
Sean memegangi kepalanya saat di dalam mobil. Dia tidak menyangka perlakuan saat di sekolah Seina seperti itu.
Dia ingin memindahkan Seina ke sekolah lain tetapi sebentar lagi ia lulus TK dan masuk sekolah dasar.
Apalagi ia merasa khawatir karena Seina sudah bertanya seperti itu?
"Tuan Sean, kita sudah sampai di bandara," ucap Asisten Kim membuyarkan lamunan Sean.
Sean turun dari mobil dan segera masuk ke bandara untuk terbang ke kota sebelah.
Saat di dalam pesawat, ia selalu kepikiran keluarga kecilnya. Sean tidak bisa berlama-lama jauh dari penyemangat hidupnya.
Disisi lain, Mauren sedang menemani Daleon menggambar. Tahun ini Daleon akan masuk TK.
Daleon termasuk anak yang cerdas, ia sudah pandai membaca, berhitung dan lancar berbahasa Inggris.
Mauren memperhatikan Daleon menggambar dan mewarnai.
Awalnya tidak ada yang mencurigakan sampai ia menyadari sesuatu yang janggal dari gambar Daleon.
Daleon menggambar seseorang sedang memegang pisau lalu pisau itu diarahkan pada leher seseorang digambar itu.
"Dale gambar apa?" tanya Mauren.
"Dale gambar orang," jawab Daleon.
"Kok nyeremin?"
"Ini bagus banget, mah"
Daleon mewarnai ujung pisau itu dengan warna merah seperti darah membuat Mauren merasa ngeri.
Dia pikir pasti gara-gara game yang sering di mainkan Daleon.
"Dale gambar yang lain saja! Gambar kartun lucu, ini nyeremin. Mama takut," ucap Mauren.
"Ini bagus, mah. Dale suka"
Mauren memperhatikan ekspresi wajah sang anak waktu menggambar. Terlihat sangat berbeda dan terlihat menyeringai.
Mauren langsung merebut gambar Daleon lalu mengajaknya untuk keluar dari apartemen.
"Mah, Dale belum selesai menggambar"
"Kita ke supermarket depan yuk!" ucap Mauren mengalihkan pembicaraan.
Mauren menggendong Daleon menuju ke supermarket. Dia membelikan susu kotak dan coklat untuk Daleon.
Daleon lalu tertuju pada mainan hewan dan ia merengek untuk minta dibelikan.
Mauren membelikannya lalu Daleon langsung senang.
Mereka lalu kembali ke apartemen, Mauren menyebrang jalan dengan hati-hati. Daleon nampak senang ketika ia mendapat mainan baru yaitu dinosaurus dan tirex.
"Mama?"
"Ya sayang"
"Dinosaurus itu ada gak sih, ma?" tanya Daleon.
"Ada, tapi sekarang udah punah"
"Waaaah... pasti keren. Dale ingin lihat saat dino makan orang, pasti seru"
DEG
Sebuah ucapan Daleon yang membuat Mauren terkejut. Tetapi ia menepisnya karena wajar saja jika anak kecil berangan yang tidak-tidak.
Mereka kini sudah sampai di apartemen. Mauren meletakan Daleon di sofa dan memberinya susu kotak sedangkan ia pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Daleon berjalan mengambil gunting yang ada di meja, ia tersenyum menyeringai lalu memotong ekor mainan dino miliknya. Dia juga terlihat memotong leher tirex sambil tersenyum ceria.
Mauren yang keluar dari kamar mandi terkejut melihat Daleon memegang gunting.
"Dale, apa yang kau lakukan? Kenapa mainanmu sudah patah?" tanya Mauren.
"Dale gunting, mah"
"Kenapa sayang?"
"Soalnya lucu"
Mauren mengerutkan dahi lalu merebut gunting yang di bawa Daleon dan menyimpannya di dalam lemari.
Mauren lalu menggendong Daleon dan membawanya ke depan kolam renang.
Sempat terlintas pikiran tidak enak karena merasa janggal tentang anak lelakinya itu. Tetapi ia masih berpikir positif dan menyangkal itu normal saja dilakukan anak kecil.
"Mama, Dale laper," ucap Daleon.
Mauren sontak terkejut karena ia sedang melamun. Dia tersenyum lalu menciumi pipi Daleon.
"Maaaa... aku laper, bukan minta cium"
"Salahmu sendiri punya wajah imut," jawab Mauren.
Mauren lalu mengambilkan makanan untuk Daleon di dapur. Daleon termasuk anak yang mudah makan dan tidak memilih makanan.
