Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 206 - Menuju terakhir


__ADS_3

Mauren terus saja memandangi Daleon, ia sangat kecewa dengan Daleon yang mendadak di keluarkan dari sekolah.


"Dale, kenapa kau nakal begini? Kau membuat mama kecewa," ucap Mauren memandang putra pertamanya.


"Dale gak salah, mah. Albert yang mulai duluan. Dia memukul Dale"


Mauren menghela nafas, ia bingung dengan sifat Daleon. Bocah kelas 5 SD itu sudah nakal dan suka berkelahi.


Mauren lalu menelpon Sean dan bertanya bagaimana nasib sekolah Daleon.


"Dale akan home schooling saja. Jangan khawatir, Oren! Dale akan baik-baik saja, dia hanya membutuhkan sedikit perlakuan keras dari kita," ucap Sean dari panggilan telepon.


Setelah itu Mauren menutup telponnya. Rasa khawatir membuatnya kebingungan. Daleon masih kecil sudah bersifat seperti ini.


"Dale, setelah ini ikut mama dan papa. Kita jenguk temanmu yang kau pukuli. Mama dengar dia terluka parah," ucap Mauren.


Daleon mendengus lalu masuk kedalam kamarnya. Mauren menatap punggung anaknya dengan rasa cemas.


Dia lalu berkemas untuk menuju ke rumah sakit menjenguk Albert.


"Mama, gambar Navi bagus gak?" ucap Navier sambil menunjukan gambar kepada mamanya.


"Wah... bagus sekali," puji Mauren.


Navier Alister, bocah masih duduk di bangku TK sudah menunjukan kepandaiannya. Dia menang lomba menggambar, berhitung dan berbahasa inggris. Navier sangat jenius bahkan masih kecil saja ia sudah paham tentang seluk beluk perusahaan papanya. Tak jarang Sean mengajaknya ke tempat kerja supaya Navier bertambah pandai.


Sifat Sean menurun kepada Navier, Navier sangat humoris dan suka bercanda.


Mauren lalu mengajak Navier untuk berkemas dan mengajak Daleon untuk segera ke rumah sakit.


Daleon begitu malas tetapi ia terpaksa mengikuti kemauan mamanya.


"Oppa, aku tunggu di rumah sakit ya? Kita jenguk teman yang di pukuli Dale," ucap Mauren melalui panggilan telepon.


"Oren, aku sibuk. Aku akan datang kesana besok. Pekerjaanku tidak bisa di tinggal," ucap Sean.


Mauren menghela nafas, ia tidak bisa memaksa suaminya untuk meninggalkan pekerjaannya.


Pada akhirnya ia pergi bersama Daleon dan Navier ke rumah sakit.


Setelah setengah jam mereka akhirnya sampai di rumah sakit.


Mereka lalu masuk ke ruangan Albert setelah bertanya kepada suster.


Terlihat Louis terkejut melihat kedatangan wanita cantik di ruangan anaknya.


Louis terpana dengan kecantikan Mauren.


"Maaf, apa benar ini ruangan yang merawat Albert? Saya mama dari Daleon," ucap Mauren dengan sopan.


Louis tidak menjawab, ia asyik memandangi wajah Mauren yang sangat cantik dan awet muda.


Louis adalah seorang duda beranak satu, istrinya meninggal saat melahirkan Albert. Louis adalah tipe orang yang setia, buktinya setelah hampir 10 tahun kematian sang istri ia tidak mencari wanita lain.

__ADS_1


"Tuan?" ucap Mauren membuyarkan lamunan Louis.


Bullshit. Sadar Louis! Dia istri orang.


Louis tersenyum lalu mempersilahkan masuk. Mauren lalu memberikan buah-buahan segar untuk Albert. Sedari tadi Louis memandang Mauren tanpa henti. Dia baru pertama kali merasakan debaran hebat di dadanya setelah istrinya meninggal.


"Om kok lihatin mamaku sampe segitunya sih?" celetuk Navier.


Louis langsung tersadar dan nampak salah tingkah. Sedangkan Mauren mencubit pipi Navier.


"Yang sopan," ucap Mauren menggunakan gerakan mulutnya.


Navier menjawab dengan kedua jempolnya seolah mengatakan oke.


"Daleon, cepat minta maaf kepada Albert!" ucap Mauren.


"Aku tidak merasa salah, kenapa harus meminta maaf?" jawab Daleon dengan angkuh.


Mauren memelototi Daleon, Daleon memalingkan wajah dan bersedekap.


Louis hanya tersenyum.


