Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Ingat


__ADS_3

Pagi hari datang kembali, ia melirik sang suami yang tengah tertidur kelelahan karena pergulatan semalam. Dia tidak habis pikir dengan Sean yang memiliki tenaga bagai kuda. Mauren terduduk, terlihat mereka masih belum mengenakan busana.


"Bangun Oppa!" ucap Mauren sambil menepuk pipi sang suami.


"Apa? Mau lagi kau?" tanya Sean setengah sadar.


"Terserahlah! Aku mau mandi," ucap Mauren sambil berjalan menuju kamar mandi.


Sean terbangun lalu mengikutinya, ia memeluk Mauren dari belakang yang sedang gosok gigi. Sean menggigit manja telinga sang istri membuat Mauren risih.


"Hentikan Oppa! Jangan sering-sering meminta! Nanti Oppa cepat bosan"


Sebelum tidur meminta, pagi hari meminta, di kantor meminta, sebelum makan meminta, saat mandi meminta, meminta, meminta, meminta, meminta, meminta, meminta, meminta, meminta, meminta dan selalu meminta.


"Aaaaaaaarrrrrrhgggghhhhh," teriak Mauren berada di kantin membuat pegawai lain melihatnya dengan heran.


Desy dan Lala ikut terkejut melihat Mauren yang sedari diam tiba-tiba berteriak kencang.


"Kenapa kau Ren?"


"Suamiku hipersex," jawab Mauren dengan sedikit kencang membuat pegawai lain melihatnya dan lalu berbisik.


Desy dengan cepat membungkam mulut Mauren yang kelewat tidak malu. Mauren menggigit tangan Desy dengan kuat sampai Desy melepaskan bungkamannya.


Mauren yang badannya sangat remuk menyandarkan kepalanya di tembok, ia bingung untuk menghadapi Sean.


"Itu tandanya hubunganmu dengan suami sangat harmonis," hibur Lala.


Memang harmonis. Saking harmonisnya aku ingin memotong ularnya.


Setelah selesai makan mereka kembali ke ruangannya, hari ini cukup senggang bagi Mauren, ia bisa duduk santai di ruangan Lala dan Desy. Sampai ketika ia disuruh mengantar dokumen ke ruangan Sean. Padahal ia sudah bernafas lega karena sedari tadi tidak berjumpa dengan Sean.


Dengan langkah malas, ia berjalan menuju ruangan Sean, ia langsung masuk tanpa mengetuk lagipula tidak ada Asisten Kim disana.


Mauren menatap Sean penuh takjub, lelaki yang menjabat sebagai direktur itu adalah suaminya. Sean sangat tampan saat sedang fokus melihat layar komputer di depannya.


Mauren teringat seperti pernah bertemu sebelumnya sebelum menikah dengan Sean.


Ya, pria itu yang pernah memakinya habis-habisan saat ia tidak sengaja menabrak mobil mewah Sean.


Benar. Lelaki itu adalah Sean. Lelaki yang sombong dan semena-mena.


"Mata kau buta? Bagaimana bisa menabrak mobilku?" ucap Sean marah sambil keluar dari mobilnya.


"Eh anda yang salah! Kenapa mengerem mendadak?" tanya Mauren yang masih mengenakan seragam sekolah.

__ADS_1


Terlihat motor Mauren remuk tetapi ia hanya lecet saja. Sean kaget karena anak sekolah itu berani membentaknya, bukannya meminta maaf mereka malah saling memaki.


"Lihat! Mobil kesayanganku lecet," ucap Sean sambil menunjuk bagian belakang mobil.


"Kau juga harus lihat motorku remuk!"


"Kau," ucap Sean melototi Mauren.


"Kau," jawab Mauren juga melototi Sean.


Karena ada meeting penting, Sean tidak mau berdebat lebih panjang, ia memutuskan mengalah dan memilih masuk mobil dan menyetir. Saat itu Asisten Kim sedang di luar negeri untuk mengurus bisnis hotel milik Sean, itu membuat Sean harus menyetir sendiri ke kantor.


Mauren mengetuk kaca mobil Sean dengan keras dan meminta pertanggung jawaban.


"Emangnya kau ku hamili? Minggirlah kau cewek sinting! Atau mau ku tabrak kau?"


"Beri aku uang untuk biaya ganti motorku!"


"Cih! Memang semua cewek itu matre," ucap Sean sambil mengambil dompet.


