
"Seina ini harapan kita untuk memancing kehamilanku. Aku mohon terima dia sebagai anak kita," pinta Mauren.
Sean pura-pura tidak mendengar Mauren lalu tidur diranjang dan menarik selimutnya. Mauren sedikit kecewa dengan sikap Sean bahkan ia kecewa karena Sean tidak mau menyapa Seina.
Aku tahu oppa tidak suka tapi tidak begini caranya. Seina sudah menjadi anak kita.
"Papa?"
"Hem"
"Papa tidak mengajak mengobrol Seina?" tanya Mauren dengan penuh harap.
"Aku lelah Oren, aku ingin tidur"
Tidak terasa air mata Mauren terjatuh ia segera menyekanya dan memilih berbaring di sebelah Seina.
Seina menghentakan kakinya di ranjang dengan aktif bahkan baju yang di kenakannya sudah mulai naik sampai perutnya.
Mauren melihat jam menunjukan pukul 8 malam dan masih sempat untuk pergi ke toko peralatan bayi.
"Oppa, aku minta uang," pinta Mauren.
"Untuk apa?"
"Aku mau beli baju Seina. Bajunya sudah kekecilan"
Sean mengambil dompetnya lalu menyerahkannya pada Mauren dan menyuruh sang istri mengambil uangnya sendiri. Mauren mengambil 5 lembar seratus ribuan.
"Oppa aku ingin pergi beli baju Seina sekarang. Aku pamit ya," ucap Mauren sambil menggendong Seina dengan selendang.
"Ini sudah malam Oren. Besok saja sekalian aku antar," jawab Sean.
Mauren sangat keras kepala dan ingin membeli baju Seina malam itu juga membuat Sean mengalah dan memutuskan untuk mengantar Mauren menggunakan mobilnya tapi sebelum itu ia menelpon Ali untuk mengantar mereka.
Ali datang secepat kilat dan langsung mengantar pasangan aneh itu ke toko peralatan bayi terdekat.
"Rumahmu dimana Al?" tanya Sean.
"Di perumahan X dekat sini juga tuan," jawab Ali sambil menyetir mobil.
"Bisa singkirkan kacamatamu? Aku sangat risih memandangnya," suruh Sean.
Ali berpikir sejenak lalu menjawab dengan sopan. "Maaf Tuan, mata saya minus jadi memang harus memakai kacamata"
"Pakai soflen bodoh! Kim dulu juga berkacamata tetapi ia kusuruh memakai soflen," ucap Sean.
"Maaf tuan. Mata saya sudah tidak bisa menggunakan soflen lagi karena sempat infeksi," jawab Ali.
"Cih... alasan saja kau"
Oppa ini cerewet sekali macam emak-emak rempong. Batin Mauren.
Ali melajukan mobilnya dengan cepat dan beberapa menit kemudian mereka sampai di toko peralatan bayi.
Ali membukakan pintu untuk mereka berdua.
Mauren dan Sean masuk ke toko itu mereka langsung di sambut oleh pegawainya. Mauren memilih pakaian bayi yang imut dan Sean ikut memilihkan baju yang cocok untuk anak angkatnya.
"Ini bagaimana?" tanya Sean menunjukan rok berwarna hitam legam.
"Payah oppa. Anak kecil bagusnya yang berwarna cerah seperti pink atau oranye," jawab Mauren.
__ADS_1
Sean mendengus lalu ia memilih duduk di kursi dan tidak ikut mencarikan baju yang bagus untuk Seina.
Mauren begitu antusias sampai ia menyuruh Sean untuk memangku Seina dan ia bisa leluasa memilih baju bayi.
"Jangan lama-lama Oren!" ucap Sean kesal, dia sudah memangku Seina gendut itu.
Sean mencium aroma kepala bayi itu, sungguh membuat nyaman. Dia menghirupnya dalam-dalam.
Kenapa wangi sekali?
"Hoi bayi, pakai parfum apa kau?" tanya Sean menatap lekat mata bulat Seina.
Bayi itu tertawa dan bermain ludah membuat Sean terkejut karena ludah bayi itu mengenai tangannya.
"Aku papamu, kenapa kau meludahiku? Dasar bayi gendut!" ucap Sean membuat para pegawai menahan senyum karena ucapan Sean.
"Al... Al... Al," teriak Sean memanggil Ali.
Ali dengan cepat masuk ke toko itu dan Sean memberikan Seina kepada Ali.
