
Setelah sampai rumah sakit, mereka segera turun dari mobil dan tugas Ali menjaga Seina di luar rumah sakit.
Sean, Mauren dan Sera masuk ke rumah sakit dan di dalam sudah ada Mama Sean dan Mama Zara menunggu disana.
"Seina dimana Sean?" tanya Mama.
"Diluar, bersama Ali. Zara sudah di operasi?"
"Sudah 40 menit yang lalu. Semoga Zara dan bayinya sehat semua," ucap Mama.
Sedangkan Rania yaitu Mama Sera dan Zara menarik tangan Sera untuk duduk di sebelahnya tetapi Sera menepis tangan sang mama. Rania mengerutkan dahi melihat sikap Sera yang ketus kepadanya.
Sera memilih keluar dari rumah sakit dan menghampiri Ali dan Seina.
Sera merebut Seina di pangkuan Ali lalu ikut terduduk di sebelah pria berkacamata itu.
"Halo Ceinaaa... Ceinaaa kakak gemes cama ceinaa," goda Sera.
Tiba-tiba Ali mencubit pipi Sera karena gemas dengannya. Sera mengerucutkan bibirnya.
"Nanti malam mau jalan-jalan?" ajak Ali.
Sera berpikir sejenak lalu menganggukan kepala. Ali menyentuh tangan Sera membuat gadis itu menatapnya. Ali memang tampan dengan alis tebal, hidung mancung dan mata yang indah tetapi ketampanannya tidak membuat Sera langsung suka kepadanya karena di hatinya sudah ada Asisten Kim.
"Hubunganmu dengan Kim seperti apa?" tanya Ali. "Mau ku bantu supaya dia menerimamu?" sambung Ali.
"Ada ya om pacar sendiri ngebantuin supaya pacarnya deket cowok lain?" tanya Sera.
"Kita pacaran hanya status 'kan? Dan perasaan kita hanya untuk orang lain"
Sera tersenyum, ucapan Ali memang benar dan tidak bisa di bantah. Tiba-tiba Ali menyentuh kepala Sera dan mengatakan akan berusaha mencintai Sera.
"Tidak perlu om sayang! Aku belum tentu bisa membalas rasa cintamu jika kau benar mencintaiku"
Dan Alana pun datang membuat Ali salah tingkah, Ali membuang muka lalu Sera melihat gelagat Ali yang aneh.
Alana bertanya pada Sera dimana anggota keluarga yang lain setelah mendapat jawaban dari Sera gadis 26 tahun itu masuk ke dalam rumah sakit.
"Apakah gadis itu adalah Kak Alana? Yang om sayang perawani?" tanya Sera.
Ali tersentak mendengarnya lalu tersenyum malu. Itu adalah aib buruknya, ia begitu malu dengan Sera.
Andai saja ia tidak melakukan hal bodoh itu, andai saja ia tidak mencintai Alana secara sepihak pasti semua itu tidak akan terjadi.
"Aku malu sekali denganmu, Sera. Aku sudah kotor karena imanku tidak kuat," ucap Ali.
"Semua orang pasti punya rahasia kok om sayang. Tapi aku salut dengan om karna om mau jujur denganku," jawab Sera bangga.
Ali tersenyum lalu mengacak Sera dengan gemas dan tidak di sangka jika Mauren sudah berdiri dibelakang mereka.
"Kalian ada hubungan apa?" tanya Mauren membuat kaget Ali dan Sera.
"Ku mohon jangan beritahu Kak Sean!" pinta Sera.
__ADS_1
"Saya akan memberitahu Tuan Sean tapi tidak sekarang, saya mohon untuk merahasiakan ini Nona Mauren," ucap Ali.
Mauren mengambil Seina dari gendongan Sera lalu menganggukan kepala. Dia merasa jika itu bukan urusannya.
"Kak Ali, jangan sakiti Sera! Berilah dia banyak perhatian karena selama ini dia kesepian," ucap Mauren.
"Baik nona. Saya akan menjaga Sera dengan baik"
Setelah itu Mauren meminta Ali untuk mengantarnya pulang ke apartemen bersama Seina sedangkan Sera masuk ke dalam menunggu Zara yang belum juga selesai operasi.
Dia berdoa supaya saudari kembarnya selamat bersama dengan si jabang bayi.
Dan beberapa saat kemudian, Dokter yang menangani Zara keluar dan ia mengatakan jika Zara dan kedua bayinya selamat.
Semua anggota keluarga sangat bahagia apalagi Sera kini sudah punya 3 keponakan yang lucu.
Sera di perbolehkan untuk melihat Zara, Zara terlihat begitu bahagia bahkan sampai menangis ketika 9 bulan ini ia mengandung dan melahirkan dua buah hatinya.
"Sakit tun?" tanya Sera sambil mengusap wajah Zara.
"Sakitlah tun, tapi aku seneng banget. Aku punya baby yang imut," jawab Sera.
Sera memeluk Zara, ia sangat bangga kepada Zara yang kini sudah menyelesaikan masalahnya. Zara memang tak beruntung ia di perkosa oleh dokter pribadi kakaknya sendiri tetapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa merubah nasib. Yang terpenting Dokter Juna mau bertanggung jawab dan membahagiakan Zara dengan sepenuh hati.
