
Sesampainya di cafe, Mauren langsung menghampiri Arkan yang sudah terduduk menunggunya. Arkan melihat raut wajah Mauren yang masam.
"Kenapa cantik? Kau tidak suka bertemu denganku?" tanya Arkan sambil menyedot jus mangganya.
Mauren tidak menjawab pertanyaan Arkan, ia langsung memanggil pelayan.
Dia memesan banyak makanan sampai Arkan heran.
"Entar gendut lho jika banyak makan," goda Arkan.
Mauren langsung menatap sinis kearah Arkan membuat Arkan menelan ludah karena baru pertama kali melihat seorang gadis yang sedang marah.
Arkan lalu mengambil sebuah anting yang di temukannya, ia lalu menyerahkan kepada Mauren.
"Apakah ini antingmu?" tanya Arkan.
Mauren mengambil anting itu lalu melihatnya, memang benar jika anting itu adalah miliknya.
Kenapa aku tidak menyadari jika aku hari ini memakai satu anting? Batin Mauren sambil memakai antingnya lagi.
"Terima kasih," ucap Mauren.
"Sepertinya moodmu sedang tidak baik?" tanya Arkan.
"Hem"
"Okelah aku tidak ingin membuat moodmu bertambah buruk, aku akan segera pergi," ucap Arkan langsung berdiri tetapi Mauren mencegahnya.
"Tunggu! Aku memesan makanan begitu banyak dan tidak yakin menghabiskannya, jadi ku mohon bantu aku makan," pinta Mauren.
Arkan lalu duduk kembali, sedangkan Mauren kini tengah fokus dengan ponselnya. Sedari tadi ia berusaha menelpon Sean tetapi selalu nihil membuatnya semakin khawatir dan takut jika Sean memang benar berselingkuh.
"Ada apa?" tanya Arkan.
Sebelum Mauren menjawab pelayan datang membawa semua makanan yang ia pesan sedangkan Arkan tidak akan sanggup menghabiskan semua makanan ini.
Mauren dengan lahap memakan makanannya, ia makan seperti orang yang kelaparan membuat Arkan menelan ludah melihat Mauren.
"Ayo cepat makan!" ucap Mauren yang melihat Arkan hanya terbengong menatapnya.
Arkan langsung memakannya dengan pelan-pelan. Dia lalu teringat jika ia tidak menbawa uang banyak dan tidak membawa kartu debit miliknya.
Dia makan menjadi tidak tenang dan tidak berselera makan.
Aku sangat suka jika gadis ini makan denganku tetapi ya gak sebanyak ini juga. Batin Arkan.
"Tunggu, Mauren! Siapa yang akan bayar semua makanan ini? Uangku kurang dan kartu debitku tertinggal di rumah," ucap Arkan khawatir.
"Aku yang bayar," jawab Mauren singkat.
Tidak mungkin aku membiarkan gadis ini membayarnya.
Arkan lalu menelpon temannya untuk meminjam uang dan ia akan menggantinya esok hari. Setelah menelpon ia melihat Mauren lagi, Mauren makan mie kuah dengan lahannya sampai menimbulkan bunyi slurrp slurrp slurrp...
Gadis ini memang sangat unik, dia tidak jual mahal dengan cara makannya yang bisa dibilang tidak sopan dan bar-bar.
Sampai mata Arkan terkena cipratan mie kuah tersebut membuat matanya perih karena efek pedas dari kuah itu.
"Aaaaaw... mataku... perih... aaaw"
__ADS_1
Mauren menghentikan makannya, ia melihat Arkan yang mengucek matanya.
Dia lalu mengambil tisu lalu menyerahkannya kepada Arkan. Arkan dengan cepat mengambilnya.
"Ngeri juga cara makanmu, Mauren"
"Kau yang salah, kenapa makan di depanku?" ucap Mauren marah.
Perempuan memang selalu benar, dia yang salah aku yang disalahkan. Batin Arkan.
"Kau kenapa manis? Sepertinya sedang punya masalah"
"Suamiku sedang berselingkuh, ia pergi ke hotel bersama perempuan"
"Kau melihatnya sendiri?"
Mauren menghentikan makannya, ia lantas meletakan garpunya di piring.
"Aku melihatnya sendiri, aku mengikuti suamiku sampai di hotel"
"Kenapa kau tidak melabraknya?"
Mauren terdiam, ia lalu menyeruput minumannya. Dia berpikir jika ia memang bodoh kenapa ia tidak melabraknya langsung.
"Benar juga, ayo antar aku ke hotel itu!" pinta Mauren.
Mauren lalu memanggil pelayan dan meminta bill kepada pelayan itu.
Dia lalu mengambil kartu debit milik Sean yang diberikannya siang tadi lalu memberikannya kepada pelayan itu.
"Eh aku yang bayar saja. Tunggu temanku datang!" ucap Arkan.
Harga diriku jatuh. Sial.
Bisa-bisanya aku ditraktir makan oleh perempuan.
Setelah membayar mereka bergegas naik motor menuju hotel yang di singgahi Sean. Mauren yang tidak mengenakan helm merasa risih karena rambutnya menjadi kusut, lantas ia meminta Arkan untuk berhenti.
