
Pagi hari Shasa meregangkan ototnya dan mengumpulkan tenaganya. Saat menoleh senyumnya terpancar kala melihat pria yang hampir dua tahun ini bersamanya sedang memejamkan mata. Di setiap harinya ia bersyukur masih di beri kesehatan dan panjang umur hingga sampai detik ini ia masih berada di antara orang tersayangnya.
CUP.. CUP.. CUP..
"emmmmhhh." Vaiz bergumam saat merasakan sentuhan di pipinya.
"kau tidak bekerja sayang? ayo bangun nanti kau terlambat." Shasa bersiap bangun dari tempat tidurnya namun ditarik oleh sang suami hingga tubuhnya oleng diatas dada bidang milik suaminya.
"heyy, untuk saja kepalaku tidak menatap bagian tubuhmu. Kau ini memarik seenaknya." protes Shasa.
"nyonya besar, kenapa pagi ini aku harus mendapat protesanmu." ucap Vaiz dengan suara serak khas bangun tidur.
"lain kali jangan menarik seperti ini. Sudah lepaskan aku. Aku akan menyiapkan sarapanmu." jelas Shasa mencoba melepaskan pelukan dari sang suami, namun pelukan itu sangat erat.
"aku ingin memelukmu seperti ini mumpung tuan putriku masih nyenyak dengan tidurnya." jelas Vaiz tambah mengeratkan pelukannya.
"tidak, kau nanti akan telat bekerja. Ayo bangun."
"nyonya, hari ini aku ingin libur ke kantor."
"hey, kenapa begitu?" tanya Shasa .
"aku pagi ini akan mememui tuan Smith, setelah itu aku akan menghabiskan waktuku dengan kalian berdua."
"apa kau tidak ada jadwal meeting atau melakukan sesuatu yang penting di kantor?" tanya Shasa.
"tidak, aku hari ini tidak ada jadwal apapun."
__ADS_1
"baiklah,tapi meskipun tidak kekantor tapi kau tetap harus bangun dan mandi."
"10 menit lagi." tawar Vaiz.
"aku akan menyiapkan sarapan, jika aku kembali aku harap kau sudah rapi." jelas Shasa di anggukj Vaiz.
Shasa keluar kamar dan menggelengkan kepalanya. Sementara sang suami masih betah dengan alam mimpinya.
Sampai di dapur Shasa menghampiri ketiga pelayannya. Ketiga pelayan tersebut menunduk dan membungkukkan badan.
"sudah disaipkan bahannya?" tanya Shasa.
"sudah nyonya,." menunjukkan bahan yang sudah di potong dan di kupas.
"oke baiklah kalian boleh mengerjakan yang lain." ketiga pelayan menunduk dan undur diri.
Perlahan lamgkah kaki pelan berjalan menuju wanita yang di tatapnya sedari tadi, namun wanita tersebut tidak menyadari dan tetap fokus pada masakan yang sedang di masaknya. Dannn..
"astagfirrullah." Shasa menjingkat kala merasa ada yang memeluknya dari belakang.
"kaget?" tanya Vaiz lirih.
"jelas kaget, untung aku tidak refleks memyiramkan sayur panas ini padamu. Jangan ulangi untuk mengagetkanku lagi disaat depanku ada benda berbahaya panasnya panci ini bisa terkena kulitku dan menyebabkan melepuh." omel Shasa.
"iya iya maaf ya sayang, bukan maksudku mencelakaimu." jelas Vaiz.
"kali ini aku maafkan, lain kali kamu akan tahu akibatnya." ancam Shasa malah membuat sang suami tertawa.
__ADS_1
"masak apa?" tanya Vaiz yang masih enggan untuk melepas pelukannya.
"daging lada hitam, tumis pokcoy,sama sambal."
"sayang, aku lama lama bisa gendut jika setiap hari makan nasi." keluh Vaiz.
"syukuri apa yang ada, masih banyak di luaran sana ingin makan nasi. Sementara kamu malah ngeluh. Sudah lepaskan pelukannya aku mau nyiapin untuk sarapan kita."
"ya aku tahu, tapi aku harus menjaga pola makanku agar tetap sehat,bugar,awet muda dan di tambah lagi biar kuat saat kita bergulat mesra." bisik Vaiz membuat mata Shasa melotot.
"kau ini selalu berbicara mesum. Sudah sana kau pasti belum mandi." usir Shasa membuat Vaiz merengut.
"iya aku memang belum mandi dam gosok gigi." Viaz memutar tubuh istrinya dan memeluknya. Setelah itu Vaiz menggoda istrinya dengan memciumi seluruh tubuh istrinya.
CUP
"kamu sudah mandi kan, sini aku cium biar wajahmu bau ilerku"
CUP.. CUP..
"aaa,, ampun sayang jangan cium aku, kamu masih bau ." teriak Shasa menggelengkam kepalanya sambil tertawa terbahak.
"biarin, sini aku cium kamu kan aku belum gosok gigi, nih. CUP CUP ..."
"hahahha, ampun sayang ampun, jorok sayang lepaskan." teriak Shasa sambil tertawa.
Melihat istrisnya sudah lemas Vaiz melepaskan pelukannya dan berlari menaiki tangga.
__ADS_1
"sayaaaanggg, awas ya kamu." teriak Shasa sambil mengatur nafasnya. Sementara Vaiz memberikan ciuman jarak jauh sambil tertawa membuat Shasa menggelengkan kepalanya.