Sedangkan Sera, ia sudah pasrah tentang penyakit yang kian menggerogoti tubuhnya. Tubuhnya mulai rapuh dan mudah lelah. Tetapi hebatnya ia masih bisa ceria di depan semua orang.
Sera memang punya bakat akting bahkan semua orang bisa terperdaya dengan akting cerianya.
Dokter Juna menepuk punggung Sera lalu menyuruh Sera untuk datang ke ruangannya.
"Baik Sera, karena kau sangat bandel bahkan tidak datang untuk cuci darah maka aku dan Dokter Vania akan memberitahu yang sebenarnya kepada keluargamu," ucap Dokter Juna.
"Paman, kenapa begitu? Jangan paman!" ucap Sera.
Dan disaat bersamaan, Dokter Vania masuk ke ruangan Dokter Juna. Dia menghela nafas melihat Sera yang baru muncul di hadapannya.
"Darimana saja Sera? 3 kali kau absen dari cuci darah," ucap Dokter Vania.
Sera terdiam tidak bisa menjawab. Bulir-bulir air matanya berjatuhan. Dia sangat sedih dan berharap supaya cepat mati agar tidak merasakan sakit lagi.
"Aku gak mau cuci darah lagi, aku capek dok. Aku gak mau sakit, aku ingin mati aja," ucap Sera sambil terisak.
Dokter Vania memeluk Sera dan menenangkan Sera, ia juga mengatakan jika Sera akan cepat sembuh jika melakukan rutin cuci darah walau kemungkinan itu kecil.
"Sekarang dokter akan memberitahu kepada keluargamu tentang penyakitmu," ucap Dokter Vania.
"Jangan dok! Jangan sekarang! Sekarang mereka sedang bahagia karena kehadiran anak Zara dan Paman Juna," jawab Sera.
"Tapi penyakitmu..."
"Ku mohon, aku akan datang cuci darah tapi jangan beritahu mereka dulu!" pinta Sera.
Setelah berdebat cukup alot akhirnya Dokter Vania memberikan waktu satu bulan untuk memberitahu kepada keluarganya tentang penyakitnya.
__ADS_1
Setelah itu Sera keluar dari ruangan Dokter Juna dan betapa terkejutnya melihat Ali sudah berdiri di depan pintu.
Ali menatap wajah Sera sedangkan Sera mati gaya, ia takut jika Ali mendengar pembicaraan mereka.
"Om sayang?"
5 menit kemudian,
Mereka kini berada di atap rumah sakit. Angin sepoi-sepoi menghempas rambut gadis berponi itu.
Ali menatap Sera dengan perasaan sedih, gadis yang sudah menjadi pacarnya itu mempunyai penyakit mematikan.
"Kenapa kau menutupi semua ini, Sera?" tanya Ali.
"Aku tidak mau merepotkan orang dan membuat orang kasian kepadaku"
"Tapi semua ini bisa membunuhmu secara perlahan," teriak Ali kesal.
Tiba-tiba ponsel Sera berbunyi yang ternyata pemberitahuan pesan dari Asisten Kim.
Kak Kim
Anda dimana nona Sera?
Sera
Aku diatap kak Kim.
Ali merebut ponsel Sera lalu menatap lekat gadis kecil itu. Sungguh ia tidak menyangka jika Sera menyembunyikan semua ini darinya.
"Om Ali pasti nyesel 'kan pacaran sama aku yang penyakitan? Om Ali mau minta putus?" ucap Sera.
"Sera, aku menyukaimu. Aku memang munafik jika tidak mengakui hal itu. Aku sudah menceritakan aibku dan kenapa kau menyembunyikan penyakitmu dariku?"
"Om Ali, kita bahkan berpacaran belum ada seminggu tapi kenapa Om Ali lebay begini? Kata Om juga menyukai Kak Alana?"
"Singkirkan perihal Alana! Ini tentang kita, aku nyaman bersamamu tetapi aku tepis perasaan itu karena aku harus bertanggung jawab kepada Alana. Aku tidak mau menyakitimu tapi rasa egoku kalah dengan perasaanku," ucap Ali.
Ali menatap lembut Sera, Sera juga menatap Ali. Berdebar, itu yang di rasakan Ali. Tapi ia terlalu takut melangkah jauh.
"Om Ali mau menemaniku disisa akhir hidupku?" tanya Sera sambil berkaca-kaca.
"Jangan bilang begitu! Kau harus tetap hidup. Kau ingin berkencan dengan Kim? Aku akan kabulkan semua itu tapi ku mohon jangan patah semangat! Masa depan mu masih panjang, Sera," jawab Ali.
"Jangan bahas tentang Kak Kim! Aku..."
Dan belum sempat menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Ali mencium bibir Sera dengan lembut. Sera sempat terkejut tapi ia tidak menolaknya. Mereka berciuman di atap rumah sakit sambil di temani angin sepoi-sepoi.
Ini pertama kalinya mereka berciuman, jantung Ali berdegup dengan kencang sampai ia merasa malu karena bisa mendengarnya sendiri.
Disisi lain Asisten Kim melihat mereka berdua berciuman. Entah kenapa ia sangat sakit hati dan cemburu.
Dia lalu memegang dadanya lalu berjalan turun dan tidak jadi naik ke atas.
__ADS_1