Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Kamar rahasia


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pergulatan hebat, gadis itu menghela nafas panjang sedangkan Sean memeluknya dari samping. Mauren menatapnya dengan tersenyum membuat Sean semakin gemas.


"Apakah ini bukan perbuatan mesum di tempat kerja, Oppa?" tanya Mauren.


"Kita sudah menikah jadi wajar saja lagipula perusahaan ini milikku," jelas Sean sambil mengelus rambut Mauren.


Mauren memeluk Sean dengan erat, ia tidak menyangka akan menikah dengan pria nomor 1 di negeri itu. Bahkan kekayaan Sean tidak akan habis sampai 10 turunan lebih.


Mauren sebelumnya mencari informasi tentang Sean di internet, Sean tidak pernah terjerat skandal dengan perempuan kecuali dengan Alana yang merupakan sahabatnya dari kecil. Media mengatakan jika Alana adalah calon istri Sean walaupun Sean tidak pernah angkat bicara dengan media tentang masalah itu.


"Oppa tidak ada pekerjaan? Aku ingin seperti ini dulu memeluk Oppa dan menikmati parfum Oppa," ucap Mauren sambil mengelus roti sobek milik Sean.


"Santai saja. Kau bisa seperti ini sampai pulang"


Pasangan yang di mabuk asmara itu telah tenggelam dalam kelarutan virus-virus cinta.


Hati mereka selalu tentram jika berdekatan, apalagi Sean selalu bergairah jika dekat dengan sang istri. Tetapi ia harus bisa mengontrol supaya Mauren tidak bosan dengannya.


"Oppa?"


"Iya sayang"


"Oppa dulu yang melempar uang ke wajahku 'kan?"


Sean terhenti mengelus wajah Mauren, ia seperti orang yang gelagapan. Dengan cepat ia meraih pakaian dan mengenakannya.


Mauren hanya kebingungan sikap suami yang aneh.


"Hari ini aku ada meeting diluar. Kita bisa melanjutkannya di rumah dan ciumlah aroma parfumku sepuasmu," ucap Sean sambil memakai jasnya.


Mauren mengerutkan kening dan menganggukan kepala, ia juga segera memakai seragam hitam putihnya sampai ia lupa dengan pertanyaannya tadi.


Sean memang menghindari pertanyaan itu, ia sangat malu jika mengingat dirinya pernah memaki Mauren dan melempar uang ke wajah sang istri. Harga dirinya bisa terjatuh jika ia mengaku dan pasti Mauren akan menertawakannya.


Mereka berjalan keluar kamar rahasia itu dan mereka melihat Asisten Kim tengah duduk disofa sambil mengambil alih tugas sang tuan yang tengah asyik hoho hihe dengan istrinya.


Sebelum Mauren beranjak keluar, Sean dengan cepat menarik tubuhnya lalu mencium bibir Mauren di depan Asisten Kim.


Asisten Kim memalingkan muka sedangkan Mauren cukup terkejut dan malu.


"Oppa. Jangan cium aku di depan orang lain!"


"Anggap saja dia setan," ucap Sean melirik Asisten Kim.


Asisten Kim hanya tersenyum kecut, ia sudah biasa mendapat ejekan dari Sean. Dia tidak pernah sakit hati jika Sean selalu menggodanya. Justru ia senang bisa mengenal teman sebaik Sean. Apalagi jika Asisten Kim sakit, Sean akan khawatir dan panik.

__ADS_1


"Kim. Kenapa kau tidak bilang jika kau sakit? Siapa yang akan menjadi korban keisenganku jika bukan kau? Cepat sembuh Kim!" ucap Sean menatap Asisten Kim yang terbaring di ranjang.


Saat itu Asisten Kim sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan motor yang di tumpanginya, ia mengalami cidera yang cukup serius sampai Sean mencarikan rumah sakit dan dokter terbaik bagi sahabatnya itu.


Nampak wajah Sean terlihat sedih melihat Asisten Kim terbaring tidak berdaya selama setahun dan selama setahun itulah Sean mencari asisten baru tetapi mereka tidak betah bekerja dengan Sean yang kelewat sinting.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Sean memecah lamunan Asisten Kim.


Asisten Kim menggelengkan kepala, ia tersadar Mauren sudah keluar dari ruangan itu lalu Sean mengajak Asisten Kim untuk makan siang diluar.


Sean melangkahkan kakinya keluar dari ruang presdir dengan wibawa, banyak pegawai yang tersenyum kepadanya tetapi ia cuek dan tetap melangkahkan kaki menuju tempat parkir.


Kali ini Sean ingin makan sate sapi, ia sangat rindu makan makanan rumahan.


