
Seminggu telah berlalu, Navier sudah diperbolehkan pulang 3 hari yang lalu.
Navier kini tengah di susui oleh Mauren dan terlihat Seina, Daleon memperhatikan adik mungilnya.
"Sein, Dale, ayo ikut papa ke supermarket, biarkan Navi minum susu," ucap Sean.
Seina tersenyum lalu menggandeng Daleon untuk ikut papanya.
Sean akan membeli keperluan Navier dan keperluan Mauren.
Sean cuti sebulan untuk ikut mengurus bayi kecilnya.
Sean menggandeng kedua anaknya, mereka berjalan menuju supermarket depan gedung apartemen. Dia menjadi papa yang siaga untuk ketiga anaknya.
"Papa, Dale ingin beli mainan"
"Kemarin baru beli mainan. Boros sekali kau," ucap Sean.
"Kemarin rusak, pa"
"Iya, nanti beli," jawab Sean.
Sean menggenggam erat kedua anaknya lalu menyebrang dengan hati-hati. Seina menyebrang dengan takut karena ia pernah tertabrak waktu itu dan membuatnya trauma.
Setelah menyebrang, Mereka bertiga masuk ke dalam supermarket.
Sean mengambil troli lalu menaikan Daleon di diatasnya.
"Pa, Sein mau beli kinder oy"
"Tidak usah, beli barang yang berguna saja," ucap Sean.
"Papa pelit sekali," ucap Seina.
"Iya papa pelit," sahut Daleon.
Sean tersenyum, ia senang sekali menggoda kedua anaknya.
Sean lalu mengambil barang pesanan Mauren dan beberapa perlengkapan mandi Seina dan Daleon.
Sean menuju ke tempat pembalut.
Mauren meminta kepada Sean untuk membeli pembalut melahirkan. Tetapi Sean bingung yang mana benda tersebut.
Coba ku telpon Kim. Ku suruh dia kemari.
Sean lalu menyuruh sang asisten untuk menyusulnya di supermarket. Sean ingin bertanya pada pegawai disana tetapi ia sangat malu.
Dulu saat melahirkan Daleon, Sean tidak pernah membeli keperluan Daleon sendiri. Dia selalu menyuruh orang dan kali ini Mauren meminta Sean untuk membeli keperluan Daleon sendiri.
Sambil menunggu Kim datang, ia mengajak kedua anaknya untuk mengambil camilan.
Sean begitu banyak mengambil camilan untuk kedua anaknya.
"Papa, Dale minta mainan"
"Nanti papa belikan," jawab Sean.
Daleon tidak sabar lalu menggandeng papanya untuk membeli mainan robot baru. Sean menghela nafas lalu menuruti anak kesayangannya, tidak lupa ia juga menggandeng Seina untuk ikut dengannya.
Tidak berselang lama, Asisten Kim datang bersama putranya yaitu Ali. Ali memang tidak bisa di tinggal.
__ADS_1
"Ada apa, tuan?" tanya Asisten Kim.
"Oh Kim, kau tau pembalut melahirkan itu seperti apa?" ucap Sean.
Asisten Kim mengerutkan dahi, ia tersenyum lalu menunjukan pembalut melahirkan seperti apa. Sean terkejut karena bentuknya sama seperti pembalut biasa cuman lebih panjang.
"Ada lagi, tuan?" tanya Asisten Kim.
"Sudah, Kim. Terima kasih. Eh... tapi kenapa kau tidak berada di kantor?" ucap Sean.
"Tuan sendiri yang memberi saya cuti satu hari"
Sean lupa jika ia memberikan cuti sehari untuk sang asisten yang berusaha keras untuk mengelola perusahaan.
Sean menepuk bahu sang asisten, ia banyak berterima kasih kepada Asisten Kim yang ada dikala kesusahan.
Tetapi tiba-tiba Ali menangis membuat Asisten Kim kebingungan.
"Kenapa, Ali?" tanya Asisten Kim.
"Kak Dale mencubitku," jawab Ali sambil menangis.
"Dale kenapa nakal? Ayo minta maaf sama Ali!" pinta Sean.
Daleon mendengus, ia memalingkan wajah. Asisten Kim tersenyum, anak dari sang tuan begitu menggemaskan.
Asisten Kim lalu berjongkok di depan Daleon sambil memangku Ali yang masih menangis.
"Tuan muda Daleon kenapa mencubit Ali?" tanya Asisten Kim sambil tersenyum.
"Ayo bertengkar Ali! Ali tadi mengejekku," ucap Daleon.
Asisten Kim tertawa, ucapan Daleon mirip dengan sang tuan yang selalu mengajaknya bertengkar.
"Benar, tuan. Sayang sekali anak Dokter Juna perempuan. Jika laki-laki bisa jadi penerus kita," jawab Asisten Kim.