"Tidak papa Nyonya Arsean. Anak kecil sangat wajar jika bertengkar. Anda tidak perlu khawatir. Lagi pula Albert hanya luka ringan di wajahnya dan tidak sampai terlalu fatal," ucap Louis.


Mauren tetap merasa tidak enak, ia meminta maaf sebesar-besarnya kepada Louis dan Albert.


Louis sangat tersentuh dengan kebaikan Mauren.


Albert tertawa ketika sang papa diejek bocah kecil seperti Navier. Louis memang tampan bertubuh kekar dan lengannya di penuhi tatto.


Louis hanya tersenyum kecut ketika mendengar ejekan Navier.


"Maafkan ketidaksopanan anak saya," ucap Mauren merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Anak nyonya lucu sekali," jawab Louis.


"Jangan modus deh, om! Aku tau mamaku cantik tapi jangan di goda gitu!" ucap Navier.


Mauren semakin kesal dengan ucapan Navier. Mauren lalu memutuskan untuk berpamitan setelah meminta maaf dan menjenguk Albert sebelum Navier berucap yang tidak-tidak lagi.


"Tunggu! Bolehkah saya meminta kartu nama nyonya? Saya akan mengirim kuitansi pembayaran biaya kerugian perawatan Albert di rumah sakit ini," ucap Louis.


Mauren menganggukan kepala, ia memberikan kartu nama miliknya kepada Louis. Louis menerimanya dengan senang hati.


"Tuan Louis bisa mengirimkannya kepada saya. Saya akan ganti rugi semua biaya perawatan Albert," ucap Mauren.


Louis tersenyum padahal ia hanya ingin meminta nomor telepon Mauren. Setelah berpamitan mereka segera keluar dari ruangan. Sedangkan Louis hanya tersenyum sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat malam hari,


Keluarga kecil Sean sedang makan malam. Mereka menikmati makanan masing-masing.

__ADS_1


Keluarga Sean kini begitu lengkap menambah keharmonisan keluarga.


"Jadi Dale di keluarkan dari sekolah?" tanya Seina.


"Begitulah," jawab Mauren.


Seina mengelus kepala Daleon tetapi Daleon menepisnya. Dia tidak suka Jika sang kakak mengusap kepalanya seperti anak kecil.


"Dale, mulai besok akan datang guru privat yang akan membimbingmu," ucap Sean.


"Hem," jawab Daleon singkat.


Daleon lalu berdiri dan masuk ke kamarnya meninggalkan makanannya yang masih utuh. Sean sangat kesal karena Daleon tidak punya sopan santun tetapi Sean tidak pernah marah dan memilih membiarkannya.


"Oh ya besok kita foto keluarga 'kan pah?" tanya Seina.


"Iya besok sore"


"Asyik, Sein suka"


Sean menatap anak gadisnya, Seina yang sudah SMP sangat cantik dengan poni dan rambut panjangnya.


Seina begitu pecicilan bahkan sering di panggil guru BK.


"Tadi siapa yang mengantarmu pulang? Dia pakai motor ninja hijau," tanya Sean.


Seina begitu terkejut, mamanya langsung menatap Seina. Bagaimana Sean begitu tau jika Seina diantar pulang seseorang?


"Jawab Seina!" ucap Sean dengan melotot tajam ke arah Seina.


"Itu pacar Seina," jawab Seina ketakutan.


"Apa kau bilang? Kau masih kelas 1 SMP sudah pacaran," tanya Sean begitu marah.


Mauren mencoba menenangkan Sean, ia menyuruh Sean untuk masuk kamar sebelum emosi Sean meledak. Sean merasa sangat gagal membimbing putra dan putri mereka, harapan satu-satunya hanyalah Navier.


"Sudahlah, oppa! Aku akan berbicara dengan Seina dan Daleon. Jangan di pikirkan, oppa! Aku takut oppa akan sakit," ucap Mauren.


"Kenapa anak-anakku liar sekali? Aku hanya ingin mereka jadi anak penurut," jawab Sean.


Lalu Seina menyusul ke kamar orang tuanya. Dia memeluk Sean dan meminta maaf kepada papanya.


"Aku sudah putus sama pacarku, pa. Itu demi papa. Sein gak ingin papa terlalu banyak pikiran," ucap Seina sambil memeluk papanya.


Sean tersenyum lalu mengecup kening Seina. Walaupun Seina terkadang nakal tetapi Seina terkadang jadi anak yang penurut.


"Pa, besok foto keluarga Sein pengen pakai baju baru," ucap Seina.


"Besok kita beli sayang," jawab Sean.


******


Kurang 1 bab lagi mendadak menikah (Sean & Mauren) TAMAT ya gaes.

__ADS_1


__ADS_2