Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 137 : Bodyguard?


__ADS_3

Di sisi lain.


"Oh... jadi gadis ini pacar Sean? Pantas saja ia sering masuk ruangan Sean," gumam Kakek Askar melihat video live IG Sean sambil meminum jus jeruk dan ditemani para gadis Jepang.


Kakek Askar berdiri, ia berjalan menuju jendela. Dia lalu menelpon seseorang untuk menyuruh menyelidiki latar belakang Mauren.


Kecurigaanku ternyata benar, aku harus segera memisahkan mereka.


**


Setelah tersebar video prank Asisten Kim, ia kini menjadi sangat terkenal dan menjadi berita hot kali ini. Bukannya di bully, ia malah mendapat pujian dari khalayak masyarakat karena ketampanannya membuat Sean semakin iri kepada sang asisten.


Sialan! Aku dan Kim lebih tampan aku kenapa dia yang jauh lebih terkenal? Batin Sean sambil membaca berita tentang Asisten Kim.


Ceklek...


Asisten Kim membuka pintu, ia membawa berkas lalu meminta tanda tangan sang tuan.


"Senang kau jadi terkenal?" ucap Sean sambil menandatangi berkas itu.


"Saya malah sedih, Tuan. Banyak nomor tidak dikenal menawari saya bermain film dan menjadi model," jawab Asisten Kim.


"Cih... munafik"


Setelah menandatangi berkas, Asisten Melaporkan jika salah satu klien membatalkan perjanjian dengan Young Group. Sean menghela nafas lalu memegangi kepalanya yang berdenyut, masalah perusahaan kian menumpuk dan pemilik perusahaan yaitu Kakek Askar malah asyik menjinakkan ular bersama gadis-gadis favoritnya.


"Aku ingin berhenti, Kim. Tapi aku sadar jika anak istriku masih butuh makan dan fasilitas. Jika aku berhenti pun siapa yang akan mengurus perusahaan ini, tidak mungkin Sera dan Zara mengurusnya," ucap Sean mengeluh.


"Bagaimana dengan Arkan? Apakah sebaiknya anda mulai meminta bantuannya untuk mengurus perusahaan?"


Sean terdiam lalu berpikir. Tidak mungkin Arkan menjadi direktur secara dia hanya anak dari selingkuhan Papanya. Sean lalu menghela nafas dan menyandarkan kepala, kepalanya terasa pening sekali.


Sedangkan Asisten Kim melihat luka Sean karena pukulannya kemarin.


"Tuan, luka anda?"


"Gara-gara kau semalam aku tidak bisa tidur karena menahan rasa perih dan sakit dari luka ini," ucap Sean kesal.


Asisten Kim meminta sang tuan untuk membalas pukulannya tetapi Sean tidak mau. Dia tidak ingin balas dendam kepada sang asisten.


"Maafkan saya, Tuan. Saya sudah keterlaluan dengan Tuan Sean"


"Tidak apa-apa, aku justru senang jika waktu itu kau membela Orenku. Lain kali pukul aku lagi jika aku keterlaluan dengan Oren"


Asisten Kim tersenyum, ia setelah itu keluar dari ruangan Sean. Setelah sang asisten keluar, Sean membuka minuman energi dan langsung ia tenggak.

__ADS_1


Rasa dingin dan segar masuk ke rongga tenggorokan membuat pikirannya menjadi dingin kembali.


Lalu ponselnya berbunyi rupanya dari sang kakek. Sean segera mengangkatnya.


"Siapa gadis itu?" tanya sang kakek.


"Siapa? Mauren? Dia pacarku, kenapa memangnya?" jawab Sean.


"Kau memacari gadis miskin seperti itu apa tidak ada gadis lain?"


"Itu bukan urusan kakek, kakek pun meniduri gadis murahan aku tidak peduli"


"Kau Sean..."


Sean langsung menutup telponnya dan memblokir nomor kakeknya, ia lalu menelpon Dasha untuk siap siaga menemani Mauren kemanapun karena kini sang kakek sudah mengetahui Mauren.


Disisi lain.


Mauren sedang memfotocopy berkas lalu tiba-tiba seseorang masuk dan mengunci ruangan itu. Mauren terkejut dan langsung panik.


"Tenang! Saya disini hanya di perintah oleh Tuan Askar untuk memberikan sejumlah uang untuk anda," ucap pria itu yang ternyata ajudan Kakek Askar.


Mauren mengerutkan dahi, ia memundurkan langkahnya. "Jangan bilang uang untuk mengusirku dari kehidupan Tuan Sean?"


