Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 142 : Touring 4 (Cerita seram)


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Sean dan Mauren segera memakai pakaian lalu setelah itu keluar dari kamar mandi.


Terlihat Asisten Kim sedang memijat kaki Dokter Juna.


"Beg* kau, Kim! Harusnya Juna yang harus memijatmu karena kau yang sudah membonceng dia sedari pagi," ucap Sean.


"Kami bergantian Sean. Jangan negatif thinking mulu denganku!" jawab Dokter Juna.


Sedangkan Mauren terlihat menggunakan make up dan Sean membantu menyisir rambutnya.


Setelah Asisten Kim memijat, ia segera ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan Dokter Juna rebahan di ranjang lagi.


"Dokter, menjelang malam jangan tidur! Tidak baik, nanti mimpi setan," ucap Mauren melirik Dokter Juna yang memejamkan mata.


"Tidak usah membahas begituan. Aku tidak percaya," jawab Dokter Juna.


"Biarkan saja Oren! Ketemu setan baru tahu rasa dia," ucap Sean.


Setelah selesai bermake up.an kini Mauren berganti menyisir rambut Sean yang basah, ia menyisirnya dengan rapi sampai Sean terlihat tampan.


Setelah itu mereka keluar untuk sekedar menunggu sunset sambil meminum kopi di tempat yang sudah di sediakan.


Rombongannya sudah berkumpul duduk di kursi sambil menatap kearah tempat matahari akan tenggelam. Sean dan Mauren ikut bergabung dengan mereka.


"Hei... di kamar kalian bau bangkai gak sih?" tanya Rio teman rombongan dari Sean.


"Enggak tuh"


"Kamarku juga bau bangkai"


"Jiaaah... itu bau badan kalian, mungkin?" ucap Sean.


"Mana ada Sean, tapi bau bangkainya beberapa menit sekali saja"


"Sudah jangan berpikiran yang macam-macam! Kita sebagai tamu harus sopan," ucap Hasan sambil menyeruput kopi.


Mereka lalu menghentikan obrolan itu lalu mengobrol yang lain. Sean menggenggam tangan Mauren lalu Mauren bersandar pada bahu Sean.


Rasa dingin semakin menyiksa apalagi jaket Mauren tidak bisa menembus dinginnya sore menjelang malam ini.


"Ayo tukaran jaket Oren!" ucap Sean.


Mauren menggelengkan kepalanya. Sean tersenyum lalu memeluk erat Mauren membuat teman-temannya iri.


Disisi lain,


Asisten Kim selesai mandi lalu membangunkan dokter Juna untuk mandi tetapi dokter Juna mendengus dan bilang akan mandi 10 menit lagi.


"Ini sudah jam 5 lebih dok, anda harus segera mandi," ucap Asisten Kim.


"Nanti aku mandi, Kim. Kau bukan ibuku jangan berlagak menyuruhku"


"Ya sudah dok, saya mau keluar menyusul yang lain," ucap Asisten Kim sambil membawa tas kecilnya lalu berjalan menuju keluar.


Setengah jam kemudian.


Setelah itu dokter Juna melanjutkan tidurnya sampai pukul setengah 6 sore. Dia bangun-bangun sangat terkejut dan jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


Dokter Juna terduduk lalu mengusap matanya dan melirik Asisten Kim sudah berbaring di sebelahnya.


"Kau kenapa ada disini, Kim? Bukannya kau menyusul mereka?" tanya Dokter Juna heran.


Asisten Kim terdiam sambil menatap langit-langit kamar. Tatapannya kosong dengan wajah sedikit pucat.


"Kau sakit, Kim?" tanya Dokter Juna sambil memegang kening Asisten Kim dan ia terkejut mendapati temannya sangat dingin.


Dokter Juna mencoba menelpon Sean tetapi anehnya sinyal ponselnya hilang.


Dokter Juna kebingungan tetapi tiba-tiba tercium bau bangkai yang sangat busuk sampai membuatnya cukup mual dan lalu berlari kearah kamar mandi.


Hueeek... hueeek... hueeek...


Dokter Juna memuntahkan isi perutnya bahkan bau busuk itu belum juga hilang.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka yang ternyata Mauren sudah berdiri di depan pintu sambil tertawa melengking.


"Kenapa kau Mauren?" tanya Dokter Juna sambil berjongkok.


Kepala Dokter Juna semakin pusing sampai ia tidak bisa untuk berdiri, ia mendengar suara Mauren sampai memekikan telinganya.


Braaaak...


Terdengar pintu kamar dibanting seperti ada yang membukanya.


"Dokter Juna?" ucap Hasan membangunkan Dokter Juna lalu memberikannya sebotol air putih.


Dokter Juna langsung tersadar dan seketika mualnya hilang. Hasan pun membantu Dokter Juna berdiri lalu mendudukannya di bibir ranjang.


"Aku ketiduran. Huh... dimana Kim? Dia tadi tidur disini, eh... dimana Mauren juga? Dia tertawa seperti orang gila," tanya Dokter Juna.


"Mereka ada diluar sedang mempersiapkan baberqiu. Yang kau lihat tadi bukan mereka"


"Hahaha... kau pikir aku percaya dengan bualanmu? Mana ada setan berwajah teman-temanku?" ucap Dokter Juna masih tidak percaya.