Asisten Kim segera melajukan ke rumah makan yang menyediakan makanan itu.


"Kim. Nanti setelah makan kita mampir ke rumah Alana. Ku dengar ia belum sembuh dari sakitnya setelah aku tampar"


"Baik Tuan"


Setelah mereka sampai di kedai, mereka segera memesan 2 porsi sate sapi.


Mereka makan dengan lahap dan orang-orang yang berada disitu memperhatikan ketampanan mereka dengan takjub.


Setelah selesai makan, Sean mengajak Asisten Kim bermain game favoritnya dan Asisten Kim selalu mengalah karena jika ia menang, Sean akan memakinya habis-habisan.


Asisten Kim hanya tersenyum, ia lebih baik kalah daripada jika menang tapi pada akhirnya diajak bertengkar oleh Sean.


Setelah makan dan asyik bermain game sebentar, Sean segera membayar makanannya. Dia terkejut saat mendengar jumlah yang ia harus bayar. Dengan berat hati ia harus membayar dengan tidak ikhlas.


Mereka berjalan menuju ke mobil, Asisten Kim sudah tahu jika sang tuan akan memakinya.


"Makan apa saja kau, Kim?" tanya Sean sambil masuk ke dalam mobil.


"Sama seperti Tuan"


"Kenapa bisa habis 400 ribu?"


"Daging sapi memang mahal, Tuan"


"Tapi aku pernah beli di dekat rumah sederhanaku seporsi 100 ribu. Ini salahmu yang tidak pecus memilih kedai. Sialan! Uangku terbuang sia-sia"


"Potong gaji saya, Tuan"


"Cih! Sok kaya sekali kau. Tapi ku pikir sapinya diternak di Antartika. Sialan bisa mahal sekali"

__ADS_1


Hampir setengah jam Sean membicarakan sapi yang ia sudah makan. Asisten Kim hanya mengiyakan omongan Sean yang tidak penting, dia sudah tahu watak Sean. Jika dibantah maka obrolan tak penting itu akan semakin panjang dan tidak akan cepat selesai.


Setelah sampai dirumah Alana, Sean segera masuk kedalam dan di sambut ramah oleh para pelayan dan kali ini Asisten Kim hanya menunggu di mobil.


Para pelayan itu mengantar Sean sampai ke kamar Alana.


Sean segera membuka pintu kamar, ia sudah biasa membuka pintu kamar Alana tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Terlihat gadis manis itu tengah terbaring sambil memeluk boneka terakhir dari Sean yang di dapatnya 2 bulan lalu.


"Sean," ucap Alana sangat senang lalu memeluk Sean.


"Aku merindukanmu, Arsean," sambung Alana.


Sean berusaha melepaskan pelukan Alana membuat gadis itu mengalah. Sean tersenyum lalu mengacak rambut teman dekatnya itu.


"Sean, 3 hari lagi aku ulang tahun yang ke 26 tahun. Aku akan membuat pesta mewah kali ini, kau harus datang," ucap Alana.


Sean terkejut ia sampai melupakan ulang tahun teman dekatnya itu. Akhir-akhir ini yang ia pikirkan hanya Mauren seorang sampai ia lupa melupakan sosok teman dekatnya itu.


"Aku pasti datang. Dan aku kesini untuk meminta maaf karena sudah menamparmu. Kau masih sakit? Maafkan aku Alana," ucap Sean.


Alana tersenyum lebar, ia memeluk Sean dengan erat. Tidak disangka Sean masih perhatian dengannya. Dia juga tidak sabar untuk segera menikah dengan Sean.


"Aku ingin mendapat hadiah spesial darimu, Sean"


"Kau mau hadiah apa?"


"Seperti ini," ucap Alana sambil melepas baju tidur yang ia kenakan.


******


padahal udah ku update sehari 2 bab sampe muter otak mikirin alurnya tapi votenya semakin sedikit... sedihhhh....


ayoo bom komen, like, rate5 dan vote supaya semakin semangat updatenya...


alur ini tergantung pembaca.. bakalan cepet tamat jika tidak ada dukungan dari pembaca..


seperti pada kasus novelku yang berjudul "Ku cinta kau Sonia" karena tidak ada dukungan dari pembaca pada akhirnya aku cepet tamatin padahal jika kulanjutkan akan sampe 150 episode lebih. tapi aku berhenti di episode 70 an.


Separuhnya sendiri tuh...


Menulis tidak semudah seperti membaca.


Kadang kalo otaknya lagi blank mau di paksain nulis tetep tidak bisa..

__ADS_1


mohon dukungannya ya kawan.


__ADS_2