Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM2 : Bab 198 - Tertabrak


__ADS_3

Mauren masuk ke dalam apartemen merasa kesal. Kedua anaknya hanya memandangi Mauren yang duduk disofa sambil mendongak menatap langit kamar.


Mauren memang tidak ingin berurusan dengan papanya. Apalagi pria itu pernah menghinanya.


"Mama kuambilkan minum ya?" tanya Seina melihat sang mama yang nampak kesal.


"Tidak usah, Sheren! Kalian masuk kamar saja, setelah ini mama akan membawakan es krim untuk kalian," ucap Mauren.


"Tapi ma..."


Mauren tersenyum lalu mengantar anaknya masuk kamar. Mauren menyuruh Seina untuk mengajak bermain Daleon.


Setelah itu Mauren merebahkan diri di kamarnya. Dia juga terlihat memegang perutnya.


Aku sedang hamil. Jangan dibawa emosi.


Mauren begitu membenci sang papa. Dia tak seharusnya melakukan itu kepada mamanya. Padahal ia sudah beristri. Anaklah yang akan menjadi korban. Tapi untung saja ia mempunyai orang tua asuh yang sangat baik.


***


Keesokan harinya.


Mauren mendapat kabar jika ibunya masuk rumah sakit. Dia bergegas menuju kesana meninggalkan Seina dan Daleon bersama Sean.


Sean tidak keberatan untuk mengajak 2 anaknya ikut bekerja.


"Oppa, besok oppa bisa 'kan jemput aku disana?" tanya Mauren sambil menyiapkan kebutuhan kedua anaknya.


"Bisa sayang," jawab Sean sambil mengemas tas milik Seina.


"Dale, Sheren. Jangan bandel ya! Besok mama akan pulang. Nenek sedang sakit," ucap Mauren.


Mereka menganggukan kepala seolah mengerti.


Mauren yang sudah siap langsung berpamitan kepada mereka. Dia harus segera ke rumah sakit untuk menunggu ibunya.


"Kita makan dulu, kalian makan sendiri!" ucap Sean.


Sean mengajak kedua anaknya untuk sarapan bersama sebelum berangkat ke kantor. Sean lebih memilih membawa anaknya ke kantor dari pada meninggalkannya bersama orang lain.


Kedua bocah itu makan dengan lahap sampai habis tak tersisa, jika tidak maka Sean akan memarahinya.


Setelah selesai makan, mereka bergegas untuk berangkat ke kantor.


Sean mengantar dulu Seina untuk berangkat sekolah.


Sedari tadi Seina terdiam, ia tidak berani mengajak bicara sang papa.


Sedangkan Daleon di pangku oleh Sean, Sean menciumi gemas putranya itu.


"Seina di kelas tidak diejek lagi 'kan?" tanya Sean.


Semua menggelengkan kepalanya. Sean lalu mengacak rambut putrinya dengan gemas.


"Jika ada yang nakal segera lapor papa, ya?" ucap Sean.


Hanya anggukan kepala yang terlontar dari gadis kecil itu. Sean sedikit curiga. Padahal Seina termasuk anak yang ceria. Padahal Seina seperti itu karena ulahnya juga yang sering memarahi Seina.


Setelah sampai di sekolah Seina. Seina mencium tangan Sean dan mencium pipi Daleon. Daleon seolah ingin ikut tetapi langsung di gendong Sean.


"Pa... Dale ingin ikut kak Sein," ucap Daleon.


"Tidak boleh! Kak Sein sedang sekolah. Dale ikut papa saja ke kantor"


Daleon menangis kencang bahkan di mobil sampai tidak bisa diam.


Asisten Kim mengusulkan untuk meninggalkan Daleon bersama Sera.


"Tidak usah, Kim. Kau tau sendiri 'kan anakku bagaimana? Aku tidak ingin Daleon menyakiti orang lain," jawab Sean.

__ADS_1


Asisten Kim tersenyum. Sepertinya Daleon tidak begitu membahayakan. Bahkan Daleon sudah sangat dekat dengan Sera. Tetapi mau bagaimana lagi? Sang tuan sudah memutuskan untuk membawa Daleon ke kantor.


Sesampainya di kantor.


Sean mendudukan Daleon di sofa, ia lalu memberikan mainan Daleon.


"Dale jangan nakal ya? Papa mau kerja dulu. Selesai kerja kita bisa main," ucap Sean sambil mengelus kepala Daleon.


Daleon menganggukan kepala, ia bermain sendiri dan membiarkan papanya kerja.


Daleon bermain mobil-mobilan dan orang-orangan. Dia bisa asyik main sendiri.


Sean sesekali meliriknya, ia tersenyum dan mengingat saat masa kecilnya dulu.


Bahkan dulu ia sangat cengeng dan tidak mau ditinggal sang mama.


"Pa... Dale mau pipis," ucap Daleon.


"Ayo papa antar"


Sean mengantar Daleon ke kamar mandi dan membantu Daleon untuk pipis. Sean sudah seperti ibu bagi Daleon. Dia begitu menyayangi putra berharganya yang akan menjadi penerusnya.


"Pa... sudah"


Sean membantu membenarkan celana Daleon lalu mengajak untuk duduk di sofa.


Daleon bermain sendiri sampai bosan.


