Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 123 : Pasar


__ADS_3

PERINGATAN : Mengandung kata-kata nyeleneh. Maaf jika kurang berkenan ( 5 hari gak ngetik Sean rasanya rindu banget sampe gak tahan)


"Kenapa kau disini, Kim?" tanya Sean terkejut.


Asisten Kim melepas kerudung jaketnya, wajahnya yang sangat putih dan tampan terlihat kontras dari yang lain termasuk Sean.


"Anda kenapa melakukan ini, Tuan? Anda bisa menyuruh saya untuk menyuruh orang lain melakukan ini?"


"Itu semua demi terlihat keren dan berbakti didepan mertua, Kim"


Asisten Kim mengerutkan dahi, ia tidak menyangka jika Sean yang selalu egois bisa memikirkan orang lain.


Tetapi pandangan Asisten Kim tertuju pada tangan Sean yang membuka plastik hitam dan puluhan plastik hitam tercecer disebelah Sean dengan kondisi sudah terbuka.


"Kenapa anda membuka semua plastik itu, Tuan?" tanya Asisten Kim heran.


"Cari tahu pabrik yang memproduksi plastik sialan ini, Kim! Beri mereka pelajaran, kurang ajar! Banyak plastik yang susah dibuka dan membuatku sampai diremehkan emak-emak karena tadi aku tidak bisa membukanya," jawab Sean sambil membuka lembar plastik ditangannya.


Asisten Kim semakin heran dengan tingkah sang tuan. Plastik? Dipermasalahkan?


"Tapi tuan, itu hanya plastik. Kenapa anda sampai mempermasalahkan persoalan plastik, Tuan?"


Sean terlihat melempar plastik ke wajah Asisten Kim, Asisten Kim memalingkan wajah dengan menutup matanya supaya tidak terkena lemparan plastik itu.


"Bagaimana tidak dipermasalahkan? Jika mertuaku kesusahan membuka plastiknya saat melayani pembeli, bagaimana?" ucap Sean berapi-api.


Asisten Kim hanya menganggukan kepala seolah tidak mau berdebat dengan sang tuan yang kelewat sinting.


Sean lalu menata plastik yang ia telah buka dan melipatnya kembali supaya terlihat rapi.


Nampak pasar semakin sepi karena hari semakin siang dan sinar matahari pagi berubah menjadi menyengat.


Asisten Kim tidak mau kulit sang tuan terbakar, ia memberikan sunblock kepada Sean tetapi Sean menolak karena Mauren juga tidak mengenakannya.


"Lalu Nona Mauren kemana, Tuan?" tanya Asisten Kim.


"Sialan kau! Kenapa tanya istriku? Awas kau jika masih menyukai Orenku," ucap Sean kesal.


Tuan Sean jadi semakin aneh. Batin Asisten Kim.


"Semp*k... semp*k... semp*k... beha... beha.. beha...," teriak seorang pria berumur sekitar 20 an menawarkan dagangannya.


Dia lalu menghampiri Sean dan Asisten Kim lalu menawarkan pada mereka.


"Mas, beha nya, Mas? Atau mau semp*knya, Mas?" tanya pria kurus itu.


Mata Sean terbelalak, baru pertama kali melihat seorang lelaki berjualan dalaman perempuan tanpa rasa malu.


"Jiaaaah... kau tidak malu berjualan seperti itu?" tanya Sean penasaran.


"Hei broo... untuk apa malu? Malu akan kelaparan"


"Betul juga, tos dulu kita!" ucap Sean lalu menepuk tangan pria itu seperti sudah saling mengenal.


Asisten Kim hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dirasa sang tuan semakin hari semakin aneh.


Pria itu mendekati Sean seolah sudah dekat dan mulai merayunya.


"Bagaimana mas bro? Mau beli semp*knya atau behanya?" tanya pria itu.


"Untuk apa beli itu? Kami pun laki-laki," ucap Sean.


"Eitts... jangan salah mas bro! Ini bisa jadi kado terindah untuk yang tercinta"

__ADS_1


Sean mengerutkan dahi seolah penasaran sedangkan Asisten Kim mulai muak mendengarkan membicarakan hal itu.


"Bagaimana caranya?" tanya Sean.


