Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 177 - Terbongkar


__ADS_3

Ali melepas ciumannya dan Sera masih terpaku menatap Ali. Pria yang pertama kali menciumnya tanpa meminta. Pria yang pertama kalinya menatap dengan tulus. Bahkan terasa angin berhenti bergerak dan dada Sera merasa sesak. Kenapa bukan Asisten Kim yang melakukan itu kepadanya?


"Om Ali mencium cewek SMA," ucap Sera.


"Iya, bibirmu terasa manis sekali. Bolehkah aku menciummu lagi?"


Sera menutup mulutnya dengan tangan. Ali hanya tersenyum lalu memeluk Sera.


Sera memang mirip dengan adiknya yang telah tiada apalagi mengetahui Sera mempunyai penyakit mematikan membuat Ali merasa kasian dengan Sera.


Sera melepas pelukan Ali lalu memandang pria berkacamata itu. Entah pria itu berkata tulus atau tidak kepadanya yang terpenting kini Sera mempunyai teman hidup.


Setelah itu mereka turun menghampiri anggota keluarga yang lain dan nampak Asisten Kim sudah ada disana. Dia tidak memandang Ali, entah kenapa perasaannya menjadi canggung dan bahkan untuk mengajak berbicara kepada Ali merasa sungkan.


Ali dan Sera seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka berjaga jarak di depan keluarga.


"Jadi keponakanku cewek apa cowok? Aku pengen lihat," ucap Sera.


"Dia cwk," jawab Sean.


"Dimana sekarang?"


"Ada di inkubator, Sera," jawab Mamanya.


Sera menarik tangan Sean untuk melihat keponakannya. Mereka hanya diperbolehkan melalui jendela.


Sera melihat keponakannya berjenis kelamin cwk sedang berada di inkubator.


Dia merasa gemas dan ingin segera menggendongnya.


"Sera?"


"Iya kak Sean"


"Sejak kapan kau punya penyakit itu?" tanya Sean membuat Sera terkejut.


Lidah Sera terasa kelu dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Sean. Ini semua pasti ulah Dokter Juna yang tidak bisa memegang janji untuk menjaga rahasia.


"M--maksud k--kak Sean apa?" tanya Sera.


"Jangan berpura-pura bodoh lagi, Sera! Juna memberitahu pada kakak. Kenapa kau menyembunyikan semua ini?" tanya Sean sambil berkaca-kaca.


Sera terdiam tidak bisa berkata-kata, ia semakin takut lalu Sean memeluknya.


Sean merasa sangat terpukul mendengar semua itu, Sera juga ikut menangis.


"Kak Sean harus janji, rahasiakan ini dulu. Mereka sedang berbahagia dengan kedatangan anak Zara, aku gak mau merusak kebahagiaan mereka," ucap Sera.


"Semua harus tau, Sera"

__ADS_1


"Ku mohon jangan kak! Aku gak mau mereka sedih," pinta Sera.


Sean melepas pelukannya lalu menangkup wajah Sera. Gadis kecil itu harus mengalami hal seperti ini. Sean merasa gagal menjadi seorang pria. Zara yang bisa-bisanya di perkosa, Sera yang memiliki penyakit tetapi ia tidak tahu dan Mauren yang mengalami nasib tragis harus merelakan bayinya keguguran akibat keluarganya.


Sean lalu berjongkok memegangi kepalanya. Dia merasa gagal menjadi seorang kakak dan seorang suami yang baik.


"Kak Sean, aku gakpapa kak. Aku akan sembuh, jangan khawatir!" ucap Sean.


Ali dan Asisten Kim berjalan beriringan. Mereka sangat canggung bahkan tidak berucap sepatah katapun. Mereka terkejut melihat sang tuan berjongkok sedangkan Sera mencoba menenangkannya.


"Tuan Sean?" ucap Asisten Kim.


Asisten Kim dan Ali membantu sang tuan untuk berdiri mereka mengantar sang tuan untuk pulang dan setelah sampai di parkiran tangan Kim menarik tangan kiri Sean dan tangan Ali menarik tangan kanan Sean.


Mereka berebut sang tuan harus naik ke mobil mereka.


"Lepaskan tanganmu, Ali! Tuan Sean akan kuantar pulang," ucap Asisten Kim dingin.


"Anda saja yang lepaskan tangan Tuan Sean, saya yang akan mengantarkannya pulang," jawab Ali tak kalah dingin.


