
2 hari kemudian.
Mengalah memang lebih baik, itu yang ada dipikiran Asisten Kim. Dia tidak di laporkan ke kantor polisi melainkan disuruh untuk mengganti uang 10 milyar dan mendapat denda yang telah di tentukan. Parahnya lagi ia harus meninggalkan Young Group yang telah bersamanya hampir 11 tahun.
Dia harus mengganti uang yang sama sekali tidak diambilnya. 10 milyar adalah jumlah yang cukup fantastis baginya. Walaupun ia bisa menggantinya dengan mudah tetapi uang itu menjadi uang tidak ikhlas karena ia tidak melakukan korupsi sama sekali.
Asisten Kim sudah mendapat surat pemutusan hubungan kerja dari kantornya. Beberapa orang yang tidak menyukainya bertepuk tangan dan beberapa orang menyayangkannya karena harus keluar dari Young Group.
Sedangkan Sean sudah tidak memperdulikan lagi masalah Asisten Kim, ia sudah mendapat asisten baru, siapa lagi jika bukan Dasha.
Kakek Askar sedang tidak ada dirumah bahkan ia tidak tahu jika Kim sudah di pecat oleh Sean.
"Sean, kau sungguh memecat Kim?" tanya Dokter Juna.
"Hem"
"Kim tidak mungkin melakukan itu Sean, dia juga tidak mungkin melakukan hal lebih pada istrimu"
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun. Ini sudah keputusanku, aku sangat kecewa karena pengkhianatan ini," jawab Sean.
Tiba-tiba ponsel Sean berbunyi yang ternyata dari Dasha. Dasha menyuruh datang ke hotel, ada yang harus Sean ketahui langsung.
Sean mengambil jasnya lalu memakainya, ia kini menuju mobil dan segera menuju ke hotel.
Di kamar hotel,
Asisten Kim terkejut karena Mauren yang datang. Padahal jelas-jelas salah satu temannya mengirimi pesan untuk menemuinya di salah satu kamar hotel.
Dan ternyata Mauren lah yang datang.
"Anda kenapa disini nona?" tanya Asisten Kim.
"Kak Kim kenapa juga disini?" tanya Mauren balik.
Mereka menghela nafas karena lengah telah dikerjai oleh seseorang.
"Kita dijebak nona, ada yang sengaja mempertemukan kita disini," ucap Asisten Kim.
"Siapa sebenarnya Kak Kim yang menjebak kita?"
Asisten Kim menggelengkan kepala, ia langsung menggandeng Mauren untuk segera keluar dari kamar itu dan tiba-tiba seorang pria sudah berdiri di depan pintu dengan wajah marahnya.
"Kalian?" ucap Sean.
"Oppa?"
Sean langsung memukul Asisten Kim hingga tersungkur membuat Mauren sangat terkejut. Dia membantu Asisten Kim untuk berdiri.
Sean berdecih lalu menarik tangan Mauren tetapi Asisten Kim juga memegangi tangan Mauren.
"Lepaskan tangan istriku, Bangs*t!" ucap Sean menatap tajam.
"Tidak akan. Saya takut jika anda menyakiti Nona Mauren setelah ini," jawab Asisten Kim.
"Itu bukan urusanmu. Aku harus memberi pelajaran kepada istri kurang ajar ini karena telah berselingkuh di belakangku," ucap Sean berapi-api.
__ADS_1
"Itu urusanku karena ini terjadi karena kesalahpahaman," jawab Asisten Kim.
Mereka kini beradu pandang menunjukan mata elang masing-masing. Sedangkan Mauren merasa kesakitan karena di cengkeram oleh kedua pria yang sedang emosi.
"Tolong lepaskan tanganku Kak Kim!" pinta Mauren.
"Tapi Nona?"
"Tolong lepaskan!"
Dengan terpaksa Asisten Kim melepaskannya. Mauren lalu menarik Sean untuk meninggalkan hotel ini.
Sean tersenyum mengejek kepada Asisten Kim.
Maaf Kak Kim. Aku harus melakukan rencana ini sampai berhasil. Aku ingin melihat siapa yang mengadu domba kita bertiga. Batin Mauren.
Sean mengajak Mauren untuk masuk dalam mobil. Di dalam mobil mereka saling terdiam apalagi Sean masih dalam keadaan emosi.
"Bagaimana permainan Kim? Memuaskan?" tanya Sean.
"Aku tidak serendah itu, oppa"
"Kau memang munafik," ucap Sean membuat Mauren terdiam.
Dia tidak menyangka jika Sean akan seperti ini. Suami yang selalu perhatian dan lembut kepadanya kini menjadi ketus dan dingin.
"Ceraikan aku, oppa!" pinta Mauren membuat Sean menghentikan mobilnya.
"Lancang sekali mulutmu"
Sean terhenyak mendengar ucapan Mauren. Dia melepas sabuk pengaman nya lalu mendekati Mauren dan mencium bibir Mauren dengan lembut.
Mauren lalu mendorong tubuh Sean, ia begitu kesal kepada suami yang tiba-tiba menciumnya.
