Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 128 : Gengsi Sean


__ADS_3

Ceklek


Asisten Kim masuk ke ruangan Darren, pria bule itu terlihat sedang duduk sambil fokus menyelesaikan pekerjaannya. Dia lalu menatap Asisten Kim yang tiba-tiba membuka pintu tanpa permisi membuat Darren sedikit kurang nyaman.


"Tidak bisakah mengetuk pintu dulu?" tanya Daren.


Asisten Kim melipat tangan didada sambil menatap Daren dengan tersenyum tipis. "Anda bekerja belum ada 2 bulan sudah membuat ulah"


Daren menaikan alisnya lalu tersenyum kecut, ia menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Asisten Kim yang seolah menyudutkannya.


Asisten Kim masih menatapnya tanpa ekspresi.


"Anda munafik, Daren. Anda membuat artikel itu untuk balas dendam dengan Nona Mauren 'kan?"


"Hahaha... kau memang pandai Asisten Kim. Harusnya Mauren berterima kasih denganku karena ia menjadi terkenal," jawab Daren.


Asisten Kim melangkah mendekati Daren, ia menarik kerah Daren dan menatap tajam kearahnya. Daren menyunggingkan senyuman seolah mengejek.


"Anda sangat lancang. Anda tidak berhak membuat berita seperti itu tentang Tuan Sean"


Daren melepas paksa tangan Asisten Kim, ia menatap lekat mata pria itu.


Hawa menjadi panas tetapi tiba-tiba pintu terbuka yang ternyata Sean datang mencoba melerai mereka.


"Tuan Sean?"


"Angkat kakimu dari sini, Daren! Kau sudah melampaui batas. Artikel yang kau tulis membuat Mauren dibully, apa lagi muncul artikel-artikel baru yang menyudutkan Mauren. Balas dendammu tidak etis apalagi dengan perempuan. Dasar banci!" ucap Sean.


Daren tersenyum kecut, ia mengemasi barangnya lalu pergi meninggalkan ruangannya. Dia lalu terhenti dan mengucapkan sesuatu kepada Sean. "Mauren bukan gadis yang baik bahkan ia pernah menginap di apartemen asistenmu. Aku memperingatkanmu Tuan Sean, ketimbang anda terluka oleh gadis murahan itu"


Asisten Kim geram mendengar ucapan Daren, ia menghampiri Daren lalu memukulnya sampai pria itu tersungkur.


"Mulutmu busuk sekali, Daren. Jangan membuat gosip yang belum tentu kebenarannya!"


Daren berdiri, ia mendengus kesal. Dia masih mengingat ketika ia dekat dengan Mauren tetapi ia memergoki Mauren masuk ke apartemen Asisten Kim membuat pikirannya macam-macam kepada gadis itu.


Daren lalu bangkit dan berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Tuan Sean. Saya bisa jelaskan," ucap Asisten Kim.


"Aku percaya padamu, Kim. Sudahlah tidak usah pikirkan bacotan banci itu. Kembalilah bekerja! Oh ya... cari manajer baru lagi dan pastikan dia yang terbaik dari sebelum-sebelumnya,"


Asisten Kim menunduk hormat, ia merasa terharu kepada Sean yang selalu mempercayainya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang kerja, Mauren dikejutkan dengan Mama Sean yang mengajaknya untuk shopping. Rasa ingin menolak tidak enak maka dari itu ia menerima dengan terpaksa.


Mauren izin kepada Sean, Sean tidak memperbolehkan jika mereka berdua pergi sendirian.


"Aku ikut juga, Mah"


"Ini waktu untuk perempuan. Kau dirumah saja!"


"Jika aku tidak boleh ikut maka Mauren tidak kuizinkan pergi dengan Mama"


Mama menghela nafas karena memang tahu jika Sean keras kepala. Dia lalu membolehkan Sean untuk ikut tetapi ia tidak boleh rewel karena Sean selalu tidak sabaran.


Mereka lalu pergi ke mall diantar Asisten Kim. Walau badan sedikit lelah, Sean sangat senang karena sang Mama bisa dekat dengan Mauren.


"Kalian kapan mau meminta restu dengan Kakek?" tanya Mama.

__ADS_1


"Setelah kakek pulang. Dia lama sekali di Jepang, Sean takut jika kakek pulang tiba-tiba membawa adik untuk Mama," ucap Sean nyeleneh.


Mauren terlihat menahan senyum sedangkan sang mama tertawa terbahak-bahak, ia masih tidak menyangka jika umur ayahnya yang hampir 70 tahun masih doyan jajan diluar.


"Mama harusnya memberitahu kakek supaya berhenti dari hobi gilanya. Cih! Bisanya membuang-buang uang saja"


"Kakekmu sama keras kepalanya sepertimu, kalian memang sama"


"Jangan samakan aku dengan kakek! Aku tidak seperti itu"


"Hahaha... kau memang anakku yang baik, Sean."


