
"sayang ,kita mau kemana?" tanya Shasa kepada Vaiz .
"mencari sarapan? kau ingin makan apa?" tanya Vaiz .
"apa saja , aku tidak sedang dalam mode ngidam ."
"baiklah ." Vaiz menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, tangan kirinya menggenggam tangan kanan milik istrinya . Shasa kembali diam tak bertanya apa apa, ia hanya tetap fokus menatap kearah depan .
Sampai di area parkiran restaurant milik Vaiz , Shasa mengerutkan keningnya .
"kenapa disini?" tanya Shasa .
"kita makan, ayo ." ajak Vaiz yang sudah turun dan memutari mobilnya membuka pintu mobil penumpang .
"ahh aku tidak mau ," ucap Shasa sambil menggeleng .
"kenapa?"
"pasti ada orang orang yang ngrendahin aku lagi . Aku mau makan di warung pinggir jalan saja ." ucap Shasa .
"ada aku , jangan takut ."
__ADS_1
"tapi ..." ucapannya menggantung kala melihat sorot mata suaminya yang memohon .Shasa pun mengangguk turun dari mobil di bantu oleh Vaiz .
Vaiz selalu menggandeng tanga istrinya , semua karyawan di restaurant menunduk hormat pada Vaiz dan Shasa . Mereka sampai di ruang VIP , Dino yang sesari tadi sudah menunggu membukakan pintu untuk kedua majikannya .
"silahkan tuan dan nyonya ."
Langkah Shasa terhenti kala melihat wanita yang pernah menghinanya , Vaiz yang tahu istrinya sedang ketakutan mencoba meyakinkan .
"ada aku , dia akan takut padamu ." Shasa dan Vaiz kini duduk di hadapan Mia dan Gilang .
"selamat pagi ." sapa Gilang .
"pagi ." ucap Vaiz singkat . Mia masih menatap tajam Shasa sedangkan Shasa hanya menunduk . Ia tidak takut namun karna ia hamil ia lebih memilih mengalah .
"maafkan istriku , ia memang terlalu keras hingga menyakiti batinmu ." jelas Gilang pada Shasa .
"tidak apa , aku sudah memaafkannya ."
"kenapa bukan istrimu yang minta maaf , dan jika istrimu tidak meminta maaf dengan tulus aku tidak akan mengembalikan perusahaanmu Lang ." ucap Vaiz membuka suara .
"sayang , jangan seperti itu." bisik Shasa .
__ADS_1
"memang harus seperti itu .Jika tidak di beri tindakan ia akan semena mena . Harusnya dia tahu dengan siapa dia bermain main . Shasa istriku bahkan dia tahu . Tapi dengan mudahnya dia menghina di depan mataku ." terang Vaiz .
"sayang sudah ." cegah Shasa . Gilang dan Mia hanya menunduk .
"kalian tahu bukan siapa aku? bahkan jika keluargaku sendiri yang menyakiti istriku aku tidak akan segan segan menghukumnya . Dia pilihanku berarti dia adalah tanggung jawabku."
"maafkan aku Vaiz , aku mengaku jika tidak bisa mendidik istriku dengan benar ."
"entahlah aku harus bagaimana . Jika istrimu tidak bisa meminta maaf pada istriku maka cukup sampai pertemuan kita hari ini . Dan kau paham dengan itu ." Vaiz berdiri menggandeng tangan Shasa keluar dari ruanga tersebut .
"kenapa kau tidak meminta maaf saja sayang?" tanya Gilang dengan nada kesal .
"untuk apa? aku benci dengannya . Gara gara dia sahabatku di jauhkan dari sini ." omel Mia .
"dan kau rela perusahaanku di ambil oleh Vaiz . Lalu kita menjadi gembel?" Mia membulat tak percaya dengan penjelasan suaminya .
"apa maksudmu?" tanya Mia .
"tanpa kau jelaskan kau sudah paham ." Gilang berlalu pergi meninggalkan istrinya dengan kesal .
"sayang , jelaskan padaku apa maksudnya ?" Mia mengejar suaminya . Menyesal , satu kata yang kini tengah melanda hatinya . Andaikan sedari tadi meminta maaf mungkin Mia dan suaminya akan akur dan perusahaan akan tetap berada di jalur aman . Kini nasi telah menjadi bubur . Apa yang di ucapkan Vaiz tidak akan pernah bisa ditarik ulang . Mia mencekal tangan suaminya namun seketika dei hempaskan oleh Gilang . Saat ini ia sangat marah, gara gara istrinya yang ceroboh membuat dirinya yang kena imbasnya .
__ADS_1
Gilang menaiki mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan istrinya di restaurant tersebut . Bahkan Mia menangis sembari berteriak tak juga di hiraukan olehnya . Mia bersimpuh di area parkir dengan tangis yang berderai .