"Kenapa kau menolak ciumanku? Apakah kau sudah keenakan dengan ciumannya Kim?" tanya Sean.
Plaaaaaak...
Mauren menampar Sean, dia begitu kesal karena Sean kini menganggapnya murahan. Sean terkejut lalu segera melajukan mobilnya kencang menuju apartemen.
Setelah sampai di apartemen, Mauren keluar dari mobil. Dia berlari meninggalkan Sean menunju apartemen teratasnya. Entah kenapa kini ia sudah tidak respek kepada Sean.
Setelah sampai di kamar apartemennya, ia mengambil koper dan memasukan barang-barangnya.
Sean menatapnya dengan nanar.
"Kau ingin menghindar dari masalah? Kita lihat seberapa kuat kau bisa hidup tanpa ku?" ucap Sean membuat Mauren terhenti mengemasi barangnya lalu mendongakan kepala untuk menatap Sean.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu. Jika oppa memang sayang kepadaku pasti oppa akan lebih mempercayaiku. Aku yakin dibalik semua ini ada orang yang sengaja mengadu domba kita," jawab Mauren.
Sean terdiam lalu hanya menatap Mauren yang sedang mengemasi bajunya. Setelah itu Mauren menarik kopernya meninggalkan Sean.
"Tunggu!" ucap Sean.
Apakah oppa akan mencegahku dan memohon supaya aku tidak pergi?
__ADS_1
"Kembalikan kartu debitku!" pinta Sean.
Cih... yang benar saja?
Mauren mengambil dompetnya lalu melempar 2 kartu debit yang di berikan oleh Sean waktu itu.
Kini hanya uang 300 ribu yang ia punya untuk modal kembali ke rumah orang tua angkatnya.
Disisi lain, orang suruhan Asisten Kim sedang menyelinap di ruangan Dasha.
Dia sedang berusaha mengambil berkas penting dan ponsel Dasha yang tergeletak di meja kantornya. Setelah itu ia menyalin data penting ke ponselnya lalu mengirimkannya kepada Asisten Kim.
Asisten Kim yang menuju untuk menjemput Mauren tiba-tiba menghentikan mobilnya. Dia membuka data yang dikirimkan orang suruhannya.
Sialan... sudah ku duga pasti ulah Dasha dan parahnya Assound Group dan beberapa petinggi Young Group ikut terlibat dalam khasus korupsi ini. Bahkan lebih dari 10 M. Disini aku yang di fitnah dan di kambing hitamkan.
Aku harus segera membongkarnya dan membuat Tuan Sean mempercayaiku lagi.
Asisten Kim mengambil ponselnya untuk menelpon orang suruhannya.
"John? Kerja bagus. Awasi setiap pergerakan Dasha! Jangan sampai ketahuan!" ucap Asisten Kim.
"Baik, tuan"
Setelah itu, Asisten Kim melajukan mobilnya untuk menjemput Mauren dan setelah sampai ia bisa melihat Mauren menunggu di depan gedung apartemen.
"Nona?" ucap Asisten Kim sambil keluar dari mobil. "Kenapa anda membawa koper? Harusnya anda membawa seperlunya saja," sambung Asisten Kim.
"Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan Sean. Kami tidak cocok. Maaf aku tidak bisa mengikuti rencanamu yang hanya berpura-pura meninggalkan Sean. Tapi aku ingin benar-benar meninggalkan Sean," jawab Mauren.
"Tuan Sean menyetujuinya?"
"Aku tidak tahu, saat aku meminta bercerai dia hanya terdiam. Aku akan tetap menunggunya untuk menceraikanku," ucap Mauren sambil memasuki mobil.
Asisten Kim melajukan mobilnya ke rumah Mauren yang ada di kota sebelah. Dia bingung kenapa masalahnya menjadi serumit ini.
Dia hanya menyuruh Mauren untuk berpura-pura meninggalkan Sean malah kini Mauren benar-benar ingin meninggalkan Sean.
"Nona harus memikirkannya lagi! Perceraian itu tidak mudah"
"Tidak masalah Kak Kim. Lagipula kami belum mempunyai anak, aku tidak ingin membuat diriku terluka lagi. Aku sudah lelah, kau tau sendiri kan jika aku selalu menderita karena menikah dengan Sean?" tanya Mauren.
"Tapi bukan Tuan Sean yang membuatmu menderita tetapi orang-orang di sekitarnya yang membuat anda menderita"
"Termasuk dirimu?" tanya Mauren membuat Asisten Kim tersenyum kecut.
Mauren tertawa, ia hanya bercanda dengan Asisten Kim yang sudah kelewat serius.
"Jika aku tidak menikah dengan Sean pasti saat ini kita sudah menikah," ucap Mauren.
"Belum tentu nona. Jika anda memang jodoh Tuan Sean pasti anda tetap akan menikah dengan Tuan Sean"
"Cih... seperti ini saja kau masih membelanya. Setelah ini rencanamu apa setelah keluar dari Young Group?" tanya Mauren.
"Menikahimu..."
__ADS_1