
Usia kehamilan Shasa sudah menginjak 1 bulan ,. Rumah tangga mereka juga lebih tentram . Pagi ini , Shasa mengajak suaminya untuk membeli sarapan bubur di gerobak ujung jalan dekat kompek , Vaiz yang mulai terbiasa dengan makanan pinggiran langsung menyetujui dari pada ia harus berargument dengan istrinya .
"ambil jaketmu . Kau tidak perlu berdandan." omel Vaiz .
"sayang, semakin kesini kenapa kau yang semakin cerewet?" protes Shasa .
"jika kau tidak mau lebih baik biar pelayan yang membuatkan ."
"ya ya aku ini masih jalan sayang ." gerutu Shasa berjalan mengambil jaket miliknya .
Vaiz dan Shasa turun kebawah menuju mobil milik Vaiz yang sudah terparkir rapi di halaman rumah .
"kenapa tidak pakai motor saja sayang?" usul Shasa .
"pakai mobil lebih aman ," Vaiz membuka pintu untuk istrinya lalu berjalan sisi mobil lainnya .
"baiklah ." ucap Shasa malas .
Mobil pun melesat keluar gerbang .
"semoga tidak kehabisan . Jika kehabisan kamu yang salah ." gerutu Shasa .
__ADS_1
"jika kehabisan kita bisa membeli bubur di tempat lain , kau tidak perlu mengomel sayang ." protes Vaiz .
"tidak mau,aku hanya mau bubur di ujung jalan ."
"baiklah kita lihat masih atau tidak ." ucap Vaiz menengahi .
Sampai di depan penjual tersebut, Vaiz turun tanpa Shasa . Tak terlalu lama Vaiz berjalan kearah istrinya dengan 2 mangkuk bubur .
"kenapa tidak duduk disana?" tanya Shasa .
"aku tidak rela jika tubuhmu beesentuhan dengan orang lain ." ucap Vaiz enteng .
Vaiz menyodorkan bubur pesanan Shasa , Ia juga melahap bubur tersebut .Shasa melotot melihat suaminya telah menghabiskan bubur tersebut dengan cepat .
"aku sudah terbiasa makan jadi percernaanku sudah mau menerima ."Vaiz meraih botol minum yang selalu sedia di dalam mobilnya .
Setelah menikah Shasa selalu mengisi air di dalam botol besar dan meletakkan di dalam mobil . Ia selalu mewanti wanti suaminya agar selalu mengkonsumsi air putih setiap hari . Jika ia melupakan botol tersebut sudah di pastikan jika istrinya akan mengomelinya setiap jam . Selesai dengan acar makan buburnya,Vaiz keluar mobil untuk membayar dan mengembalikan mangkuk kepada penjual . Ia langsung kembali kedalam mobil .
" mumpung masih diluar, kau ingin kemana?" tanya Vaiz .
"kita belanja ya yank, aku bosen jika dirumah terus."
__ADS_1
"baiklah,sun dulu ." Vaiz menyodorkan pipinya didepan Shasa .
Muach muaach muach ..
3 kali kecupan mendarat pada pipi milik Vaiz ,yang di cium langsung melebarkan senyumnya . Ia langsung tancap gas saat sudah mendapat sebuah semangat untuk menyetir . Sampai di tempat , Shasa melingkarkan tangannya pada lengan Vaiz . Vaiz menggeret tangan Shasa menuju lift .
"sayang kau ini apa apaan ? kita harusnya tidak naik ke lift ." protes Shasa .
"aku tidak ingin kau kelelahan ."
"aku tidak kelelahan , harusnya kau khawatir saat kau menyerangku setiap malam ." gerutu Shasa membuat Vaiz tergelak .
Vaiz dan Shasa sudah berada di tengah tangah mall lantai atas Shasa mengajak Vaiz brand ternama . Shasa menatap tas tas mewah yang berada di tempat tersebut . Setelah puas menatap Shasa mengajak Vaiz keluar .
"kau tidak membelinya sayang?" tanya Vaiz .
"tidak itu cukup mahal, melihatnya saja aku sudah senang ." Vaiz menatap nanar istrinya . Hanya untuk sebuah tas , Shasa tidak membeli dan cukup memandang . Bahkan Jika Shasa ingin tas seharga berapa ratus juta saja ia pasti sanggup membelikan , namun istrinya selama ini tidak pernah meminta barang mewah darinya .
"apa kau meragukan suamimu ? bahkan jika kau ingin tas dengan harga berapa pun akan aku belikan sayang ." jelas Vaiz .
"sayang jika hanya untuk tas dengan harga segitu au harus pikir 2 kali, lebih baik jika kita tabung . Kita tidak tahu garis hidup kedepannya bagaiaman jika perusahaanmu bangkrut setidaknya kita masih punya tabungan bukan ." jelas Shasa menggandeng suaminya .
__ADS_1
"aku tahu, tapi jika kau ingin apapun bicara padaku . Aku akan mengabulkannya ." jelas Vaiz diacungi jempol oleh Shasa .
Setelah satu jam mengitari mall . Mereka pun kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun yang di belinya yang membuat Vaiz terlihat jengkel . Namun tidak berani untuk protes