Hasan berdiri, ia berjalan meninggalkan Dokter Juna. Dia tidak ingin berdebat dengan orang keras kepala seperti Dokter Juna.


Dokter Juna lalu mengambil peralatan mandinya dan berjalan menuju kamar mandi. Tetapi bau busuk itu datang lagi membuat badannya merinding.


Dia segera mandi secepat kilat, ia kini malah berpikiran yang macam-macam.


Sialan kau setan! Membuatku merinding saja. Batin Dokter Juna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah melihat sunset yang indah mereka kini berniat membakar sosis dan sejenisnya untuk mengganjal perut sebelum makan malam tiba.


Dokter Juna terlihat baru bergabung lalu duduk di sebelah Asisten Kim. Dia lalu memegang kening Asisten Kim.


"Tadi badanmu dingin lalu sekarang badanmu normal, aneh sekali kau Kim," ucap Dokter Juna.


"Maksud anda?" tanya Asisten Kim bingung.


"Ini dokter minum jahe hangat dulu," ucap Mauren sambil menyodorkan segelas minuman jahe.


Dokter Juna menerimanya lalu segera meminumnya. Rasa hangat langsung terasa di perut membuat pikirannya segar kembali.

__ADS_1


Mereka kini mengobrol bersama sambil menikmati sosis bakar buatan Mauren yang sangat lezat.


Setelah semua sosis sudah habis mereka lalu mengobrol hal yang seram-seram.


"Ayo dong cerita yang seram! Bagaimana jika kau saja Sean? Ku dengar kantormu sangat angker," ucap Tedy sangat kepo.


Sean membenarkan posisi duduknya lalu mulai bercerita. Mauren pun yang kepo memandang Sean dengan lekat.


"Jadi kantorku memang angker, aku sendiri pun pernah merasakannya," ucap Sean dengan tegang. "Hari itu sudah malam, aku keluar dari kantorku dengan tergesa-gesa, saat itu Kim sedang di luar kota mengurus bisnisku yang lainnya. Aku terpaksa pulang terakhir karena memang pekerjaanku banyak. Setelah selesai aku keluar dari ruanganku lalu menuju lift, hawa merinding dibagian bulu ketekku tetapi aku masih berpikiran positif," sambung Sean membuat teman-temannya tegang bercampur penasaran.


"Setelah lift terbuka, aku segera keluar menuju baseman. Saat itu baseman sangat sepi dan hanya terparkir mobilku saja, aku mempercepat langkahku ke mobil tetapi telingaku mendengar suara langkah seperti orang berjalan. Aku menghentikan langkahku lalu menengok ke belakang tetapi tidak ada orang. Kini bulu j****tku yang merinding," ucap Sean.


"Bulu apa, Oppa?" tanya Mauren.


"Bulu rambutku," jawab Sean.


"Sudah bulu, berambut. Pusing sekali aku mendengar penjelasanmu, Sean," ucap Dokter Juna.


"Beg* kau. Bulu rambut bodoh!"


"Bulu ya bulu, rambut ya rambut"


"Ayo bertengkar Juna!" ucap Sean kesal.


"Sudah-sudah! Kita ini ngomongin cerita seram malah sampai ke bulu-buluan," ucap Valto menengahi mereka.


Sean menghela nafas, ia mengambil kopi lalu meminumnya. Teman-temannya sudah tidak sabar mendengar ceritanya.


"Tadi sampai mana?" tanya Sean.


"Sampai diikuti orang"


"Aku menengok kebelakang tetapi tidak ada orang, setelah itu aku mempercepat langkahku masuk mobil. Suara langkah kaki itu datang lagi, aku semakin takut dan hampir kebelet pipis tetapi berkat kekuatan pengendali air ku air pipis itu tidak jadi keluar," ucap Sean membuat teman-temannya menahan tawa.


"Anj*r! Ini cerita seram malah jadi cerita kocak," ucap Dimas.


"Sssssst...," ucap Sean membuat teman-temannya terkejut. "Aku semakin mempercepat langkahku tetapi langkah misterius itu semakin terdengar. Aku mulai berlari tetapi anehnya aku tidak maju satu senti pun, aku melihat kakiku yang ternyata dari tadi berlari di tempat," sambung Sean.


"Sinting kau, Sean"


"Tapi ini belum selesai, aku semakin mempercepat langkahku sampai aku lari terbirit-birit menuju ke mobil. Jantungku mulai berdegup kencang, nafasku mulai ngos-ngosan, aku semakin takut sampai terasa ada yang menepuk bahuku," ucap Sean.


"Siapa dia Sean? Kuntilanak? Pocong? Tuyul?" tanya temannya.


"Petugas pajak," jawab Sean.


"Haaaaa? Kami mendengarkan dengan tegang dan serius ternyata dikejar-kejar petugas pajak?"


"Bagaimana kalian ini? Itu sangat menyeramkan. Aku seorang presdir dikejar petugas pajak karena telat membayar pajak 3 mobil mewahnya dan itu semua salah asisten gobl*k yang lalai untuk masalah sepele itu," ucap Sean sambil menatap sinis Asisten Kim.


"Maafkan saya, Tuan"


"Cih..."


"Sudah ku bilang setan itu tidak ada," ucap Dokter Juna.


"Tunggu dulu! Ini cerita seram versiku, saat itu.....," ucap Mauren dan bersambung.

__ADS_1


__ADS_2