
Pagi ini Shasa di sibukkan dengan pekerjaan dapur . Ia ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya karna Vaiz akan berangkat pagi . Kesedihannya ia tutupi dengan senyum miliknya , Shasa selalu pandai menutupi beban pikirannya . Hingga orang disekitarnya tidak pernah tau apa yang ada di pikirannya .
"nyonya , biar saya yang lanjutkan ." ucap pelayan yang bekerja di tempatnya .
"aku hanya ingin menyiapkan makanan suamiku . Apa tidak boleh . Sebentar lagi juga selesai." tolak Shasa dengan halus .
"baiklah nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?"
"tidak ada , kau lakukan pekerjaan yang lain." Shasa memplating hidang yang di buatnya . Setelah selesai ia membersihkan peralatan yang di gunakan hingga selesai . Setelah itu hidangan yang di buatnya di letakkan di atas meja makan .
"sayang," panggil Shasa saat membuka pintu kamarnya.
"hey,sekretarismu sudah menunggumu di luar kau masih belum apa apa ."
"boleh aku memelukmu?" tanya Vaiz tiba tiba . Dengan sigap Shasa langsung memeluk suaminya . Shasa menahan air matanya agar tidak jatuh di pipinya.
'"sudah, sekarang ayo biar ku bantu memakaikan dasi dan jasmu ." Shasa mulai membantu memasang dasi milik suaminya . Tatapan Vaiz tak pernah berpaling, ia tetap menatap istri tercintanya seperti tatapan yang seolah enggan untuk meninggalkannya . Selesai memasang dasi dan jas Shasa mengandeng suaminya keluar kamar .
"taaadaaaaa,sarapan untukmu." Vaiz tersenyum saat hidangan yang ada di meja tersebut adalah makanan kesukaannya .
__ADS_1
"kau yang memasaknya sayang?"
"iya , rasakan pasti enak ." ucap Shasa . Vaiz pun langsung menikmati sarapan . Selesai sarapan dengan kenyang Shasa dan Vaiz berjalan keluar rumah .
"selamat pagi tuan dan Nyonya ." sapa Dino yang sedari tadi menunggui tuannya .
"pagi ." jawab Shasa, sedangkan Vaiz hanya mengangguk .
"kita berangkat sekarabg tuan?" tanya Dino .
"iya, kau tunggu di mobil. Aku akan berbicara pada istriku ." Dino menundukan kepalanya dan menuruti ucapan atasannya .
"aku tahu sayang, kau juga jaga kesehatan di sana . Jangan terlalu begadang." ucap Shasa diangguki suaminya .
"sayang , peluk aku ." pinta Vaiz dengan cepat Shasa langsung memeluk suaminya . Pelukan tersebut sangat lama .
"sudah berangkat sana ." ucap Shasa kepada suaminys .
"kau mengusirku?" tanya Vaiz dengan tatapan melotot.
__ADS_1
"iya jika kau terus memelukku kau bisa tidak berangkat ."
"kau ini . aku berangkat ." Shasa mengangguk .Vaiz mencium kening istrinya turun pada kedua kelopak mata lalu kedua pipi hidung dagu lalu ciuman terakhir ia labuhkan pada di bibir mungil istrinya .
"hati hati ." Vaiz mengangguk . Ia mulai masuk kedalam mobil . Kaca mobil ia buka . Saat mobil melaju tanganya melambai lambai tanda berpisah .
Setelah mobil menjauh dan keluar dari gerbang rumah , Shasa mulai membuang nafas kasar .
"sebenarnya aku tidak rela membiarkanmu pergi . Tapi aku tau ini adalah impianmu . Jadi mau tidak mau aku harus mengijinkanmu pergi." batin Shasa .
Ia pun memutar tubuhnya dan berjalan masuk dalam rumahnya . Ia lalu berjalan kedalam pantry untuk mengambil segelas air .
"nyonya tidak sarapan dulu?" tanya pelayan yang paling tua .
"nanti saja bu." ucap Shasa .
"jangan di tunda nyonya kasihan bayinya . Ayo segera sarapan ." jelasnya . Shasa hanya mengangguk menuruti ucapan pelayannya . Shasa pun duduk di kursi dan mulai mengambil makanan untuknya sarapan.
"kalau begitu saya pamit mau kepasar nyonya ." Shasa mengangguk . Ia melahap makanan tersebut dengan raut wajah yang tidak berselera. Sesekali air matanya menetes namun secepat kilat ia menghapusnya .
__ADS_1