
Setelah berfoto ria di Batu Cave mereka segera menuju ke hotel lagi untuk mandi dan beristirahat. Sean selalu menggandeng Mauren bahkan sampai di depan pintu hotel.
"Selamat istirahat Tuan dan Nyonya. Besok pagi kita mulai start lagi pukul 8," ucap tour guide kepada pasangan aneh itu.
Sean menganggukan kepala lalu mereka masuk ke kamar hotel dengan fasilitas bintang 5. Mauren langsung merebahkan dirinya di ranjang tetapi tiba-tiba Sean menggendongnya menuju kamar mandi.
"Aaaa turunkan aku, Oppa!" teriak Mauren.
"Ayo mandi! Supaya segar tubuh kita," ucap Sean.
Setelah itu Sean menurunkan Mauren lalu menanggalkan pakaian milik Mauren dan melemparnya ke lantai.
Sean menyiapkan bak mandi lalu memberinya air hangat dan sabun.
Setelah itu ia melepaskan semua pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi sedangkan Mauren masih memandanginya.
"Mau berdiri saja kau? Ayo cepat masuk!" ucap Sean membuyarkan lamunan Mauren.
Mauren lalu dengan bersemangat masuk kedalam bak mandi tetapi tidak sengaja ia menginjak telur Sean membuat pria itu berteriak kesakitan.
"Aaaaaaaaw... telur bacemku... aaaaaah.. Sialan! Bisa-bisanya kau menginjak masa depanku....," teriak Sean.
Mauren masih berpikir. Telur bacem? Mauren belum mengerti dengan istilah baru itu.
"Telur bacem itu apa, oppa?" tanya Mauren sambil menggaruk kepalanya.
"Hah! Kau tau ular?" tanya Sean.
Mauren menganggukan kepala.
"Kau tau di bawah ular ada apa?" tanya Sean.
"Ada kaki?" jawab Mauren.
Sean menepuk jidatnya, ia melihat Mauren yang masih kebingungan. "Ular mana yang berkaki?" tanya Sean.
"Emang ular ada yang berkaki?" ucap Mauren membuat Sean heran.
Sean menarik tubuh Mauren, ia menatap mata sang istri dengan lekat.
"Kita sudah 4 bulan tidur bersama tetapi kau tidak tahu jika ularku punya telur?" tanya Sean.
"Mana ku tahu, oppa. Aku tidak pernah memperhatikan dan lagi pula setiap malam oppa meminta mematikan lampu," jawab Mauren dengan polosnya.
Mendengar jawaban sang istri, Sean langsung memeluk tubuh Mauren. Mauren adalah gadis langka yang pernah ia temui.
Jika Mauren tidak mengetahui keberadaan telur rahasia itu jadi ketika menonton pemersatu bangsa apa yang ia lihat? Sungguh sebuah pertanyaan yang tidak masuk akal.
Sean langsung memberitahu apa yang harusnya di beritahu. Mauren terkejut karena baru menyadari keberadaan telur itu.
"Wow... telur rahasia," ucap Mauren.
"Cih... bagaimana bisa kau tidak tahu tentang ini?"
Mereka lalu mandi bersama dan saling menggosok badan. Mereka nampak menikmati bulan madu kali ini.
"Oppa, tentang bayi itu?"
__ADS_1
"Sudah ku bilang kita bisa membuatnya sendiri"
Maaf Oppa aku telah mengadopsinya diam-diam tanpa sepengetahuan Oppa. Aku ingin tetap memiliki bayi itu.
Bahkan aku sekarang ini ingin cepat menyelesaikan bulan madu ini dan segera bertemu Arseina yang aku titipkan pada emak dan bapak.
Setelah selesai mandi mereka segera mengeringkan badan dengan handuk.
Mereka lalu duduk di ranjang sambil menunggu makan malam datang yang akan di antar oleh pelayan.
Sean menyalakan Televisi walaupun menggunakan bahasa melayu tetapi Sean masih bisa paham.
"Oppa, aku ingin naik ke menara Petronas," pinta Mauren.
"Tidak bisa, Oren. Besok aku akan mengajakmu ke Tower Kuala lumpur, disana kita bisa sampai lantai teratas dan bisa melihat pemandangan ibu kota dan kau bisa melihat menara Petronas dari tower itu," jelas Sean.
"Sungguh?"
Sean menganggukan kepala dan tiba-tiba pelayan datang membawakan makan malam mereka.
Mereka langsung menyantap hidangan melayu itu dengan lahap.
15 menit kemudian mereka selesai makan lalu segera duduk di ranjang menunggu makanan yang sudah mereka makan segera turun.
"Oppa capek? Mau aku pijat?" tanya Mauren.
