
PERINGATAN! Mengandung adegan 21+
Waktu menunjukan 9 malam, hawa semakin dingin dan terlihat awan mendung menyelimuti malam ini.
Kedua pria tampan itu kini tengah ngerumpi seperti perempuan yang sedang saling curhat, kecuali Asisten Kim yang hanya sebagai pendengar saja.
Kali ini Dokter Juna nampak sedih karena sang istri akhir-akhir ini sedikit berubah kepadanya dan sempat ingin meminta bercerai dari Dokter juna.
Alasannya selalu sama yaitu Anita selalu merasa gagal menjadi istri yang baik dan tidak bisa memiliki seorang bayi. Padahal Dokter Juna menerima apa adanya dan ia akan menjalankan program bayi tabung jika perlu.
"Jangan mengangis Sean! Aku tidak apa-apa," ucap Dokter Juna melihat Sean mengucek matanya.
"Sialan! Siapa yang menangis? Mataku kemasukan debu beg*"
"Haha jual mahal dia, Kim," ucap Dokter Juna.
Dokter Juna melihat Asisten Kim yang terkantuk-kantuk, Sedangkan Sean yang tahu langsung menendang kaki Asisten Kim membuat pria itu terkejut.
"Dasar banci! Baru jam 9 sudah mengantuk kau," ucap Sean.
Asisten Kim tersenyum kecut, hampir 11 tahun ia sudah bekerja untuk Sean tanpa mengenal lelah. Dia juga merasa senang bisa bekerja bersama Sean karena Sean sudah menganggapnya seperti keluarganya sendiri.
"Terus Mama mu bagaimana Sean?"
"Huft.. Dia tetap tidak merestui kami dan parahnya bayi yang di kandung Mauren tidak dianggap cucunya. Itu semua memang kesalahanku yang tidak jujur kepada Mama"
"Sabar Sean, pasti setelah anakmu lahir beliau baru bisa menerimanya," ucap Dokter Juna menghibur Sean.
Sean tersenyum memang sepertinya sang Mama akan menerima bayi itu setelah lahir. Dia kini juga telah mengundur semua rencananya yang akan menggelar resepsi pernikahan 2 bulan lagi menjadi tahun depan setelah bayinya lahir. Dia kini hanya ingin fokus dengan kehamilan Mauren saja. Toh, ia juga sudah menikah secara resmi dengan gadis itu.
"Kim. Bagaimana denganmu? Aku jadi kasian denganmu. Kalian saudara kembar upin ipin bisa-bisanya menyukai gadis yang sama," ucap Dokter Juna.
"Jangan menangis kau, Kim!" ejek Sean.
"Jangan memikirkan saya, Dok! Jodohku akan datang dengan sendirinya.
"Oppa...," teriak Mauren sambil memeluk Sean dari belakang.
"Gara-gara kalian berbicara kencang Nyonya besar jadi terbangunkan," ucap Sean kesal.
Mauren lalu terduduk si pangkuan Sean.
Dia seperti anak kecil yang ingin bermanja-manja dengan dengan sang suami. Sean mengelus kepala Mauren dan mencium keningnya.
"Ini masih jam 9. Cepat tidur lagi Mauren!"
"Tidak mau, aku ingin nasi kuning, Oppa"
Sean menghela nafas, ia harus bersabar menghadapi rengekan sang istri. Apalagi di malam hari tidak ada yang berjualan nasi kuning.
__ADS_1
"Aneh-aneh saja kau! Mana ada yang jualan nasi kuning di malam hari," bentak Sean.
Mauren terkejut mendengar ucapan Sean. Dia menunjukan ekspresi yang ingin menangis dengan bibir yang di monyong-monyongkan.
Dia merasa sakit hati ketika Sean malah memarahinya.
"Jangan bentak istrimu, Sean! Dia sedang hamil, kau harus memperlakukannya dengan lembut," ucap Dokter Juna.
"Huh... baiklah. Aku akan menyuruh chef terhandalku untuk membuatkan nasi kuning untukmu Oren sayang"
Sean segera menelpon chef terhandalnya dan menyuruh membuatkan nasi kuning malam ini juga tetapi Mauren menjelaskan bukan nasi kuning biasa, ia ingin nasi kuning luar biasa dengan dibentuk tumpeng dan diberi bendera merah putih diatasnya.
"Kau pikir 17 agustusan? Kau jika mengidam yang benar saja Mauren!" ucap Sean sangat marah.
"Hiks hiks... huaaa... aku ingin makan nasi kuning 17 agustusan Oppa. Hiks... hiks aku jadi teringat saat berada di kampungku saat perayaan agustusan aku pasti kebagian tumpeng nasi kuning beserta benderanya hiks... hiks...," ucap Mauren menangis tersedu-sedu.
Dokter Juna tertawa mendengar semua itu, ia tidak menyangka jika Mauren mengidam yang aneh-aneh membuat Sean kebingungan dan selalu kelabakan.
Sedangkan Asisten Kim menahan tawa, sepertinya ia sangat beruntung karena tidak jadi menikahi gadis sedikit aneh itu.
"Baiklah... kau duduk manis dulu, chef handalku akan membuatkan nasi tumpeng spesial untukmu," ucap Sean yang akhirnya mengalah demi istri.
Sambil menunggu nasi kuning itu datang, Mauren masih terlihat berada di pangkuan Sean. Dia membenamkan wajahnya di dada Sean dan tangannya bergelayutan di leher Sean.