"Mas bro beli ini terus bungkus dalam kardus sebagus mungkin tapi jangan lupa beri kartu ucapan didalam kado ini dengan tulisan 'Pakai ini ya sayang! Hadiah spesial dariku tapi jangan lupa jika memakainya rambutnya dikeluarin dikit!" ucap pria itu.


Asisten Kim yang sedari tadi cuek tiba-tiba tertawa paling keras sampai mengeluarkan air mata. Dia membayangkan yang tidak-tidak tentang omongan pria yang lebih muda darinya.


Sean menatapnya dengan heran, baginya tidak ada yang lucu.


"Kenapa kau, Kim? Sinting kau!" tanya Sean melihat Asisten Kim tertawa terbahak-bahak.


"Buahaha... Rambut apa yang dikeluarin dikit saat memakainya? Hahaha," ucap Asisten Kim.


"Jiaaaaah... pikiranmu kotor sekali, Kim! Rambut kepala bodoh! Kau pikir rambut apa?" ucap Sean.


"Hahaha... masnya ngebet kawin nih ye," ejek pria itu. "Eh.. mas kita berdua lagi bahas hadiah topi. Ciee... pikirannya sampe kemana-mana," ucap pria itu mengejek.


Asisten Kim terdiam, ia sangat malu lalu izin ke kamar mandi. Sedangkan Sean dan pria tadi mulai menertawakan Asisten Kim. Sepertinya Sean sudah bertemu teman sesama gesrek dan pas untuk diajak mengobrol.


Disisi lain, Asisten Kim kebingungan mencari kamar mandi sampai ia bertemu dengan Mauren yang sedang membeli sesuatu.


"Kak Kim kenapa disini?" tanya Mauren heran.


"Saya menyusul Tuan Sean dan kamar mandinya dimana, Nona?"


Mauren lalu mengantar Asisten Kim ke kamar mandi dan menunggunya.


Mauren terkejut Asisten Kim keluar dari kamar mandi sangat cepat.


"Kenapa cepat sekali?" tanya Mauren.


"Airnya kotor, Nona"


Sombong sekali Kak Kim. Oppaku saja yang baru dari kamar mandi ini tidak mengeluh. Cih! Pantas wajah Kak Kim mulus sekali. Ku pikir cuci mukanya dengan air surga. Batin Mauren.


"Apa itu Oppa?" tanya Mauren.


"Semua ini untukmu. Aku tidak tau ukuranmu jadi ku beli semua saja," ucap Sean.


"Untuk apa ini? Beli di mall 'kan lebih bagus"


"Jika semua beli di mall kasian pedagang kecil"


"Tapi 'kan kebanyakan mall disini milik Oppa, Oppa tidak takut jika tidak laku?"


Sean mendengus, ia menatap Mauren sambil tersenyum. "Rezeki sudah ada yang mengatur jadi jangan takut untuk tidak laku selama kita berusaha"


DEG


Jantung Mauren berdegup ketika Sean mengatakan kalimat bijak itu. Mauren semakin takjub dengan Sean.


Walau kadang sangat sinting, Sean juga sangat bijak dan baik.


Setelah itu Mauren naik keatas pick up sambil menyerahkan jajanan pasar kepada Sean. Sean membukanya satu persatu lalu melahapnya.


"Kak Kim mau?" tanya Mauren menawarkan kue lapis kepada Asisten Kim yang berdiri disamping pick up.


"Tidak, Nona. Saya sudah makan"


"Gaya sekali kau, Kim! Sok kaya kau," ucap Sean.


Mendengar ucapan sang tuan, Asisten Kim merasa tidak enak. Dia lalu meminta makanan bulat-bulat hijau yang tidak pernah dia makan sebelumnya.

__ADS_1


"Itu makanan legend, Kim. Mantab sekali, apalagi jika moncrot di dalam," ucap Sean nyeleneh.


Mauren menyenggol tangan Sean, seolah kurang nyaman dengan ucapan Sean.


"Kenapa Oren? Memang benar 'kan? Paling mantab jika gula merahnya moncrot di dalam mulut. Ah... pikiranmu kotor sekali, Oren!" ucap Sean.


Asisten Kim langsung menggigit klepon itu tetapi langsung dicegah oleh Sean.


Sean mengajarinya terlebih dahulu bagaimana cara memakan klepon yang benar.


