
"nyonya mau bicara tentang apa?"
"bu, aku memikirkan sesuatu ."
"apa yang nyonya pikirkan ?" tanya bu Nin yang sedang duduk menemani istri majikannya .
"2 minggu ini aku belum mendapatkan haid ku . Dan sebentar lagi aku berganti bulan . Kenapa ya Bu? biasanya haid ku tepat waktu meskipun tidak pada tanggalnya setidaknya mundur 2 harian ."
"Nyonya sudah tes?" tanya Bu Nin
"maksudnya?"
"coba nyonya pergi keapotek untuk membeli tes kehamilan . Jika nyonya memang ragu atau nyonya bisa pergi ke dokter kandungan ."
"ahhh, apa Bu Nin berfikir sama denganku? akhir akhir ini aku sering marah tak jelas kadang aku sebal sendiri bu . Aku takut jika hasilnya mengecewakan ."
"bismillah nyonya, jika tuan dan nyonya sudah di percayakan oleh Tuhan untuk mendapat momongan pasti Tuhan memberikan janin di dalam sini ." menyentuh dan mengusap perut datar Shasa .
"ahhhh, aku takut bu , sebenarnya suamiku sudah menginginkan bayi tapi aku tidak berani berjanji ." ucap Shasa .
"jangan takut, memang sudah waktunya tuan Vaiz menjadi seorang ayah , beliau sudah kepala tiga di tampah lagi beliau juga sudah memiliki istri." jelas Bu Nin .
__ADS_1
"aku juga berfikir seperti itu . Tapi aku takut apa aku sudah pantas menjadi seorang ibu? anda tahukan bahkan aku suka marah marah . Aku dengar mood ibu hamil itu berubah ubah ." keluh Shasa .
"memang tapi tidak semua ibu hamil itu marah marah . Nyonya yakinlah pada diri sendiri ." tutur pelayan tersebut .
"atau saya meminta Hilma untuk membelikan?" lanjut Bu Nin .
"aku takut jika hasilnya negatif , aku takut jika suamiku kecewa."
"jangan takut , jika nyonya takut jangan beritahu tuan dulu. Jadi mang positif nyonya bisa memberikan kajutan untuk tuan , bagaimana ide saya?" senyum Shasa kembali merekah . Tanpa aba ab ia memeluk Bu Nin hatinya merasa plong setelah bercerita pada pelayannya .
"baiklah , aku akan meminta Hilma untuk membelikan tespeck ya nyonya ." Shasa mengangguk . Saat pembicaraan selesai Vaiz berjalan keluar rumah .
"sayang aku mencarimu ." ucap Vaiz menghampiri Shasa . Sedangkan Bu Nin pergi menemui Hilma .
" iya,.ini ponsel kesayanganmu . kau pasti sudah rindu melihat aktor kesayanganmu bukan?" Shasa tersenyum melihat ponsel miliknya kembali padanya .
"kau menebusnya sayang? terimakasih ." memeluk lalu berjinjit mencium bibir Vaiz
"kau sudah memaafkanku?" tanya Vaiz
"ahhhj tidak,meskipun kau berbaik hati padaku aku masih belum ingin damai padamu . Jadi lupakan pelukan dan ciumanku tadi ." Shasa memalingkan wajahnya sebenarnya ia tak tega mendiamkan suaminya tapi ini pelajaran untuk Vaiz .
__ADS_1
Vaiz berlalu dengan raut wajah kesal,masam ,dan lain sebagainya . Bahkan saat pergi kekantor ia harus melihat wajah masam istrinya . Dengan berat hati ia meninggalkan kediamannya untuk pergi kekantor .
Sementara di dapur Bu Nin menemui Hilma .
"Hil, tolong ke apotek ya beli tes kehamilan ." ucap Bu Nin menyodorkan uangkan pada Hilma .
"siapa yang hamil bu?" tanya Cristin
"nyonya harusnya 2 minggu lalu sudah mendapatkan haidnya, namun sampai sekarang ia tak mendapatkan haidnya ."
"oooo, semoga nyonya hamil ya bu biar tuan dan nyonya bisa akur lagi ." lanjut Hilma .
"amin Hil, semoga saja ." ucap Bu Nin .
Shasa kembali kedapur menemui pelayannya .
"mbak bisa buatin aku sayur asem nggak mbak, kok aku kepingin makan sayur asem ya ."
"oh iya nyonya." ucap pelayan Cristin .
"baik nanti kalau udah mateng ,mbak panggil aku aja ya . Aku mau ke kamar rebahan dulu ." Shasa berjalan menaiki tangga menuju kamarnya .
__ADS_1
"kayaknya iya hamil deh bu ." bisik Cristin dengan Bu Nin .
"semoga aja, ya udah Hilma cepat kamu pergi belikan dulu."Hilma mengangguk lalu pergi membeli tes kehamilan tersebut .