"Ada apa?" tanya Arkan.
"Lihat rambutku rusak terkena angin!"
"Jika tidak ingin rusak naik taksi saja!"
"Kau sudah kubayari makan malah mengatakan seperti itu"
"Ya.. ya.. besok ku ganti. Tidak ikhlas kau mentraktirku makan"
"Cepatlah ke hotel! Ngoceh terus kau ini," ucap Mauren kesal.
"Kau yang mengajak berhenti dan kau juga yang marah," jawab Arkan tak kalah kesal.
Arkan melajukan motornya menuju hotel dengan kencang membuat Mauren terpaksa berpegangan erat pada jaket Arkan. Nampak angin terlihat rambut Mauren semakin rusak dan berantakan, ia ingin sekali turun dari motor itu lalu naik taksi saja tetapi ia urungkan karena tidak ingin membuang-buang waktu.
15 menit kemudian.
Mauren turun dari motor Arkan kemudian ia langsung berlari menuju resepsionis dengan Arkan yang di sebelahnya.
Tetapi disaat bersamaan Sean dan Asisten Kim terlihat keluar dari lift, mereka melihat gadis yang mirip dengan Mauren yang sedang di depan loby berbicara dengan resepsionis.
__ADS_1
Sean dan Asisten Kim lalu menghampirinya.
"Oren?" ucap Sean.
Mauren dan Arkan membalikan badan membuat Sean sangat terkejut karena melihat sang istri bersama adik tirinya.
Sean lantas menarik tangan Mauren dengan kuat tetapi tiba-tiba Arkan juga memegang tangan Mauren membuat langkah Sean terhenti lalu menghadap Arkan.
"Abang tidak boleh kasar dengan perempuan," ucap Arkan.
"Sialan kau! Tidak ada urusannya denganmu," jawab Sean menatap tajam Arkan.
Mauren meringis kesakitan ketika dua pria yang memegang tangannya nampak semakin menggenggam tangannya dengan kuat.
"Itu urusanku, Bang. Aku tidak suka jika perempuan dikasari di depan mataku"
Sedangkan Asisten Kim mengkode Arkan untuk melepaskan tangannya tetapi malah Arkan seolah tidak mempedulikan ucapan Asisten Kim.
"Bangs*t kau! Cepat lepaskan tangan istriku!" ucap Sean dengan sorot mata tak main-main.
Istri? Batin Arkan terkejut.
Dan saat itu Arkan melepaskan tangan Mauren, ia menatap Mauren dan merasa kecewa. Dia tidak menyangka jika gadis yang di sukainya adalah istri kakak tirinya.
Sean dengan kuat menarik tangan Mauren menuju keluar hotel. Dia sangat emosi karena melihat sang istri malah masuk ke hotel bersama pria lain.
"Lepaskan, Oppa! Sakit, Oppa"
Sean tidak menggubris ucapan Mauren, ia menarik tangan Mauren dengan kuat lalu menghempaskan tubuh Mauren sampai tubuh gadis itu terbentur mobil cukup kuat.
Braaak...
Mauren meringis kesakitan, ia memegangi pundaknya yang terbentur mobil mahal itu. Mauren heran kenapa Sean begitu marah padahal yang harusnya marah adalah dia.
"Kau keterlaluan, Oren. Bisa-bisanya check in di hotel dengan pria lain," ucap Sean kesal.
"Maksud Oppa apa? Oppa 'kan yang check in dengan gadis lain. Oppa yang keterlaluan," teriak Mauren.
Sean terkejut ketika Mauren berteriak kepadanya. Dia mendekati Mauren, ia langsung mencengkeram dagu Mauren.
Mauren begitu ketakutan melihat Sean yang seolah ingin menyakitinya.
Asisten Kim dan Arkan yang melihat Sean seolah ingin menyakiti Mauren dengan cepat berlari kearah mereka tetapi mereka dibuat terkejut ketika Sean tiba-tiba melum*t bibir Mauren.
Mereka langsung terhenti lalu memalingkan wajah.
Sean menggigit nikmat pada bibir istrinya, ia seolah melampiaskan kemarahan dengan ciuman panas itu.
Tetapi seketika Mauren mendorong tubuh Sean. Dia sangat malu jika harus berciuman di tempat umum.
Sean berdecih, ia menatap lekat wajah Mauren.
"Dasar playgirl! Kau membuatku kecewa, apa yang sudah kau lakukan dengan Arkan? Jadi lelaki yang kau temui akhir-akhir ini adalah Arkan?" tanya Sean.
"Abang salah paham, kami tidak ada hubungan apa-apa? Aku juga tidak tau jika Mauren adalah istri Abang. Jika tau aku tidak akan mendekatinya, maafkan aku," ucap Arkan yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.
Sean menatap tajam kearah Arkan seolah ingin menerkam. Sedangkan Mauren memperhatikan wajah mereka yang sangat mirip dari mulai alis, mata, hidung dan bibir, semuanya begitu mirip.
Apa dia saudara Oppa? Tapi Oppa bilang di keluarga Adinata hanya Oppa yang laki-laki. Lalu siapa Kak Arkan sebenarnya?
__ADS_1