Sean yang masih syok hanya terdiam. Sedangkan kedua asisten setianya masih berdebat.


"Saya sudah lama bekerja untuk Tuan Sean dan saya lebih senior daripada anda jadi anda harus mengalah," ucap Asisten Kim.


"Saya yang tadi mengantar Tuan Sean dan saya juga yang harus mengantarnya pulang," jawab Ali.


"Tunggu!" ucap Sera membuat Kim dan Ali menengok kebelakang. "Harusnya kalian memperebutkanku. Kenapa jadi Kak Sean yang diperebutkan?" sambung Sera.


"Ini masalah loyalitas Nona Sera, saya sebagai Asisten terlama Tuan Sean merasa Ali merebut pekerjaan saya," ucap Asisten Kim kesal.


"Haha... Anda mulai iri kepadaku?" ucap Ali dengan bangga.


Sean mulai geram dengan perdebatan kedua asistennya. Dia menepis tangan Kim dan Ali yang memegang tangannya.


"Kalian ikut denganku!" ucap Sean serius.


Sean menuju mobilnya lalu mengambil kemudi. Kali ini ia mengemudi sendiri dan terlihat Sera ada di sebelahnya.


Sedangkan Ali dan Kim duduk bersebelahan tetapi membuang pandangan satu sama lain.


Dua kampret itu, aku sedang sakit kepala malah bertengkar. Batin Sean.


Mereka malah bertengkar memperebutkan Kak Sean. Batin Sera.


Sean melajukan mobilnya ke sebuah persawahan dan terlihat masih basah dan selesai di bajak.


Setelah memarkirkan mobil, Sean turun bersama mereka yang kebingungan.


"Kalian ingin membuktikan loyalitas kalian kepadaku?" tanya Sean sambil bersandar pada mobilnya.

__ADS_1


"Iya tuan"


Sean maju satu langkah lalu memandang area persawahan itu. Dia tersenyum menyeringai lalu membalikkan badan kearah kedua asistennya.


"Turun kalian ke sawah!" ucap Sean.


Ali dan Kim kebingungan. Sean dengan cepat mendorong mereka masuk sawah.


Tanah sawah yang becek membuat celana mereka menjadi kotor.


"Guling-guling kalian!" teriak Sean membuat Ali dan Kim terkejut.


Mereka terdiam cukup lama karena tidak mungkin mereka berguling-guling di lumpur maka akan membuat jas mereka kotor.


"Hoi budek! Cepat guling-guling bngst" teriak Sean membuat mereka terkejut.


Mereka berguling-guling di lumpur itu dan sekali gulingan jas mereka kotor. Sera tertawa terbahak-bahak melihat mereka melakukan itu.


"Salto kalian!" teriak Sean.


Kak Sean semakin sinting. Hahaha. Batin Sera.


"Tuan Sean, kacamata saya kotor. Saya jadi tidak bisa melihat," ucap Ali.


Sean mendengus lalu ia juga masih punya hati dan menyuruh mereka naik.


Sean memandangi kedua asistennya seperti zombi.


"Sekali lagi kalian bertengkar maka akan kusuruh melakukan lebih dari ini," ancam Sean tidak main-main.


Tuan Sean memang menyeramkan. Aku tidak bisa membayangkan jika ia menghukum para anaknya. Pasti sadis. Batin Ali.


Gara-gara kedatangan Ali, Tuan Sean jadi menghukumku seperti ini. Batin Kim.


Mereka lalu masuk mobil dengan Ali yang menyetir dan Kim di depan. Sedangkan Sean dan Sera ada di belakang melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda.


"Hoi kalian. Mobilku menjadi kotor. Akan ku potong gaji kalian untuk biaya cuci mobil," ucap Sean.


"Tapi Tuan"


"Tidak ada tapi-tapian," ucap Sean.


Sean menyuruh menuju rumah kakeknya untuk mengambil barang-barang Sera. Dia akan mengajak Sera tinggal di apartemennya. Sera terkejut ada perasaan senang dan sedih. Senangnya ia tidak merasa kesepian tetapi sedihnya ia pasti tidak bisa keluar secara bebas.


Sean sangat khawatir dengan keadaan Sera. Dia akan memantau Sera sampai sembuh. Sean tidak ingin kehilangan sang adik yang sangat di sayanginya.


Sean memang gagal untuk melindungi Zara dan Mauren tetapi untuk kali ini ia tidak ingin gagal untuk melindungi Sera.


__ADS_1


__ADS_2