
Waktu menunjukan 10 pagi setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya, Sean lalu mengecek keadaan Mauren di kamar rahasianya. Dia kini menjadi sosok suami yang perhatian dan super sibuk meladeni setiap rengekan sang istri.
"Apa kau bilang Mauren? Aneh sekali menyidammu?"
"Demi bayinya Oppa. Ku mohon!"
Sean merasa kesal, ia lalu menelpon Dokter Juna untuk segera ke kantornya.
Dokter Juna menolak karena ia sangat sibuk hari ini tetapi Sean akan memberikan imbalan lebih kepada Dokter Juna jika mau datang pagi ini.
Setengah jam kemudian.
Dokter Juna datang lalu langsung di sambut oleh Asisten Kim. Dia kebingungan karena tiba-tiba Sean menyuruhnya untuk datang tanpa menjelaskan maksudnya terlebih dahulu.
"Firasatku mengatakan jika hari ini aku akan mendapat lotre, Kim"
"Sepertinya begitu, Dok"
Mereka masuk ke ruangan Sean. Lalu tiba-tiba perasaan Dokter Juna merasa tidak enak ketika di tatap oleh Sean.
Sean menatap Dokter Juna dengan kesal tetapi sang Dokter cuek saja karena ia tidak merasa mempunyai kesalahan dengan Sean.
"Ikut aku!" ucap Sean.
Sean mengajak Dokter Juna ke kamar rahasianya, Dokter Juna terkejut karena ruang perpustakaan Sean sudah menjadi sebuah kamar hotel.
Dokter Juna terkejut ketika melihat Mauren yang tengah menonton TV dengan santainya.
"Oppa mengabulkannya? Oppa sangat baik. Terima kasih Oppa," ucap Mauren.
"Mengabulkan apa?" ucap Dokter Juna kebingungan.
Sean menahan amarahnya, ia pura-pura tersenyum padahal ia ingin memukuli Juna saat itu juga. Bagaimana tidak? Mauren ingin mencium aroma parfum milik Dokter Juna secara langsung dan semua itu membuat Sean cukup marah tetapi ia tahan.
"Oppa belum mengatakan padamu, Dokter?"
Asisten Kim lalu menjelaskan kepada Juna jika Mauren ingin menghirup aroma tubuh Dokter Juna dan semua itu membuat Dokter Juna sangat terkejut.
"Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi Mauren? Cepat sini hirup aromaku!" ucap Dokter Juna bersemangat lalu duduk di bibir ranjang di sebelah Mauren.
Sean hanya terdiam sambil merem*s jari tangannya sendiri, ia sangat kesal dengan situasi seperti ini.
Mauren langsung tersadar membuat dirinya enggan menghirup aroma tubuh Dokter Juna.
"Tidak jadi Dokter, Oppa sepertinya sangat marah," ucap Mauren dengan nada sedih.
"Kau tidak boleh begitu Sean. Kasihan bayinya," ucap Dokter Juna seolah mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Bangs*t kau Juna! Batin Sean.
Sean menghela nafas panjang, ia berusaha tersenyum walaupun sangat berat, "Oren sayang. Cepat hirup aroma tubuh Dokter sialan ini! Demi bayi kita"
Mauren tersenyum, ia dengan cepat mengirup bagian dada Dokter Juna yang masih mengenakan jas ala dokternya.
Aroma pria itu sangat menyejukkan hingga Mauren merasa nyaman dan tenang. Dokter Juna menatap Sean seolah memberikan tatapan ejekan.
Mantab sekali, Sean. Batin Dokter Juna.
__ADS_1
Sialan kau, Juna. Batin Sean.
"Kau pakai parfum apa Dokter?"
"Parfum termahal dan belinya di Australia," jawab Dokter Juna bangga.
Mauren menghirup aroma pria itu lagi, sungguh menghanyutkan dan membuat hati tenang. Dia lalu melirik Sean dan menyuruh sang suami mendekat. Sean sangat senang dan menyuruh Dokter Juna minggir.
"Mari ku hirup parfum Oppa!" ucap Mauren.
Tubuh Sean mendekat dan Mauren mengarahkan kepalanya ke dada Sean tapi tidak seperti biasanya, ia merasa jijik dengan aroma tubuh sang suami.
"Hueeek... tidak enak. Bau jengkol," ucap Mauren menjauhi Sean.
Sean menciumi aroma tubuhnya sendiri tetapi tidak ada bau jengkol dan nampak wangi seperti biasanya.
Dokter Juna tertawa melihat Sean yang kini dalam situasi terpojok.
"Hei! Bagaimana bisa bau jengkol? Bahkan parfumku ini lebih mahal dari parfum milik Juna," ucap Sean kebingungan.
"Ibu hamil selalu benar, Sean. Kau tidak boleh membantahnya," jawab Dokter Juna merasa menang.
Sean semakin kesal, ia berdiri sambil memegangi kepalanya yang merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Mauren lalu memeluk Sean dan menghibur sang suami.
"Jangan sedih Oppa! Walaupun Oppa bau jengkol tetapi Oppa tetap suamiku yang terbaik," hibur Mauren.
