Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Sean Marah


__ADS_3

"Aku sungguh kecewa padamu Mauren," ucap Sean lalu pergi menuju kamar mandi.


Mauren menghela nafas panjang, ia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Sean yang sudah terlanjur marah. Dia menunggu Sean keluar dari kamar mandi tetapi setelah Sean keluar malah tidak menghiraukan Mauren yang memanggil namanya.


Pria itu berjalan kearah kolam renang, ia melepas bajunya dan menceburkan diri di kolam renang yang dingin itu.


Sean nampak sangat tampan ketika berenang, tubuhnya yang putih bersih serta berotot membuat Mauren menelan ludah.


Mata oh mata. Kenapa mata ini tidak bisa berkedip? Apa yang kau inginkan?


Tuhan. Kenapa kau ciptakan makhluk setampan oppaku? Terima kasih Tuhan engkau telah menjodohkan makhluk sempurna itu kepadaku.


Mauren berjalan menuju kearah kolam renang, ia mencoba mengajak Sean untuk berbicara tetapi Sean tidak memperdulikan dan asyik berenang.


"Oppa baru sembuh jangan berenang dulu oppa," ucap Mauren khawatir.


Tetapi pria itu tidak menghiraukan membuat Mauren kesal, Mauren meninggalkan handuk di kursi pinggir kolam renang dan berjalan masuk ke kamar.


Dia merebahkan tubuhnya di ranjang dan membuka ponselnya, ia memblokir akun Reza, ia tidak ingin mendapat masalah baru lagi. Masalah sepelenya bisa membuat Sean sangat marah kepadanya, padahal Sean hanya salah paham.


Mauren mencoba menelpon Asisten Kim, ia menyuruh agar tidak menuruti perintah gila dari Sean yang akan membom rumah sang mantan. Asisten Kim tertawa, ia tidak akan menuruti perintah konyol dari sang tuan.


Tiba-tiba terdengar pintu bel masuk berbunyi, Mauren terkejut dan menerka-nerka siapa yang datang, ia melirik Sean yang sedang asyik berenang melalui jendela kaca besar.


Nampaknya Sean tidak menyadari bunyi bel itu. Dengan hati-hati Mauren melangkah menuju pintu, ia melihat layar yang terpasang ditembok. Disana ia bisa melihat langsung siapa yang datang dan ternyata dokter Juna.


"Ku pikir siapa? Masuklah dokter," ucap Mauren.


"Dimana Sean? Sombong sekali dia. Aku masuk sampai disini pun harus melewati banyak bodyguard dan mereka menggeledah semua barang bawaanku"


"Dia berenang," ucap Mauren menunjuk kearah kolam renang.


Dokter Juna terkejut, ia langsung menghampiri Sean dan memarahinya.


Padahal kondisi Sean belum sepenuhnya pulih malah sudah berenang seenaknya.


Sean hanya meliriknya dan tidak menghiraukan dokter Juna.


"Cepat keluar Sean! Aku harus segera memeriksamu, pekerjaanku bukan hanya mengurusimu saja," ucap dokter Juna.

__ADS_1


"Pergilah kau! Siapa juga yang menyuruhmu masuk kesini?"


"Yasudah jika kau tidak mau diperiksa. Aku akan memeriksa istrimu yang sangat cantik itu"


Mendengar ucapan dokter Juna, Sean langsung marah dan segera keluar dari kolam renang. Dia mengambil handuk yang diletakkan Mauren dikursi dan mengelap air yang berada ditubuh Sean.


Sean berjalan keruang ganti dan memakai pakaian supaya tidak kedinginan. Setelah itu menghampiri Mauren dan dokter Juna yang sudah berada di kamar.


"Kau tidak sopan masuk tanpa izin kerumah orang Juna. Lain kali kuusir kau dari sini"


"Aku datang kesini juga disuruh kakekmu. Gaya sekali kau menggunakan banyak bodyguard disini," jawab dokter Juna sambil mengoleskan antiseptik di luka Mauren.


Mauren nampak meringis ketika lukanya diberi obat antiseptik, Sean memandanginya tidak tega lalu menyuruh dokter Juna untuk mengusapnya pelan. Mauren tersenyum ternyata Sean tidak semarah itu kepada dirinya. Tiba-tiba Sean mendapat telpon dari Asisten Kim bahwa penjambret itu telah tertangkap, Sean menyuruh agar penjambret itu dihukum seadil-adilnya.


10 menit kemudian.


