Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 67 : Orenku


__ADS_3

Keheningan malam menyelimuti malam ini.


Tak juga terlihat bulan yang biasanya bersinar bahkan kendaraan pun sudah tidak ada yang melintas di pinggir kota.


Waktu sudah menunjukkan tengah malam, suasana semakin mencekam.


Tetapi gadis itu tetap melangkah mendekati sebuah jembatan besar yang terkenal angker bila dilewati malam hari.


Bahkan bunyi jangkrik maupun hewan malam juga tidak terdengar menambah kesunyian malam ini.


Mauren menyipitkan mata ketika melihat seseorang berdiri di tengah jembatan yang berjarak hampir 20 meter dari ia berdiri sekarang. Dia mencoba mendekatinya tanpa rasa takut, semakin dekat semakin jelas bentuk dari seseorang itu.


Perempuan bergaun merah dan berambut panjang menatap kosong kearah Mauren.


Bukannya takut, Mauren malah semakin mendekatinya.


Terlihat jelas wanita itu cukup menyeramkan, berwajah pucat dengan ekspresi datar dan tidak memiliki bulatan warna hitam di matanya.


"Kau ingin menakutiku?" tanya Mauren tak kalah menunjukan ekspresi datarnya.


"Aku sedang galau jadi rasa takutku telah hilang walau kau menunjukan wujud terserammu," sambung Mauren sambil melangkah menuju besi jembatan dan menghadap langsung ke sungai yang besar di bawah.


Mauren mulai menangis terisak tatkala ia mulai bercerita tentang kehidupannya mulai dari keluarganya yang miskin sampai kini ia telah menikah dan dihina oleh ibu mertuanya.


Dadanya mulai sesak saat bercerita tentang suaminya yang akan menikah lagi dengan wanita lain.


"Hiks.. hiks.. hiks.. aku harus bagaimana? aku sangat mencintai pria itu. Kenapa kisah cintaku selalu berakhir tragis? Dan pasti ada orang ketiga diantara kami"


Mauren lalu mengusap air matanya tatkala seseorang menyentuh bahunya. Dia melirik orang tersebut lalu meloncat kaget yang ternyata hantu tadi.


"Aaah... kau membuatku terkejut. Tapi kumohon jangan tersenyum begitu. Nyeremin banget tauk"


Mauren menghela nafas, ia mengelus dadanya lalu mulai kepo tentang hantu tadi.


"Kau sungguh hebat. Kau sangat terkenal di kalangan manusia, hantu si gadis jembatan poncol, benar 'kan?


Hantu itu hanya diam menatap datar Mauren, ia berpikir ternyata ada manusia seperti Mauren yang tidak takut dengannya.


"Kau mati diperkosa 'kan? Dan saat itu kau kebetulan memakai baju merah jadi hantu mu kini juga memakai gaun merah. Keren juga," ucap Mauren tersenyum.


Hantu itu membalas senyuman Mauren tetapi membuat Mauren selalu terkejut ," Hey! Sudah ku bilang jangan tersenyum! Serem banget!"


"Tapi jika aku bunuh diri disini maka hantu ku memakai pakaian seperti ini," ucap Mauren sambil melihat pakaian yang dikenakan.


"Haha... bisa diangkut Om-Om dong aku," sambung Mauren yang ternyata ia mengenakan celana pendek super ketat sejenis hotpans.


Mauren menghela nafas, ia mulai naik di besi jembatan. Dia bisa melihat air sungai yang nampak tenang dari atas.


"Tinggi sekali," ucap Mauren yang nyalinya menjadi ciut ketika memandang ke bawah.


"Bagaimana ini? Mau mati pun susah sekali"

__ADS_1


Disaat itu juga terlihat mobil Sean mendekati jembatan itu, Sean dan Asisten Kim sangat kaget ketika melihat Mauren sudah berdiri di besi jembatan.


Tapi ketika itu Mauren banyak bergerak dan kehilangan keseimbangan yang membuat dirinya terjatuh dari jembatan setinggi 10 meter itu.


"OREEEEEEN," teriak Sean sambil keluar dari mobil.


Sean terkejut saat Mauren melompat dari jembatan.


Asisten Kim tak kalah paniknya, mereka lalu berlari kearah dimana Mauren meloncat.


Sean seketika ingin melompat tetapi dicegah Asisten Kim.


"Jangan melompat Tuan!"


"Terus harus bagaimana? Aku harus salto guling-guling begitu?" tanya Sean marah.


"Kita bisa lewat ba...,"


Belum sempat Asisten Kim menyelesaikan kalimatnya Sean sudah melompat dari jembatan.