Mereka mengingat kejadian demi kejadian yang telah di lalui. Pertengkaran mereka tak pernah terlupakan, kekonyolan mereka juga tidak akan mudah di lupakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arkan sedang mengutak-atik motor milik pelanggannya. Dia sangat serius sampai ia tidak mengetahui kedatangan Alana. Alana kini tengah hamil muda setelah pernikahannya 6 bulan yang lalu.
"Sayang?" ucap Alana.
Arkan menengok kebelakang, ia terkejut dengan kedatangan sang istri tercintanya.
"Istriku kenapa datang kemari?" tanya Arkan sambil berdiri.
Alana cemberut membuat Arkan sangat gemas kepadanya.
Alana lalu menyuruh Arkan segera mencuci tangan untuk makan bersama.
Alana terlihat membuka kotak makanan dan menyiapkannya di meja.
Beberapa menit kemudian Arkan datang dan langsung melahap makanan buatan sang istri tercinta.
"Besok kita jatah kontrol ke dokter," ucap Alana.
"Iya sayang, besok kuluangin waktu untukmu dan bayi kita," jawab Arkan.
Alana tersenyum walaupun Arkan 3 tahun lebih muda darinya tetapi Arkan terasa lebih dewasa darinya dan selalu perhatian dengannya.
__ADS_1
"Setelah ini kita jenguk bayinya Sean, ya? Kita 'kan belum sempat menjenguk. Aku sudah membawa kado sekalian," ucap Alana.
"Baik sayang, apasih yang gak buat kamu," jawab Arkan menggoda.
Disisi lain, Zara, Sera beserta anak-anaknya menjenguk Mauren dan Navier.
Mereka membawa banyak kado untuk putra kedua sang kakak.
Mauren terlihat sangat senang dan mengucapkan banyak terima kasih kepada adik-adik iparnya.
"Ku dengar kau hamil lagi, Zara?" tanya Mauren.
"Iya kak, baru dua bulan," jawab Zara.
"Ini kok pada hamil semua ya? Apa lagi musim hamil? Kak Mauren baru saja melahirkan, Zara hamil dan Kak Alana juga hamil," ucap Sera.
"Terus kau sendiri bagaimana, Sera? Ali sudah besar apa tidak kau buatkan dia adik?" goda Mauren.
Sera tersenyum kecut, bikinnya setiap hari tapi memang ia masih takut untuk melahirkan lagi.
Mereka lalu mengobrol kesana kemari ala emak-emak. Terlihat mereka semakin akrab tidak seperti ipar pada umumnya yang sering berkelahi atau berseteru.
Naira dan Naiza senang melihat Navier, ia terus saja mencubit pipi Navier dengan gemas.
"Biarkan dia bobok, sayang," ucap Zara.
"Dedeknya lucu, mah"
"Di perut mamamu ada dedeknya juga lho," goda Sera kepada keponakan kembarnya.
Mereka bersenda gurau menikmati suasana kekeluargaan ini dan di saat bersamaan Sean dan Kim datang bersama Daleon dan Ali.
Daleon dan Ali sedari tadi terus bertengkar jika berdekatan.
"Mama... Kak Dale nakal," ucap Ali melapor kepada Sera.
Sera memeluk Ali dan memandang Daleon yang memelototinya.
"Kak Sean, Daleon pasti gedenya jadi preman. Pasti ini ajarannya Kak Sean," ucap Sera bergurau.
"Seorang pemimpin harus begitu. Harus tegas dan berani, benar 'kan Dale?" ucap Sean.
"Dale tidak bolah nakal ya? Kasian Ali," ucap Mauren.
Daleon memalingkan wajah lalu duduk di sofa sambil membuka mainan barunya. Walaupun banyak orang tetapi Daleon lebih suka sendirian.
Sedangkan Seina duduk disebelah mamanya dan asyik memperhatikan Navier yang meminum asi.
Ali melirik Daleon yang asyik membuka mainan barunya. Ali yang sangat ingin melihat mainan Daleon lalu turun dari pangkuan mamanya dan menghampiri Daleon.
"Kak Dale, Al mau lihat mainannya boleh gak?" tanya Ali.
Daleon memalingkan wajah dan menyembunyikan mainan nya dibelakang tubuhnya.
Ali langsung menangis kencang membuat Sean langsung menggendong Ali dan mengecup pipinya berulang kali.
"Muah... muah... muah... Ali kenapa cengeng sekali? Bagaimana nanti jadi asistennya Daleon jika cengeng begini?" goda Sean.
"Ali gak mau jadi asisten, Ali mau jadi astronot," jawab Ali dengan gemasnya.
"Pa... turunkan Ali, pa! Dale gak suka jika papa gendong Ali," ucap Daleon.
__ADS_1
Semua orang tertawa menikmati kebersamaan ini apalagi bersama anak-anak mereka yang menggemaskan.
Termasuk Mauren, ia tersenyum bahagia melihat hidupnya yang sekarang apalagi kehadiran Navier pasti menambah keramaian keluarga kecilnya nanti.