ini Tuan Askar berada di Jepang bersama para wanitanya. Tidak mungkin ia sampai berpikiran seperti itu"
Sean tidak bisa tenang, ia lalu memutuskan untuk mencari Mauren kesana dan kemari. Dia takut terjadi hal yang buruk pada Mauren beserta bayinya.
Di dalam mobil, Asisten Kim bisa melihat wajah sang tuan yang panik bercampur amarah.
2 jam kemudian.
Sudah 2 jam Sean mencari Mauren tetapi belum menemukannya termasuk para bodyguardnya.
Sean mulai putus asa, ia menyalahkan dirinya sendiri yang membiarkan Mauren sendirian di apartemen.
Buaaaak...
Buaaaak...
Buaaaak...
Buaaaak...
Terlihat Sean memukuli para bodyguardnya. Dia sangat marah sampai tidak terkontrol, Sean yang biasanya terlihat konyol dan kocak kini berubah menjadi Tuan Sean yang kejam dan berdarah dingin.
"Bangs*t kalian! Menjaga satu gadis saja tidak pecus! Sialan! Tidak berguna kalian!" ucap Sean sambil memukuli para bosyguardnya satu persatu.
Sedangkan Asisten Kim hanya bisa melihat kemarahan sang tuan. Dia tidak berani ikut campur.
"Kenapa kau hanya diam saja, Kim? Kau juga tidak berguna. Sialan kau!"
Asisten Kim tidak berani menjawab umpatan Sean. Diposisi seperti ini seharusnya memakai kepala dingin bukannya memakai emosi saja.
Sampai ia terdapat ponselnya berbunyi, ia langsung mengangkatnya yang ternyata dari detektive suruhan Asisten Kim, ia mengabarkan jika yang menculik Mauren adalah Mama Sean beserta sang adik yaitu Mama Zara.
__ADS_1
Asisten segera memberitahukan Sean, Sean sudah menduganya jika memang ulah sang Mama.
"Cepat antar aku kerumahku Kim! Aku sudah sangat kehilangan kesabaranku," ucap Sean sambil berjalan keluar ruangan itu.
Asisten Kim mengantar Sean ke rumahnya, sedari tadi Sean mengepal kedua tangannya. Amarahnya kini sudah tidak terkontrol, ia ingin sekali mengeluarkan amarahnya kepada sang Mama yang sudah kelewatan mengusik rumah tangganya.
Sesampainya di rumah.
Sean dan Asisten Kim langsung bergegas masuk ke rumah terlihat Sang Mama dan tantenya sedang asyik mengobrol di ruang keluarga.
"Dimana Mauren Mah?" tanya Sean dengan nada tinggi.
"Kau tidak sopan Sean!" ucap Mama Zara.
"Diam kau Tante! Aku tidak ada urusan denganmu"
Mama Sean masih terlihat santai sambil menyeruput kopinya, ia menyunggingkan senyuman ketika Sean sudah menatapnya tajam.
"Akhirnya anak Mama pulang ke rumah. Kamarmu sudah Mama bersihkan sayang?"
"Tidak usah basa-basi, Mah! Dimana Mama menyembunyikan Mauren?" tanya Sean sambil memelototi sang Mama.
"Mama tidak tau. Gadis itu selalu bersamamu kenapa sekarang bertanya kepada Mama?"
"Tidak usah berpura-pura Mah! Sean tau semuanya jika Mama dan Tante yang menyuruh menculik Mauren," ucap Sean dengan nada membentak.
Sang Tante yang sudah lama tidak mengobrol dengan Sean sangat terkejut melihat Sean yang membentak Mamanya padahal Sean dikenal anak yang manja dan baik kepada sang Mama.
"Jaga ucapanmu Sean! Pasti gara-gara gadis itu kau berubah seperti ini. Tante tidak menyangka semenjak kau keluar dari rumah ini kau menjadi liar, kau malah berkumpul dengan geng motor berandalan itu dan tiba-tiba menikah dengan gadis kampungan secara diam-diam tanpa sepengetahuan kami," ucap Mama Zara sambil mengacungkan tangan ke arah Sean.
Sera dan Zara mendengar keributan langsung keluar dari kamarnya, mereka melihat suasana ruang keluarga menjadi sangat panas. Mereka tidak berani ikut campur lalu hanya berdiri diam dekat tangga.
"Tidak usah membawa geng motorku, Tante! Dan jangan menyebut Orenku gadis kampungan!"
Sang Mama hanya bisa melihat kemarahan sang anak. Dia menahan air matanya karena kini sang anak telah berubah dan kini berani membentaknya.
"Jangan mentang-mentang kau menjadi direktur bisa seenaknya Sean! Enak sekali dirimu sudah menjadi direktur di usia muda, sedangkan para mantan suami kami dulu harus tahan banting dengan Kakekmu itu," ucap Mama Zara.
"Apa yang kau katakan dek?" ucap Mama Sean pelan.
"Memang benar 'kan Kak? Sean sudah sangat beruntung bisa langsung menjabat sebagai direktur. Tetapi dia malah menyepelekan keluarganya"
Sean merem*s jemarinya. Kemarahannya muncul kembali setelah mendengar ucapan dari tantenya.
"Kalian pikir menjadi direktur enak? Aku harus merelakan masa remajaku untuk menjadi seorang direktur, yang harusnya aku bermain bersama teman-temanku malah aku harus mengurus perusahaan itu. Aku harus memikul beban berat seluruh perusahaan naungan Young Group, mereka semua bertumpu padaku," ucap Sean sambil menepuk dadanya.
"Kalian bilang enak? Salah sedikit saja bisa mempengaruhi saham dan pendapatan perusahaan. Salah langkah saja bisa menghancurkan perusahaan. Mungkin kalian pikir aku hanya duduk enak di kursi direktur setiap hari? Fisikku memang masih kuat tetapi otakku sudah mulai lelah untuk berpikir. Kalian yang enak, duduk manis dirumah, menghambur-hamburkan uang, Kakek yang setiap hari keluar masuk hotel bersama gadis-gadis cantik. Sedangkan aku? Aku ingin bahagia saja kalian mengusiknya," sambung Sean.
__ADS_1
Suasana semakin panas, terlihat kemarahan Sean semakin tinggi.
Sedangkan Asisten Kim berada tidak jauh dari sang tuan. Dia tidak berani ikut campur urusan sang tuan beserta keluarganya.