Byuuuurrrr


Sean untungnya pandai berenang, ia menyelami sungai yang cukup dangkal itu selama 5 menit sampai ia melihat tubuh Mauren lalu ia menariknya sampai keatas permukaan.


Sean lalu berenang ke tepi sungai sambil membawa tubuh Mauren yang sudah tidak sadarkan diri..


Sedangkan Asisten Kim sudah berada di tepi sungai untuk membantu mengangkat tubuh Mauren.


Uhuk uhuk uhuk uhuk...


Sean yang memangku Mauren sangat lega ketika menyadari Mauren sudah sadar.


Mereka saling bertatapan dan Sean mengelus kening Mauren.


"Oren," ucap Sean sedih.


"Oppa," jawab Mauren tak kalah sedih.


"Oren," ucap Sean lagi.


"Oppa," jawab Mauren lagi.


"Oren," panggil Sean tidak tega melihat Mauren.


"Oppa"


"Oren"


"Hei kalian! Apakah dramatisnya bisa di tunda dulu? Ayo cepat kita bawa Nona ke rumah sakit," ucap Asisten Kim kesal.


Sean berdecak lalu dengan sigap ia menggendong Mauren menuju ke mobil.

__ADS_1


Sean memeluk Mauren dengan erat yang ada dipangkuannya saat mereka sudah duduk di mobil dan Asisten Kim segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Mauren mulai menangis teringat Sean yang bertunangan dengan Alana, ia terisak membuat Sean tidak tega.


"Oren. Jangan pernah mencoba melakukan itu lagi! Aku takut kehilanganmu, Oren"


"Hiks.. hiks.. Oppa jahat! Oppa mau menikah lagi, lalu aku bagaimana, Oppa? Aku mencintaimu, Oppa"


"Siapa yang akan menikah lagi? Kau salah paham, Oren. Dan jangan pernah mencoba bunuh diri lagi! Aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika kau sampai mengulanginya"


Sean lalu mengusap air mata Mauren yang mengalir tanpa ampun, ia lalu mengecup kening gadis itu dan memeluknya erat di pangkuannya.


Sesampainya di rumah sakit.


Setelah di periksa oleh dokter, Mauren segera istirahat dan mulai tertidur karena malam semakin larut.


Terlihat Sean menemani Mauren hingga terlelap sambil menggenggam tangannya.


Kau pasti sangat mencintaiku, Oren. Hingga kau nekat bunuh diri seperti itu.


Di saat bersamaan Asisten Kim masuk di ruangan rumah sakit itu. Dia membawa pakaian baru untuk Sean dan Mauren.


Sean segera berganti baju sedangkan Mauren sudah mengenakan baju rumah sakit jadi sudah tidak perlu berganti pakaian.


"Aku mau ganti pakaian dulu, Kim. Ularku sudah menjadi pisang rebus karena kedinginan," ucap Sean sambil menuju kamar mandi yang berada di ruangan itu.


"Baik Tuan"


Setelah memastikan Sean masuk ke kamar mandi, Asisten Kim mendekati Mauren.


Dia memandang wajah Mauren yang terlelap.


Dia mengelus rambut Mauren yang masih sedikit basah.


"Bukan hanya Tuan Sean yang khawatir, aku juga khawatir Nona. Kau pasti sangat mencintai Tuan Sean hingga nekat melakukan itu. Aku akan berusaha melindungimu, Nona. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu. Aku memang terlihat konyol menyukai istri tuanku sendiri tetapi aku sudah bahagia jika kalian bisa bahagia. Biarlah cintaku bertepuk sebelah tangan, cukup aku yang mencintaimu dalam diam. Cinta memang tak harus memiliki," ucap Asisten Kim sambil mengusap rambut Mauren.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, ternyata itu Sean yang keluar dari kamar mandi. Asisten Kim segera menjauhi Mauren lalu berpura-pura memainkan ponselnya.


"Kau tidak pulang, Kim?"


"Saya sudah mengantuk berat, Tuan dan tidak memungkinkan untuk menyetir mobil"


"Yasudah kau tidur disofa saja," ucap Sean sambil menunjuk sofa putih di ruangan itu.


"Baik Tuan"


Sedangkan Sean segera naik ke ranjang dan tidur disebelah Mauren. Ranjang rumah sakit itu cukup besar bahkan bisa memuat 3 orang sekaligus.


Sean mengelus pipi Mauren dan mengecupnya lalu tak lama kemudian Sean mulai terlelap memasuki alam mimpi.


Asisten Kim tersenyum melirik mereka yang sudah tertidur. Dia bisa bahagia jika sang tuan kini sudah menemukan pujaan hatinya.

__ADS_1


Sekarang gilirannya yang harus menemukan cinta pengganti walaupun itu sangat susah.


__ADS_2