...****************...
Jam waktu pulang sekolah telah tiba, Seina sedang menunggu Mauren menjemputnya. Dia menunggu di gerbang sekolah.
Sampai sebuah mobil hitam berhenti dan seseorang turun dari mobil.
"Uncle Juna?"
"Ayo biar uncle antar pulang!"
"Tidak, papamu sudah berpesan kepada uncle untuk sekalian menjemputmu pulang sekolah," jawab Dokter Juna.
Dokter Juna membukakan pintu untuk Seina dan ternyata di dalam sudah ada Naira dan Naiza.
Seina duduk di sebelah mereka.
"Oh ya Seina, kami mau mampir makan," ucap Dokter Juna sambil mulai melajukan mobilnya.
"Seina mau langsung pulang, Seina tidak enak badan," ucap Seina.
"Seina sakit? Mau uncle periksa di rumah sakit?"
"Gak mau, Seina mau pulang aja"
Dokter Juna menganggukan kepala, ia mengantar Seina ke rumah.
Sementara itu Naira dan Naiza tengah asyik berdebat tentang gambarnya yang bagus. Seina tidak ikut campur karena kepalanya pusing.
"Naira... Naiza... jangan ribut!" ucap Dokter Juna.
"Naira duluan yang nakal, pa"
"Naiza dulu yang nakal"
"Sudah jangan ribut!" ucap Dokter Juna.
Setelah beberapa menit kemudian sampai di apartemen. Seina langsung turun dan Dokter Juna akan mengantarnya naik keatas tetapi di tolak Seina.
Seina berjalan keatas sendirian, dia gadis yang berani.
Sesampainya di apartemen, ia melihat mamanya sedang mendongengkan Daleon.
__ADS_1
"Mama... aku pulang"
Mauren tersenyum lalu mengecup kening Seina.
"Mama... aku lapar"
"Biar mama ambilkan makan ya," ucap Mauren.
Seina mengiyakan, ia lalu menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Daleon ikut masuk ke kamar, ia mengambil boneka babi milik Seina.
Sreeeeeet....
Dia merobek leher boneka itu menggunakan cutter dan keluar isi kapas dari boneka itu.
Seina sangat terkejut melihat tingkah usil Daleon.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku merobeknya karena bonekamu menggemaskan," jawab Daleon.
"Cepat buang benda tajam itu!"
Mauren masuk ke dalam kamar sambil membawa makanan. Dia terkejut melihat Daleon membawa cutter entah di temukan darimana.
"Dale, mama minta cutter itu," ucap Mauren.
"Gak mau, mah"
"Dale, jangan bandel!"
Daleon menyembunyikan cutter itu di belakang tubuhnya. Mauren mendekatinya tetapi Daleon berlari menjauh.
Mauren sangat khawatir jika cutter itu mengenai Daleon.
"Dale, cepat berikan benda itu!"
"Gak mau, mah"
Mereka sempat kejar-kejaran dan sampai akhirnya Mauren menangkap Daleon.
Mauren merebut cutter itu, tapi na'asnya Daleon memberontak lalu cutter itu mengenai lengan Mauren cukup panjang.
Mauren melepaskannya dan memegangi lengannya yang berdarah-darah.
Daleon masih terpaku memperhatikan mamanya yang kesakitan.
Sedangkan Seina khawatir dan menangis karena sang mama terluka.
"Jangan mainan itu, Dale!" ucap Mauren sambil meringis.
Daleon masih memegang cutter itu yang sudah terkena darah.
"Sheren mau telpon papa ya, ma?" tanya Seina sambil menangis.
"Jangan Sheren! Papamu sedang bekerja. Panggil Uncle Juna saja dan bilang mama minta di jahit tangan mama," pinta Mauren.
Seina menelpon Dokter Juna dan menceritakan hal yang sebenarnya. Dokter Juna terkejut dan segera menuju ke apartemen Mauren.
Sedangkan Daleon masih menatap sang mama yang merintih kesakitan. Dia tanpa ekspresi atau pun khawatir.
"Dale, buang benda itu sayang! Mama mohon!" pinta Mauren.
Daleon menggelengkan kepalanya, ia mundur dan berlari menuju ke kamarnya sambil menggenggam cutter itu.
Beberapa menit kemudian Dokter Juna datang sampai terburu-buru. Bahkan dia tidak jadi mengajak anak-anaknya untuk makan. Setelah di telpon Seina ia langsung ke rumah sakit untuk mengambil alat-alatnya.
"Mauren, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?"
__ADS_1