Mereka lalu mengobrol kesana-kemari dengan obrolan yang tidak penting membuat Mauren terlihat sering menguap dan mengantuk berat tetapi ia tahan supaya bisa makan nasi tumpeng yang diinginkannya.
40 menit kemudian.
"Cepat makan!" ucap Sean.
"Potongkan Oppa, aku ingin makan yang atasnya saja," pinta Mauren.
"Huh! Aneh-aneh saja kau! Tidak sekalian Juna dan Kim suruh lomba makan kerupuk?" jawab Sean sambil berdiri menuju tumpeng itu.
"Cepatlah Oppa bayinya lapar!"
Sean dengan cepat memotong tumpeng dengan hati-hati sedangkan Dokter Juna seperti menyorakinya.
"Potong tumpengnya Sean! Awas hati-hati jika jatuh, hahaha..."
Sean tidak menghiraukan ucapan Dokter Juna, ia fokus memotong tumpeng itu sampai ia tidak sengaja menjatuhkan potongan paling atas tumpeng itu membuat semua orang yang berada disitu terkejut dan termasuk Mauren.
Sean melongo dan menelan ludah sepertinya ia telah membangunkan rengekan putri ular.
"Buahahaha... apes sekali kau, Sean," ucap Dokter Juna.
Mauren sedih karena nasi tumpeng yang diinginkannya malah terjatuh, ia lalu berjalan lesu kearah kamarnya dan menjatuhkan dirinya di ranjang yang lebar itu. Sedangkan Sean menyuruh kedua temannya untuk keluar dari apartemennya karena sepertinya malam ini ada perang hebat.
"Malang sekali kau, Sean. Ya sudah kami pulang dulu," ucap Dokter Juna.
__ADS_1
Setelah memastikan kedua temannya pulang, Sean mendekati Mauren. Dia melihat gadis itu cemberut lalu ia berusaha untuk menghiburnya.
"Cepatlah makan sisanya sayang! Mau ku suapin?" ucap Sean dengan nada halus.
"Tidak mau. Aku sudah tidak berselera. Aku sekarang ingin ihik-ihik dengan Oppa"
"Apakah itu termasuk mengidammu?"
Mauren tersenyum dan menganggukan kepala, Sean dengan cepat melum*t bibir sang istri, lidah mereka bertengkar menentukan siapa yang lebih hebat dan jago dalam masalah berciuman.
Tangan Sean mulai nakal, ia meraba ke area sensitif milik sang istri membuat gadis itu bergelinjang hebat.
Setelah puas mencium bibir kini bibir Sean menjelajah seluruh tubuh Mauren dengan meninggalkan cupangan nikmat membuat Mauren mulai mendesah.
Gadis itu kini sudah mulai pandai, ia mulai memegang sang ular dibalik celana milik Sean. Ular itu telah menegang pertanda sudah siap masuk ke sarangnya.
"Ayo cepat masukkan, Oppa! Tapi pelan-pelan jangan sampai menyakiti bayi kita," pinta Mauren.
Sean tersenyum, ia segera menanggalkan seluruh pakaiannya dan membantu melepas pakaian sang istri.
Lalu dengan pelan, ia memasukan sang ular masuk kedalam sarangnya dan terjadilah pergulatan hebat malam itu.
Mauren memandang wajah Sean yang sedang melakukan aksi diatasnya. Sean tersenyum lalu melum*t bibir sang istri dengan mesra. Nafas mereka mulai terengah-engah menikmati alunan tubuh yang mulai berkeringat.
Sean lelaki yang perkasa membuat Mauren selalu puas dengan permainan sang suami. Desahan mereka mulai keluar dan setelah 20 menit bertengkar akhirnya Sean keluar juga.
Dia langsung memeluk Mauren dan mengecup keningnya, ia juga terlihat masih memainkan dada sang istri yang sudah basah.
"Apakah bayiku kesakitan?" tanya Sean khawatir.
"Tidak Oppa. Oppa memainkannya dengan pelan dan lembut"
"Hah... hah... hah... ya sudah pakai pakaianmu lagi. Setelah ini kau harus makan nasi kuningmu, sayang jika tidak di makan"
Dalam nafas yang masih terengah-engah, Sean mengenakan pakaiannya dan tidak lupa membantu sang istri mengenakan bajunya.
Setelah itu ia mencuci tangannya dan mulai menyuapi Mauren dengan nasi kuning tadi. Kini ia menjadi sosok suami yang ekstra peduli dengan Mauren, dia menyuapi dengan pelan dan sabar.
Mauren sangat beruntung memiliki seorang suami seperti Sean.
__________________
Minta dukungannya dong.. dengan LIKE KOMEN VOTE RATE5 pada karya ini.
harusnya saya hari ini tidak update tetapi saya usahakan update supaya tidak mengecewakan kalian.
sudah hampir 4 bulan author mengetik cerita dari novel pertama "ku cinta sonia" sampai novel kedua ini "mendadak menikah (Sean& Mauren) dan akhir2 ini tangan author kek mati rasa gitu jika buat ngetik. mengetik pun kini Harus nahan rasa sakit...
Semangat!!!!!!! Demi pembaca setia :)
__ADS_1
tangan udah lelah buat ngetik tapi otak masih pengen mikir buat melanjutkan setiap karya saya...
maka dari itu mohon dukungannya ya...