Sean lalu menyandarkan kepalanya di bahu Mauren. Dia lalu mengelus perut Mauren seolah berharap supaya Mauren cepat hamil lagi.


Mama yang melirik mereka dari kaca spion diatasnya merasa bersalah kepada mereka berdua.


Aku terlalu egois dengan Sean. Aku harus ikhlas dengan pernikahan mereka. Maafkan mama, Sean.


Setelah sampai mall.


Mereka bertiga masuk ke mall yang cukup sepi. Banyak pengunjung yang memperhatikan mereka tidak terkecuali dengan Mauren. Dia menjadi pusat perhatian apalagi dengan tersebarnya artikel itu.


Sean menggenggam tangan Mauren lalu memandang gadis itu dengan tersenyum.


"Semua akan baik-baik saja," ucap Sean.


"Oh Sean? Mama sudah melihat artikel itu pasti kakek juga akan tahu tentang hubungan kalian," ucap Mama.


"Tidak masalah. Sean akan menghadapi kakek, kita lihat reaksi kakek seperti apa"


Setelah memarkirkan mobil, Asisten Kim menyusul sang tuan. Menjadi seorang asisten Tuan Sean memang harus siap siaga 24 jam.


Mama dan Mauren terlihat memilih baju sedangkan Sean dan Asisten Kim menunggu mereka di depan pintu.


"Kim?"


"Kenapa perempuan suka sekali membeli gombal? Lihatlah Mama dan Oren mempunyai 5 lemari dan itu semua isinya gombal-gombal mereka"


"Saya juga tidak mengerti, Tuan"


Sean lalu melirik Mama dan Mauren, mereka nampak bahagia. Sean senang jika mereka berdua bisa akur.


Sean juga melihat toko seberang menjual perlengkapan bayi dan anak.


Sean mengajak Asisten Kim untuk kesana.


Asisten Kim melihat sang tuan memilih baju bayi laki-laki. Terlihat sorot mata Sean berharap jika ia ingin memiliki bayi laki-laki.


"Kim. Apakah ini bagus?" tanya Sean menunjukan sebuah baju bayi bermotif bintang.


"Bagus, Tuan"


Sean tersenyum lalu menyerahkan kepada pegawai itu, dia lalu melanjutkan memilih sepasang sepatu dan mainan bayi. Sean memilih secara telaten dan terlihat senyuman tipis tergambar di bibir Sean.


"Ini sekalian," ucap Sean sambil menyerahkan kepada pegawai toko.


"Anda kenapa membeli itu, Tuan?"


"Aku berharap jika suatu hari nanti istriku hamil, aku ingin bayi laki-laki untuk menjadi penerusku"


Asisten Kim tersenyum, ia mendoakan yang terbaik untuk sang tuan.

__ADS_1


Dia melihat raut wajah Sean sangat bahagia.


...----------------...


Arkan merebahkan dirinya diranjang, ia sangat senang ketika Sean mau menerimanya dan semua itu berkat Mauren yang berusaha mendekatkannya dengan Sean.


Arkan mencoba mengirim pesan kepada


Sean tetapi ia tidak yakin jika Sean akan membalasnya.


Arkan


Bang? Jika abang ada waktu, bisakah kita pergi ke makam Papa bersama?


Arkan meletakan ponselnya tetapi tiba-tiba berbunyi yang ternyata dari Sean.


Abangku


Hm


Arkan


Abang mau?


Abangku


Y


Arkan


Aku senang mempunyai kakak seperti abang. Abang hebat banget bisa jadi seperti sekarang.


Abangku


Berusahalah! Kau akan menjadi sepertiku


Arkan tersenyum melihat pesan dari Sean. Memang benar jika Sean masih memperdulikannya walaupun Sean malu mengakuinya bahkan saat Arkan sakit, setiap harinya ada obat dan buah-buahan di depan pintunya. Arkan yakin semua itu dari Sean. Memang Sean masih memantau adik tirinya yang sebatang kara.


Disisi lain ketika Sean dan Asisten Kim menunggu d mobil.


"Kim?"


"Iya, Tuan"


"Buat bengkel Arkan supaya ramai. Pasang iklan diinternet jika perlu tetapi jangan sampai ia tahu jika aku yang melakukan itu untuknya"


"Baik, Tuan. Tetapi kenapa anda masih merasa gengsi jika anda sangat menyayangi adik tiri anda?" tanya Asisten Kim.


"Aku hanya kesal saja, ketika melihat dia seolah mengingatkanku kepada Papa yang mengkhianati Mama"


____________________


Channel youtube saya: Mariana Vikram


Subscribe dulu,, entar juga update cerita Kim. Tunggu aja!


plisss VOTE dong! biar rangking ini naik.


jika mentok disitu doang bikin saya gak semangat untuk lanjut.


kalian mau novel ini berhenti ditengah jalan terus tamat gitu?

__ADS_1


kalo gak mau Ayo mulai sekarang VOTE sebanyak banyaknya.


kalo kalian gak pelit vote bakal ku update 2 bab sehari.


__ADS_2