
Vaiz berdiri di area balkon kamar miliknya, menikmati hembusan angin malam menembus kulit milkknya . Pandangannya menerawang kedepan . Tiba tiba tangan milik Shasa melingkar pada pinggang Vaiz .
"sayang."Vaiz membuka suara. Shasa hanya mengangguk .
" kenapa?" tanya Vaiz .
"aku rindu." ucap Shasa lirih .
"ayo masuk ."
"tetap seperti ini ya ." diangguki Vaiz . Mereka berjalan menuju ranjang miliknya dengan Shasa menempel pada tubuh bagian belakang Vaiz . Mereka merebahkan tubuhnya dengan Vaiz memeluk tubuh istrinya .
"sayang, boleh aku bertanya ?"
"apa?"
"bagaimana ceritanya kau tidak marah padaku ,padahal jelas jelas aku pergi ke rumah Julie di Prancis ." Vaiz bertanya dengan pelan .
"apa kau ingin aku marah sayang ." Shasa mencebikkan bibirnya .
"ahhh, bukan begitu . Kau tahu tadi aku sangat takut jika kau sungguhan marahnya ."
"maafkan aku , Jika aku memberitahumu aku pasti gagal menghajar Julie . Aku tahu kalau aku marah pasti kau takut . Maka dari itu aku mengatur rencanaku sendiri ."
__ADS_1
"lalu bagaimana kau tahu jika itu rencananya?"
"waktu kau berangkat di Perancis, aku pergi ke mall karna aku jenuh di rumah . Disana aku bertabrakan dengannya lalu ia berkata banyak intinya ingin merebutmu dariku ." jelas Shasa .
"lalu ?" tanya Vaiz mulai paham .
"aku hanya diam , tapi aku berfikir kalau Julie hanya menggertakku . Dan saat kau menghubungiku kau bercerita bertemu Julie di restaurant aku baru paham kalau dia punya rencana ." Shasa menjeda ucapannya .
"Dan benar, kurir datang mengirim paket untukku sebuah foto dimana ada kau,Julie dan daddynya . Aku masih ingat daddy nya . Maka dari itu aku tahu kau tidak bersalah karna kau terlalu percaya dengan sahabatmu namun kepercayaanmu disalah gunakan oleh Julie dari situ aku paham . Lalu aku pura pura memarahimu dan aku tahu kalau Julie akan datang ke kantormu . Mungkin Ia fikir kita akan b
bertengkar .Dan sangat kebetulan dia datang di kantormu dan membuatku bisa menghajarnya ." ucap Shasa penuh percaya diri .
"apa kau tidak percaya dengan cintaku sayang?" ucap Vaiz .
"aku percaya dengan sangat . Jika kau tidak mencintaiku mana mungkin kau seperti ini kau mengalah untukku , tidak menuntutku . Aku percaya denganmu . Tapi aku hanya ingin menjaga rumah tangga kita agar tidak ada pelakor yang bersarang di sudut sudut rumah tangga kita ." ucap Shasa .
"ya aku tahu, maafkan aku ."
"aku tidak peduli dengan Julie,aku hanya peduli denganmu dan benih kita ini ." Vaiz mengelus perut rata Shasa .
"uppssss ." Shasa menutup mulutnya .
"ada apa? jangan bilang kau lupa ada benih disini saat kauenghajar Julie?" selidik Vaiz .
__ADS_1
"ahhh sayang,maafkan aku . Aku khilaf saat itu ." ucapnya lembut .
"kau ini, jika kau seperti ini aku tidak yakin kau siap menjadi seorang ibu ."
"bukan begitu , aku hanya khilaf . Maafkan aku , mmmm apa kau tidak ingin menengok anakmu?" rayu Shasa agar suaminya tidak marah .
"aku hanya sedang marah dengan ibunya ."
"ayolah sayang , jangan marah kau akan menjadi tua nanti jika terus marah ." bujuk Shasa .
"kau mengolokku Sa?" Vaiz melotot menatap Shasa .
"ha! tidak . Aku tidak mengolokmu aku hanya ingin kau menengok anakmu . Aku takut jika kau tidak menengoknya ia akan lupa dengan ayahnya ." jelas Shasa merayu suaminya .
"baiklah jika kau memaksa ," Vaiz menindih tubuh Shasa dengan hati hati .
"huh , aku hanya tidak ingin kau marah . Malah aku dikira memaksa ." gerutu Shasa .
"kau menggerutu? kau tidak ikhlas baiklah tidak usah saja ."
"usah sayang, aku tidka menggerutu . Aku hanya senang kau mau menengok bayimu ."
Tanpa berlama lama, Vaiz langsung meenciumi wajah istrinya dengan rata tanpa ada sisa . Mereka pun melakukan hubungan suami istri yang tidak perlu author jelaskan karna takutnya puasa para pembaca jadi batal :).
__ADS_1
**hapyy reading .
jangan lupa VOTE juga ya kak** ..!!