"Sepertinya kau yang lelah, mari biar aku pijat," ucap Sean sambil mendorong tubuh Mauren untuk tengkurap.
Sean menaikan baju Mauren dan mulai memijat. Mauren sampai keenakan, baru kali ini ia merasakan pijatan pria yang benar-benar enak. Tetapi tiba-tiba Sean langsung menindih tubuh Mauren dan Mauren berteriak.
"Ayo main kuda-kudaan, Oren"
"Harusnya aku yang naik badan Oppa bukan Oppa yang naik badan aku. Tubuhku sudah kurus masih saja Oppa tindih"
Sean tersenyum lalu turun dari tubuh Mauren, ia merebahkan dirinya di samping Mauren dan mengusap kepalanya.
"I love you," ucap Sean kepada Mauren.
Mauren terkejut baru kali ini Sean mengucapkan kata itu kepadanya.
"Kesambet setan Malaysia mungkin ya? Oppa baru kali ini mengucapkan kata itu," ucap Mauren.
"Karena cinta tidak harus menggunakan kata-kata. Aku setiap hari sudah menunjukan jika aku sangat mencintaimu," jawab Sean.
Mauren tersentuh lalu memeluk Sean. Dia menangis di pelukan Sean sampai benar-benar lelah lalu sampai tertidur di pelukan sang suami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya,
Sean dan Mauren segera keluar dari kamar hotel setelah melakukan makan pagi. Mereka segera menuju ke tujuan terakhir di Malaysia sebelum siang nanti terbang ke Thailand.
Sesuai janji Sean, ia mengajak ke menara Kuala Lumpur.
Mauren tidak sabar ingin melihat ibukota melalui bangunan tertinggi ke 7 di dunia itu.
Dari hotel yang ia singgahi menuju ke menara Kuala lumpur hanya membutuhkan waktu setengah jam. Mereka tidak lupa membawa koper karena setelah pulang dari menara itu mereka akan bergegas ke bandara.
__ADS_1
Setelah sampai di menara Kuala Lumpur, mereka di antar tour guide untuk masuk kedalam. Mereka langsung menaiki lift menuju lantai teratas menara raksasa itu.
Setelah keluar dari lift, tour guide mengantar mereka ke lantai fenomenal.
Mauren mengembangkan senyumannya tetapi lambat laut senyumannya menjadi sebuah ketakutan.
Dia memeluk kaki Sean sambil menangis, ia tidak menyangka jika di menara tersebut lantainya adalah sebuah kaca yang tembus pandang dan bisa langsung melihat pemandangan dibawahnya.
"Huaaaaa... aku takut Oppa. Kakiku bergetar tidak bisa bergerak. Huaaaa," rengek Mauren membuat pengunjung disekitarnya memperhatikannya.
"Bangun, Oren! Katanya kau ingin melihat pemandangan ibu kota?"
"Tapi tidak begini juga, oppa. Aku sungguh takut"
Sean berusaha mengangkat tubuh Mauren dan membawanya masuk ke dalam.
Sean mengusap air mata Mauren, ia sangat siaga menjadi seorang suami.
"Sudah jangan menangis! Kita bisa ke sisi lain dari gedung ini untuk melihat pemandangan ibu kota," ucap Sean.
Tour guide lalu mengantar mereka ke sisi ruangan lain. Disana banyak teropong yang di sewakan untuk pengunjung. Sean lalu mencoba salah satu dari teropong itu. Dia melihat pemandangan melalui teropong.
"Wuihhh... ada orang berak," ucap Sean membuat Mauren penasaran.
"Aku mau lihat, oppa"
Sean memberikan teropong itu lalu Mauren mencoba melihatnya.
"Mana orang beraknya, oppa?" tanya Mauren.
"Buahahahaha... gadis aneh"
Mauren berdecih lalu menginjak kaki Sean. Dia kesal karena Sean malah mengerjainya.
"Jika ingin lihat orang e'ek ayo ikut ke WC," goda Sean.
"Isssssh... jorok!"
Mereka lalu berfoto selfi diatas menara itu. Sean bisa melihat Mauren sangat bahagia. Satu persatu pose mereka ambil dari mulai yang romantis sampai yang konyol tidak terlewatkan.
Setelah berjam-jam diatas menara itu, mereka lalu menuju ke bandara untuk melakukan penerbangan ke Thailand.
Di dalam mobil Sean memberikan multivitamin untuk sang istri tercinta supaya badan mereka tetap terjaga dan tidak mudah lelah.
***
Untuk bab bulan madu ini di harap bersabar ya. Karena aku ingin menunjukan keuwuan mereka saja. Haha..
jangan lupa untuk mampir ke novel author yang lain.
__ADS_1