Dia melirik sang papa yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


Daleon membaringkan tubuhnya sampai terlelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Daleon sudah terbangun diatas tempat tidur rumahnya. Dia melihat disampingnya ada sang kakak yang sedang bermain boneka.


"Kak... papa mana?"


"Papa lagi mandi. Dale mau apa?" tanya Seina.


"Aku haus, kak"


Seina bergegas mengambilkan minum di kulkas dan memberikannya kepada Daleon. Daleon meminumnya sampai habis lalu menyerahkannya kepada sang kakak.


"Kak, ke depan kolam yuk"


Seina setuju, mereka berjalan ke depan kolam renang untuk melihat matahari tenggelam. Sedari tadi Daleon melirik boneka babi milik Seina. Dia ingin sekali merebutnya.


Entah apa yang di pikirkan Daleon, ia ingin sekali merobek boneka itu lagi.


Mereka kini sudah ada di kolam renang.


Daleon selalu curi pandang lalu nekat merebut boneka babi itu.


Seina terkejut tetapi ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk memegang bonekanya.


"Lepaskan, Dale! Ini punyaku," ucap Seina.


"Aku minta kak..."


Mereka saling menarik satu sama lain membuat Seina geram lalu mendorong Daleon hingga terjatuh di kolam renang.


Daleon tidak bisa berenang membuat dirinya tenggelam dan sebisa mungkin untuk berteriak.


Sean yang melihatnya terkejut, ia yang baru keluar dari kamar mandi langsung melompat ke kolam renang menyelamatkan Daleon.


Daleon terbatuk-batuk karena kemasukan air begitu banyak.


Sean membawanya ke tepian lalu meletakan Daleon di lantai.

__ADS_1


Sean menekan perut Daleon dan memberinya nafas buatan.


Uhuk-uhuk...


Air yang masuk ke tubuh Daleon akhirnya keluar. Dia sudah mulai sadar.


Sean kini menatap tajam Seina.


Gadis kecil itu mulai ketakutan.


"Kenapa kau mendorong Dale?" bentak Sean.


"Aku tidak sengaja pa..."


"Kau sudah berulang kali membuat Dale seperti ini. Tidak bisakah sehari tidak membuat ulah?" ucap Sean kesal.


Seina menundukkan kepala. Dia berusaha meminta maaf kepada sang papa.


"Papa akan mengirimu ke asmara. Kau anak perempuan bandel sekali. Jika Dale terjadi apa-apa bagaimana? Sudah sana pergi ke kamarmu. Siapkan barang dan mainanmu! Besok papa akan mengirimu ke asrama. Papa sudah lelah marah-marah setiap hari karena ulahmu," bentak Sean.


Seina langsung berlari ke kamar. Hatinya sangat sakit dan terluka. Dia menangis di bantal kesayangannya.


Aku bukan anak kandung papa. Pantas saja papa begitu kepadaku. Aku juga ingin di sayang papa.


Mama cepatlah pulang.


Seina lalu teringat jika besok ia akan di asrama. Dia beranjak bangun dan mengambil tas sekolahnya. Dia memasukan mainan kesayangannya dan beberapa pakaiannya. Setelah itu ia mengendap-endap keluar dari kamar dan pergi meninggalkan apartemen.


Dia keluar dengan tergesa-gesa supaya petugas keamanan tidak melihatnya.


Gadis kecil itu memilih untuk pergi karena hatinya sudah sangat terluka.


Seina kecil lalu berjalan keluar menyusuri jalan yang sudah gelap karena malam telah tiba.


Dia berjalan tak tentu arah dan berharap bertemu papa dan mama kandungnya.


Suasana lalu lintas ramai lancar dan lampu jalan menerangi setiap langkah gadis kecil itu.


Air matanya terus mengucur tetapi ia langsung menyekanya.


Setelah 15 menit berjalan, Seina bertemu kakek dan nenek pemulung.


Mereka nampak istirahat di sebelah gerobaknya dengan keadaan lelah.


"Pak, hari ini dapet sedikit rongsoknya. Malam ini dan besok puasa saja ya pak," ucap nenek itu.


"Bersyukur saja, siapa tahu besok kita dapet uang lebih banyak," jawab kakek itu.


Seina yang berada dibelakang mereka cukup tersentak. Seina si gadis cantik itu mengeluarkan roti yang dibawanya dari rumah.


"Kakek, nenek. Seina punya roti. Ini buat kakek dan nenek saja," ucap Seina.


Seina menyerahkannya dengan cepat. Lalu langsung berlari meninggalkan kakek nenek itu karena takut di tanyai macam-macam.


Kakek dan nenek itu keheranan. Mereka mencoba mengejar Seina tetapi Seina sudah menghilang.


Mereka heran gadis kecil bisa berkeliaran saat malam hari.


Setelah berlari cukup lama, akhirnya Seina terhenti. Dia terengah-engah. Dia sangat senang membantu dengan sesama.


Seina melihat penjual boneka di seberang jalan. Dia ingin membelinya.


Seina berjalan menyebrang dengan hati-hati. Bahkan ia nekat padahal lalu lintas sedang ramai.


Sampai ia melihat sebuah truk dengan kencang berada di depannya.


Seina langsung berlari tetapi ia malah tertabrak mobil dengan sangat kencang.


BRAAAAAAK....

__ADS_1


__ADS_2