
flashback on.
"nasib apa yang ku alami Tuhan, di pisahkan dari putriku sendiri karena alasan aku sedang lemah. Padahal aku yang punya badan saja merasakan tubuhku sudah membaik. Jika aku dilarang pulang karena luka di kepala dan lenganku lebih baik aku menyewa kamar ini untuk ku jadikan tempat kost ku saja." ucap shasa sambil menangis.
"sayang kau ini bicara apa? aku ingin kau benar benar pulih baru kita akan pulang." Vaiz mencoba menenangkan istrinya.
"sudah aku tidak ingin berbicara padamu. Untuk apa punya suami kalau tidak ingin memperjuangkan istrinya. Membiarkan istrinya tersiksa menahan rindu pada putrinya." gerutu Shasa.
"sayang, jangan bicara seperti itu tidak baik." Vaiz mendekati istrinya dan akan memeluknya naman di tahan oleh istrinya.
"sudah jangan dekat dekat, jangan memelukku sebelum aku bisa memeluk putriku." sambil menangis histeris.
"sayang, jangan menangis."
"huaaaa." Shasa menangis lebih keras membuat Vaiz tak tahan lagi.
"huaaa, Ya Allah buka pintu hati suamiku agar ia tahu isi hati istri tercintanya jika sudah tak sanggup menahan rindu pada putrinya." ucap Shasa menengadahkan tangannya berdoa sambil memejamkan mata.
"sayang, sssttt oke oke besok kita pulang."
"janji?" tanya Shasa membuka matanya.
"janji,besok kita pulang."
"jika tidak di perbolehkan oleh dokter?"
"akan ku pecat dari rumah sakit ini." ucap Vaiz menghapus air mata yang masih basah di pipi istrinya.
"oke, baiklah. Terima kasih suami tercintaku, aku mencintaimu, cupp." Vaiz hanya menatap istrinya dengan bingung.
__ADS_1
"capek ternyata nangis kaya gini." Shasa mengusap kedua matanya.
"ooo jadi kamu ngerjain aku, gitu?" Vaiz yang baru sadar jika di kerjai oleh istrinya langsung menatap tajam istrinya.
"hehehehe enggak ngerjain sayang."
"lalu?"
"lalu kita harus tidur karena besok kita akan pulang." Shasa menarik selimut dan bersiap tidur.
"silahkan, besok kita tidak jadi pulang."
"issshhhh sayang." rengek Shasa.
"kenapa?"
"no."
"please?" rengek Shasa.
"gak jadi." ucap Vaiz ketus.
" ya sudah kalau gak jadi, gak papa toh lama lama bakal ngajak pulang kalau udah gak nahan pinginnya." bisik Shasa dengan suara sexy nya membuat sang suami merinding kaku.
"kan sudah libur satu bulan, udah puasa lama bukan. Kalau disini sih pasti gak bisa mau buka. Beda kalau di kamar sendiri bukan begitu sayang?" lirih Shasa .
"please ." ucap Vaiz singkat dengan menahan hasratnya.
Shasa mendekati wajah suaminya, di sentuh dada bidang suaminya dan di ciuminya pipi turun ke leher membuat nafas Vaiz tak beraturan sambil memejamkan mata. Setelah itu Shasa tersenyum dan kembali tarik selimut tidur miring memunggungi suaminya sambil menahan tawa nya.
__ADS_1
"yang." panggil Vaiz dengan suara lemahnya.
"ngantuk yank,o iya besok ambil selimut sama kasur jangan lupa baju kita y." pinta Shasa.
"untuk apa?" tanya Vaiz menatap punggung istrinya.
"kan kita gak akan pulang pindah kesini aja, kita sewa buat tempat kos kita." ucap Shasa sambil menahan tawanya.
"tidak,besok aku akan bicara sama dokter untuk mengijinkan kamu pulang,lama lama bisa tidak betah aku kamu giniin." keluh Vaiz .
"kok aku yang disalahin?" Shasa memutar tubuhnya menghadap kesuaminya.
"lupa, bilang puasa sama buka gitu? bikin aku merinding . Tuh liat jadi gak bisa nahan." protes Vaiz membuat Shasa tertawa terbahak.
"aduh aduh sayang, ya deh maaf. Makanya kita cepet pulang biar bisa kangen kangenan."
"mulai." gerutu Vaiz .
Shasa tak henti hentinya tertawa melihat ekspresi kesal suaminya. Ia suka sekali jika menggoda suaminya hingga sang suami selalu menggerutu.
"sudah,sini tidur disampingku. Aku ingin kamu peluk." Shasa menepuk ranjang rumah sakit . Vaiz berdiri mulai merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Ia miring menghadap istrinya sesekali mencium pipi istrinya.
"aku sangat mencintaimu." ucap Vaiz.
"aku lebih sangat mencintaimu,suamiku." balas Shasa.
Mereka pun tidur sambil berpelukan menyalurkan rasa nyaman satu sama lain hingga keduanya sama sama di alam bawah sadarnya masing masing.
flashback off.
__ADS_1