Dokter Juna telah mengobati luka Mauren, ia lalu memeriksa keadaan Sean tetapi pria itu menolak dan meyakinkan dirinya baik-baik saja. Dokter Juna menggeleng-gelengkan kepala melihat Sean yang begitu keras kepala, ia lalu mengemasi barangnya dan kemudian pergi.


Setelah memastikan dokter Juna pergi, Sean merebahkan dirinya diranjang dan memilih bermain game, sedangkan Mauren menelpon pelayan untuk membawakan makanan untuk mereka.


_______________________________________


Aktivitas seharian ini mereka hanya melakukan bermain ponsel, menonton TV dan rebahan di ranjang tetapi mereka terlihat tidak mengajak berbicara satu sama lain.


Sean masih kesal dengan Mauren dan Mauren tidak berani mengajak bicara.


Mauren merasa bosan dan ingin memakan camilan, ia memutuskan untuk membeli beberapa snack di minimarket depan apartemen mewah ini tetapi ia teringat jika tidak memiliki uang sepeserpun karena dompetnya belum dikembalikan oleh pihak kepolisian. Dengan cukup keberanian ia meminta uang kepada Sean yang sedari tadi cuek kepadanya.


"Oppa. Bolehkah aku minta uang untuk membeli beberapa camilan di minimarket bawah?" tanya Mauren ragu.


"Tidak"


"Oppa. Aku tidak punya uang sama sekali, dompetku pun belum kembali"


"Tidak"


Mauren merengut lalu merebahkan dirinya membelakangi Sean dan memeluk guling, ia cukup kesal dengan suaminya yang terkadang sangat pelit.


Sean yang terduduk diranjang sambil bermain ponsel melirik Mauren, ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang 200 ribu.

__ADS_1


"Nah ini uangnya. Jangan menangis kau!" ejek Sean.


Tetapi Mauren diam tak bergeming, Sean dengan penuh curiga membalikan badan Mauren kehadapannya. Dia melihat gadis kesayangannya menangis sambil menutup mata.


"Hey! Tidak diberi uang saja sampai menangis kau"


Tangisan Mauren semakin kencang membuat Sean khawatir, ia segera mengangkat tubuh Mauren ke dadanya. Sean mengelap air mata Mauren yang menetes tidak ada habisnya.


Apakah aku keterlaluan dengannya sampai ia menangis sesegukan begini?


"Cengeng sekali kau tidak diberi uang menangis seperti anak kecil, cup cup cup," goda Sean sambil memeluk Mauren.


Mauren mencubit dada Sean sangat keras membuat Sean terkejut dan berteriak kesakitan.


"Oppa tega denganku! Sedari pagi tidak mengajakku berbicara dan oppa selalu ketus kepadaku padahal aku hanya mencintai oppa bukan mantan brengsekku itu. Oppa hanya salah paham. Hiks hiks hiks," jelas Mauren sambil terisak.


Sean tersenyum lebar, ia mencoba menghentikan tangisan Mauren. Dia meminta maaf karena telah salah paham kepada Mauren, Sean percaya jika Mauren sangat mencintainya. Dia lalu mengusap airmata Mauren dan mencium keningnya.


Mauren tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan meraih uang 200 ribu yang tergeletak di sampingnya.


"Makasih oppa," ucap Mauren sambil berlari keluar kamar dan Sean ternganga menatapnya.


"Sialan! Hanya akting kau ya!"


**


Mauren menuju minimarket dengan riang, ia mengambil beberapa snack dan minuman soda. Lalu tak lupa ia melihat barang-barang yang dijual di minimarket itu, ia suka sekali melihat itu karena bisa merilekskan pikiran yang jenuh yang seharian ini terkurung dalam apartemen mewah.


Sudah 15 menit ia memutari minimarket itu sampai ia merasa cukup dan harus segera membayar di kasir, tetapi ia terkejut saat melihat anak kecil menangis didepan kasir bersama ibunya. Ternyata anak kecil itu menginginkan sesuatu tetapi ibunya tidak mengizinkannya, Mauren sangat iba lalu dengan cepat membelikan apa yang diinginkan anak kecil itu.


Bersambung...


___________________________


Hallo ini author


terima kasih telah membaca cerita saya.


mohon dukungannya dengan memberi like, vote, komen dan rate5 pada novel ini.

__ADS_1


boleh kasih saran juga kok supaya saya bisa memperbaiki cerita ini


__ADS_2