"Gendong bayi nakal itu! Aku ingin menunggu di mobil saja," ucap Sean sambil berjalan keluar toko dan masuk ke mobil.
Visual Ali
Hayooo pilih Asisten Kim atau Sekertaris Ali? Wkwkw... maap ya visualnya korea mulu karena udah terlanjur pake orang korea dari awal cerita.
Mauren yang sudah memilih baju dan membayarnya kini menghampiri Sean tetapi ia kaget saat Ali yang menggendong Seina dan nampak Seina sangat senang di gendong Ali
"Dimana Sean?" tanya Mauren.
Mauren menghela nafas, bisa-bisanya Sean memilih di mobil ketimbang menunggu Seina yang sebagai anaknya.
Mauren dan Ali menuju ke mobil bersamaan.
"Nama mu siapa?" tanya Mauren.
"Nama saya Ali, nona"
"Harus betah-betah bekerja dengan Sean, dia sedikit aneh tetapi aslinya dia baik," ucap Mauren.
Ali hanya tersenyum sedangkan Sean yang memperhatikan dari dalam mobil cukup kesal. Dia membuka kaca mobil lalu memandang tajam kearah Ali.
Ali dengan cepat masuk ke mobil tidak lupa membukakan pintu mobil terlebih dulu untuk Mauren.
Mauren duduk disebelah Sean, ia tahu jika suaminya cembutu tetapi setelah kejadian yang membuat mereka berpisah kini Sean lebih banyak diam ketimbang menimbulkan masalah lagi.
"Al, besok bisa jemput Alana di bandara. Dia menyuruhku untuk menjemputnya tetapi aku tidak bisa," ucap Sean.
"Maaf tuan, Alana itu siapa?" tanya Ali.
"Dia temanku"
Ali menganggukan kepala tanpa banyak bicara.
Sedangkan Mauren menatap Sean dengan lembut.
"Kenapa oppa tidak mau menjemput Alana?" tanya Mauren.
__ADS_1
"Aku tidak mau membuatmu cemburu"
"Aaah so sweeeeet," ucap Mauren menggoda sang suami.
Tiba-tiba bayi itu tertidur membuat Mauren gemas lalu mencubit gemas pipi Seina.
Sean meliriknya dan memutar bola mata dengan jengah.
"Oppa lihatlah! Seina sangat lucu"
"Iya"
"Oppa tidak suka?"
"Aku suka," jawab Sean.
"Suka apa?"
"Suka menciummu"
Dan tiba-tiba Sean ******* bibir Mauren dan Ali yang tengah menyetir sempat terkejut tetapi ia membuang pandangannya.
Sabar Ali! Ini cobaan untuk orang jomblo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya,
Seorang lelaki tengah memandangi butik milik Delia yaitu mama kandung Mauren. Pria itu dari dalam mobil menatap Delia yang sedang asyik menata baju di butiknya.
Delia, kau terlihat sudah bahagia dan melupakan anak kita.
Kau tega sekali membuang anak kita.
Apakah anak kita masih hidup, Delia?
Aku sangat benci denganmu. Teganya kau waktu itu tidak jujur denganku jika sedang hamil.
Pria itu lalu melajukan mobilnya meninggalkan butik itu. Dia masih berharap jika anaknya masih hidup. Dia ingin sekali bertemu dengannya.
Disisi lain.
Sean dan Mauren baru saja melakukan kontrol di dokter kandungan. Dokter bilang Mauren harus makan makanan yang bergizi dan banyak istirahat.
Setelah itu Mauren juga memberi imunisasi bulanan untuk Seina.
Seina yang masih terlelap membuat sang dokter mudah untuk menyuntiknya tetapi Sean yang malah ribut. Dia tidak tega jika bayi itu di suntik.
Mauren menenangkan Sean dan meyakinkan jika Seina akan baik-baik saja. Dan ketika di suntik Seina terbangun lalu menangis kencang.
Sean panik lalu menggendong Seina untuk menenangkannya. Dia sudah seperti seorang papa pada umumnya.
Mauren cukup senang karena Sean lambat laun bisa menerima Seina.
"Aku tidak mengizinkan jika anakku di suntik lagi pasti Seina sangat kesakitan," ucap Sean.
"Imunisasi itu penting oppa," jawab Mauren.
"Aku tidak tega melihat Seina menangis seperti itu," ucap Sean sambil menyerahkan Seina kepada Mauren.
Oppa jika cuek sangat cuek sekali dan jika peduli sangat peduli sekali.
__ADS_1
Suasana hati oppa memang tidak bisa di tebak.