"Lihat Kim! Begini cara memakan klepon yang benar. Pegang klepon seperti ini lalu gigit bagian tengahnya dan ketika gula merahnya menyembur kedalam rongga-rongga mulut berarti kau lulus memakan klepon dengan baik dan benar," ucap Sean.


Asisten Kim menganggukan kepalanya, ia mengikuti arahan Sean. Ketika Asisten Kim memulai menggigit klepon tersebut, Sean langsung menghentikannya karena dirasa sang asisten salah.


"Salah kau, Kim. Huh... kau tidak pandai gigit menggigit. Kau harusnya gigit bagian tengahnya bukan bagian pinggirnya. Kalau seperti itu bagaimana bisa moncrot di dalam? Sialan! Bikin emosi kau!" umpat Sean kesal.


"Sudah Kak Kim. Jangan dengarkan ucapan Oppa! Tinggal makan saja! Lebay sekali Oppaku ini. Makan klepon saja seperti makan emas. Pakai tutorial segala," gerutu Mauren.


"Diam kau, Oren! Kim bukan orang negara kita jadi dia masih awam dengan dunia perkeleponan"


Mauren mendengus kesal, ia berpikir yang paling bodoh itu Sean atau Asisten Kim. Dua orang konyol itu memang klop sebagai majikan dan asisten karena memiliki jiwa somplak belum lagi Dokter Juna, pasti jika ada dokter juna berada disitu pasti pasar akan sangat ramai oleh bacotan mereka melebihi emak-emak pasar.


Asisten Kim mulai menggigit klepon sebesar jempol itu tetapi bukannya muncrat di dalam mulut tetapi malah muncrat di mata Sean membuat pria itu sangat murka.


Mauren yang mengetahuinya tertawa terbahak-bahak sedangkan Sean mengelap air gula yang muncrat di matanya. Wajah Sean menjadi merah padam lalu ia langsung loncat dari atas pick up dan berusaha mengejar Asisten Kim yang melarikan diri.


Disaat bersamaan ada 3 orang preman pasar menghampiri Mauren, mereka sangat garang dan bertato.


Mereka meminta jatah setor hari ini.


"Mana jatah setor 200 ribu untuk hari ini? Siapkan sekarang juga!" ucap pria berbadan gemuk dan gondrong.


"Jatah apa?" tanya Mauren bingung.


"Semua pedagang disini harus setor uang ke kami"


"Enak saja. Kerja dong baru dapat uang. Enak sekali tinggal meminta. Dasar pengemis!"


Tiba-tiba rambut Mauren dijambak oleh pria yang bertubuh tinggi memakai baju singlet. Mauren meronta kesakitan.


"Kau tidak tahu siapa kami? Kami preman paling ditakuti di pasar ini. Beraninya kau bilang kami pengemis"


"Memang kalian pengemis," ucap Mauren.


Tetapi pria itu semakin menjambaknya kuat membuat Mauren semakin merintih kesakitan.


Lalu dengan cepat dua pria lain mengacak-acak dagangan Mauren.


Terlihat orang-orang yang berada dipasar hanya melihat tanpa berani ikut campur.


Mauren tidak kehabisan akal, ia mengambil 2 buah cabe lalu meremasnya dan mengarahkan kearah wajah orang yang menjambaknya.


"Bajing*n! Aaaw... perih....," ucap pria itu langsung melepas rambut Mauren.


Dua orang temannya lalu mengejar Mauren yang berlari melarikan diri.


Dan disaat bersamaan Sean dan Asisten Kim kembali tetapi mereka terkejut melihat dagangan Mauren sudah berantakan dan tercecer di tanah.


"Sialan! Ada apa ini?" ucap Sean.


Dia lalu memperhatikan seorang pria yang berdandan preman sedang merintih mengucek mata.


"Mas, tadi Mbaknya dikejar preman. Cepat tolongin Mas! Itu salah satu premannya sudah dibikin tepar sama mbaknya," ucap pedagang disebelahnya.

__ADS_1


Sean dan Asisten Kim terkejut, mereka segera berlari mencari keberadaan Mauren. Mereka berlari berpencar takut terjadi sesuatu dengan Mauren.


Tunggu Orenku! Aku akan menyelamatkanmu. Bertahanlah sayangku!


__ADS_2