"Anda benar, sebelum anda menerima akibatnya mending anda mengikuti perintah saya untuk menerima uang ini lalu meninggalkan Tuan Sean"


Mauren lalu melempar vas bunga ke ajudan Kakek Askar tetapi pria berumur 40 tahun itu bisa menghindarinya.


Pria itu mendekati Mauren dengan wajah datar tetapi menakutkan tetapi tiba-tiba pintu di dobrak oleh seseorang yaitu Dasha dan ia langsung memukul ajudan Kakek Askar.


"Jangan sentuh Nona Mauren! Atau kau akan berhadapan denganku," ucap Dasha.


Ajudan itu tersenyum kecut lalu mereka berkelahi di ruangan kecil itu. Mauren tidak tinggal diam, ia menelpon Sean supaya ia segera datang ke ruangan itu.


Beberapa menit kemudian Sean datang bersama Asisten Kim. Ajudan itu langsung menghentikan perkelahian mereka.


"Kau asistennya kakekku ngapain datang kesini?" tanya Sean.


"Saya hanya disuruh Tuan Askar. Saya akan pamit undur diri," ucap ajudan itu lalu pergi seenak jidat.


"Jika kau berani kesini lagi awas kau, ku patahkan tulangmu," ucap Sean.


Setelah itu Sean memeluk Mauren, ia sangat khawatir dengan keselamatan sang istri. Setelah memeluk, ia melihat wajah dan tubuh Mauren apakah terluka atau tidak.


"Aku tidak apa-apa, Oppa. Dia hanya menyuruhku untuk meninggalkan Oppa dan memberi uang tetapi aku tidak mau"

__ADS_1


"Baguslah Oren, kau harus berhati-hati karena kakekku sudah tau jika kau gadisku," ucap Sean.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah itu Mauren selalu di pantau oleh Dasha baik di kantor maupun di luar kantor bahkan ke kamar mandi pun masih diikuti Dasha membuat Mauren risih.


"Kau mau menunggu aku e'ek? Pergilah Dasha! Aku tidak nyaman dengan keberadaanmu," ucap Mauren kesal.


"Maaf ini perintah Tuan Sean jika saya harus mengikuti anda kemanapun anda pergi," jawab Dasha.


Mauren sangat kesal, ia lalu masuk ke kamar mandi dan Dasha menunggu di luar.


Mauren lalu menelpon Sean untuk menyuruh Dasha tidak mengikutinya lagi.


"Ini terlalu lebay, Oppa. Aku juga bisa jaga diri sendiri. Tuh orang suruhanmu mengikutiku sampai di depan kamar mandi kantor," ucap Mauren melalui panggilan telepon.


"Yang penting dia tidak ikut masuk ke kamar mandi 'kan?" jawab Sean.


"Cih... Oppa makin hari makin sinting saja," ucap Mauren lalu menutup telponnya.


Mauren di kamar mandi cukup lama dan ia yakin jika Dasha sudah tidak menunggunya lagi. Mauren segera keluar dari kamar mandi lalu ia mengintip keberadaan Dasha. Tetapi ia terkejut karena Dasha masih menunggunya.


"Sudah, Nona?" tanya Dasha.


"Kau tidak perlu memantauku di kantor! Cih... pergi saja kau kak Dasha!"


"Ini perintah Tuan Sean"


"Kau jadi sinting ketika mengikuti bos sintingmu," ucap Mauren berjalan lalu menyenggol bahu Dasha.


Bagaimana caranya supaya Dasha tidak mengikutiku lagi?


Di kantor Sean.


Sean tengah fokus bermain game tiba-tiba ponselnya berdering yang rupanya dari sahabatnya yaitu Alana. Setelah kepergian Alana ke luar negeri membuat persahabatan mereka renggang dan bahkan tidak berkomunikasi sama sekali.


"Hallo? Kau menggangguku bermain game," ucap Sean kesal.


"Apa yang kau lakukan, Sean? Kau balas dendam denganku?" jawab Alana.


"Maksudmu?"


"Kau menarik semua sahammu dari perusahaan Papaku? Ku pikir masalah kita selesai setelah pembatalan perjodohan kita tapi kau malah begini kepada perusahaan Papaku"


Sean mengerutkan dahi, ia tidak merasa mencabut saham siapapun. Dia mengira jika ini adalah ulah sang kakek.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Alana! Aku akan menelpon kakekku"


__ADS_2