Sean membuka kaca mobil, ia melempar uang 10 ribuan berjumlah 5 lembar ke wajah Mauren. Mauren terkejut dan saat itulah Sean bisa melarikan diri.


"Oren? Kenapa kau?" tanya Sean melihat Mauren seperti melamun.


Mauren menggelengkan kepala, ia segera menyerahkan dokumen kepada Sean.


Memang pada waktu itu Sean mengenakan jas dan berkacamata hitam membuat Mauren tidak mengenalinya saat bertemu lagi dirumah Sean saat Mauren ikut berkumpul bersama teman-teman Valto.


Jadi lelaki ini yang dulu melempar uang 10 ribuan ke wajahku. Awas kau Oppa**!


Mauren segera berpamitan untuk kembali bekerja, tetapi Sean mencegahnya dan memeluknya dari belakang.


Nah, mulai lagi kan. Batin Mauren.


"Oppa jangan begini! Jika ada yang masuk bagaimana?"


Sean melepas pelukannya dan berjalan kearah pintu, ia mengunci pintu lalu tersenyum menyeringai ke arah Mauren.


Sean menarik gadis itu untuk duduk disofa, ia memeluknya. Terlihat Sean sangat kelelahan, Mauren menjadi tidak tega.


"Oppa pasti kelelahan melakukan itu denganku? Sudah ku bilang beri jarak biar tidak capek"


"Aku kelelahan bekerja bukan kelelahan main kuda-kudaan denganmu. Oren, aku ingin mimik cucu," ucap Sean sambil memeluk erat Mauren.


"Nah, ini bayi besar"

__ADS_1


________________________________________


Zara dengan mantab melangkahkan kaki ke hotel Aiden, hari ini ia akan mengirimkan berkas magang dan kebetulan Reno berada disana. Saat itu juga Zara diperkenankan untuk menemui Reno langsung membuat jantungnya menjadi berdebar.


Dia memakai seragam sekolah dan menatap Reno yang sedang membaca berkas magangnya, sedangkan Zara berkeringat dingin karena takut akan ditolak magang di hotel tersebut.


"Zara Gianila Adinata? Kamu berasal dari keluarga Adinata? Berarti kamu kenal Arsean?"


"Iya dia kakak sepupu saya"


"Jadi kenapa tidak magang diperusahaanmu sendiri?"


"Saya tidak tertarik magang diperusahaan kakek saya"


Reno mengerutkan dahi, lalu membaca berkas satu persatu, gadis itu sangat pandai membuat Reno langsung mengijinkan Zara untuk magang di hotelnya. Zara sangat senang sampai tidak bisa berkata-kata.


"Jadi kamu mulai magang tanggal 11? Oke, kamu harus sudah sampai disini jam 8 pagi dan karena kamu anak magang jadi ku izinkan pulang jam 4 sore," ucap Reno.


Zara berterima kasih lalu keluar dari ruangan Reno dengan senang dan tidak memperhatikan langkahnya menyandung kursi lalu terjatuh.


Gubraaaaaaak


Dia segera berdiri dan tersenyum malu sebelum Reno sempat menolongnya.


Zara segera berlari keluar dengan kegirangan dan Reno hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


_________________________________________


Lelaki paruh baya itu berjalan masuk ke ruangan Sean yang sebelumnya sudah diizinkan untuk masuk.


Terlihat Sean sedang meminum kopi di sofa termahalnya, ia nampak asyik dengan waktunya yang senggang.


"Sean. Maafkanlah Alana yang lancang denganmu. Dia memang telah dibutakan cinta. Sean, Om ingin kamu segera menikahi dia, jangan memberi dia harapan terlalu lama"


Sean terkekeh mendengar ucapan Papa Alana, padahal ia tidak pernah memberikan harapan ke Alana. Dia juga sudah menjelaskan puluhan kali jika ia tidak bisa menikahi temannya sendiri.


"Tapi kau selalu perhatian dengan Alana, selalu memberinya hadiah. Apa itu bukan sebuah harapan?"


"Tidak. Bisakah Om keluar, aku harus kembali bekerja," ucap Sean mengusir Papa Alana.


"Dia sangat mencintaimu Sean. Pikirkan lagi!" jawab Papa Alana sambil berjalan menuju pintu.


_______________


**Hallo ini author.

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan like, vote, komen dan rate5.


jangan lupa VOTE ya gaessss**


__ADS_2