"Hah! Ya sudahlah. Sekarang sudah puas kau menghirup bau ketek Juna?" tanya Sean.
"Sudah, Oppa"
"Sialan! Ayo bertengkar Juna!" ucap Sean.
Mauren kini melirik Asisten Kim yang sedari tadi berdiri memperhatikan saja.
Mauren mendekati pria itu saat Sean dan Juna tengah bertengkar.
Asisten Kim mulai curiga lalu menelan ludah ketika Mauren mendekatkan dirinya ke dada pria itu.
"Hei Sean. Lihatlah istrimu kini mendekati Kim!" ucap Dokter Juna.
Sean terkejut tetapi ia menahan amarahnya lagi. Terlihat Mauren mengendus aroma yang selalu diingatnya sejak 2 tahun yang lalu.
"Wangimu sama seperti dulu Kak Kim. Membuatku tenang," ucap Mauren dengan tersenyum.
Tetapi tidak dengan Asisten Kim, ia bisa melihat Sean yang sudah menatap tajam kearahnya.
Mauren yang sadar akan kemarahan Sean tiba-tiba mendekati Sean dan mencoba memeluknya kembali tetapi parfum yang dikenakan Sean membuatnya mual dan uring-uringan.
Hueeeeeek... hueeeeek...
Hanya suara muntahan saja yang dikeluarkan Mauren, ia tidak memuntahkan apapun dari dalam mulutnya. Mauren lalu berjongkok sambil memegangi perutnya. Sean sangat khawatir lalu membangunkan dan mendudukan Mauren di ranjang.
"Bisakah Oppa berganti parfum?" tanya Mauren.
"Kenapa? Bahkan beberapa hari yang lalu kau masih menciumi aroma parfum ini. Juna? Istriku memang hamil atau tidak? Jangan-jangan kalian membohongiku?" ucap Sean kebingungan.
__ADS_1
"Kau lucu, Sean. Jelas-jelas sudah kuberikan foto USG nya dan kau masih meragukan istrimu hamil atau tidak? Insting ibu hamil itu berubah-ubah Sean. Hari ini bisa mual, besok bisa tidak"
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Oppa mandi saja dengan sabun batang yang harganya 3000 rupiah, sepertinya aku tidak akan mual jika Oppa menggunakan sabun itu dan jangan memakai parfum," ucap Mauren.
Sean terkejut, ia tidak tidak mungkin mandi menggunakan sabun murahan yang biasanya ia memakai harga sabun jutaan rupiah.
"Plis Oppa... demi bayinya"
Sean menghela nafas, ia sangat terpaksa untuk mandi dan berganti jas.
Untuk pertama kalinya ia harus mandi di kantor dan menggunakan sabun murahan demi memenuhi keinginan sang istri.
Awas kau Oren setelah melahirkan hati-hati kau denganku. Apalagi bila bayi yang kau lahirkan bukan laki-laki. Akan ku goyang kau tiap menit tiap jam supaya aku bisa mempunyai bayi laki-laki.
Asisten Kim memutuskan untuk kembali bekerja sedangkan Dokter Juna menemani Mauren di kamar rahasia.
Sesekali Mauren menghirup aroma pria beristri itu dan terlihat Dokter Juna senang-senang saja.
"Kau beruntung Mauren. Baru menikah sudah diberi kepercayaan untuk bisa hamil. Sedangkan aku yang sudah berumah tangga 5 tahun sampai sekarang belum dikaruniai anak," ucap Dokter Juna sedih.
"Ku doakan setelah ini istri Dokter segera hamil"
"Terima kasih Mauren. Kau juga beruntung memiliki Sean yang sangat mencintaimu. Tolong jangan sakit dia!"
Mauren tersenyum. Bagaimana bisa ia menyakiti pria super tampan dan kaya yang bisa menerima dia apa adanya.
Arsean William baginya adalah malaikat tampan yang diturunkan Tuhan untuk menjadi jodohnya.
15 menit kemudian.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka yang ternyata adalah Sean. Dia sangat tampan dengan rambut yang masih basah dan tercium khas bau sabun ifboy seharga 3000 an.
Dia kini hanya mengenakan baju hem putih saja tanpa jas membuat dirinya sangat keren.
"Pulang saja kau Juna! Minta uangnya di Kim"
"Huh! Memangnya aku cowok bayaran, tidak usah membayarku. Aku dengan senang hati jika Mauren mengendus tubuhku yang wangi ini"
"Sialan kau!"
Setelah Dokter Juna pulang, Mauren langsung mendekati suaminya dan menghirup aroma tubuhnya.
Dia merasa tidak mual dan justru semakin ingin dekat dengan sang suami.
"Jika tubuh ku gatal-gatal kau harus bertanggung jawab Oren! Baru pertama kali ini aku memakai sabun murah"
"Sombong sekali kau, Oppa. Bagiku pria yang paling wangi itu jika sehabis mandi tercium aroma sabun batang. Hehehe"
Sabar Sean. Semoga saja setelah ini ia tidak meminta yang aneh-aneh.
__________________________
Kawan bantu RATE 5 ya..
__ADS_1
LIKE KOMEN VOTE juga..