
"sayang , aku ingin bertanya padamu ." ucap Shasa naik ke atas ranjang .
"hmmm ada apa?" tanya Vaiz dengan menutup wajahnya dengan lengan .
"kata ibuku jika ada orang yang bertanya kita harus menghargai dengan menatap orang yang bertanya dan menyimaknya ." sindir Shasa .
"baiklah sayang, suamimu ini sudah duduk dan kau ingin bertanya apa?" menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang .
"kenapa bisa kamu meletakkan baju baju untukku disitu ? apa kamu membayar kamar hotel itu setiap hari? bukankah pemborosan?" cecar Shasa .
"kenapa begitu?"
"iyalah, kau meletakkan baju baju itu disini otomatis kau harus menyewa kamar seluas ini . Mana mungkin ada barang kita tapi kamar ini di sewa orang lain tidak mungkin bukan ?" tanya Shasa penuh selidik .
"sayang kau tahu seberapa kaya suamimu?" Shasa mengangguk .
"jadi kenapa kau protes jika aku memakai kamar ini?" tanya Vaiz .
"huh, bagaimana tidak protes kau ini hanya punya 1 perusahaan tidak seperti di novel novel yang punyai suami memeliki banyak perusahaan dimana mana ." gerutu Shasa .
"hey, kau meragukan suamimu ini?/kau lupa suamimu punya anak cabang di Negara lain?"
"ahhh ya , di Prancis itu pun masih baru berjalan dan kau membutuhkan dana untuk anak cabangmu . Dan kau sudah sok kaya . Jika kau bangkrut perusahaanmu akan tutup dan rumahmu akan disita . Maka jangan boros mulai dari sekarang ." omel Shasa . Vaiz terbengong mendengar penuturan Shasa, istrinya memang benar benar tidak mengenalinya . Jika yang lain hanya penjilat saat bertemu dengannya tapi istrinya bahkan tidak mengenal nama belakangnya .
"sayang kau tahu Pervaiz Taban,?"
__ADS_1
"tahu,itu kau?" tunjuk Shasa pada dada Vaiz .
"kau tidak mengenal keluarga Taban?"
"tidak, kau tidak pernah mengenalkannya padaku ." Vaiz menggaruk tengkuk miliknya yang tidak gatal .
"kau punya ponsel buka?" Shasa mengangguk .
"gunakan ponselmu untuk searching."
Shasa membuka layar ponselnya , dan membuka layanan gogel. 10 menit membaca artikel, membuat mata miliknya melotot dan bibirnya sulit mengatup . Ia meletakkan ponselnya dan menatap suaminya .
"kenapa kau pasang wajah seperti itu? kau sudah tau?" tanya Vaiz menggeleng .
"aku tidak menyangka jika suamiku ini kaya sekali . Mimpi apa aku Tuhan,dinikahi pria kaya . Tau begitu aku akan memoroti uangmu sayang ." ucap Shasa terkejut . Kala mendengar ucapan istrinya gela tawa Vaiz menggema di dalam kamar tersebut .
"ahhhh,jadi hotel ini milikmu?" Vaiz mengangguk .
"ohh shittt ., lalu apa tujuanmu punya anak?"ucapan Shasa membuat Vaiz tercengang .
" untuk penerusku . Kenapa kau bilang begitu sayang?"
"aku hanya takut kau menikah denganku hanya mencari keturunan untuk tumbalmu ." gerutu Shasa yang membuat Vaiz tersentak .
"apa kau kira aku kaya karna pesugihan?"
__ADS_1
pletak. menyentil kening Shasa .
"maaf, tapi aku takut jika anakku kau jadikan tumbal ." gumam Shasa yang masih mampu di dengar suaminya .
"ini semua karna ayahku, aku hanya pewaris yang meneruskan perusahaan ayahku sampai sukses sekarang. Jangan berfikir aneh aneh . Jika memang aku pencari tumbal kau orang pertama yang akan aku tumbalkan ." ucap Vaiz asal .
"saaayaaaang jangan menakut nakutiku ." teriak Shasa membuat gelak tawa Vaiz .
"jangan tertawa suaramu jelek ." protes Shasa .
"makanya kau ini jangan berfikir macam macam ."
"baiklah, aku percaya padamu ." ucap Shasa menghentikan pembicaraan .
Vaiz tetap tertawa air matanya sampai berair karna tak henti hentinya tertawa .
tok tok tok
Vaiz membuka pintu , 2 orang weiters mengantar makanan untuk di kamar Vaiz .
"letakkan di meja, setelah itu pergilah ." waiters pun mengikuti permintaan Vaiz . Setelah kepergian para waiters ,Vaiz meminta Shasa untuk makan .
"huh,aku ingin cilok sayang ." ucap Shasa .
"makan dulu nanti kita beli ." ucap Vaiz menyiapkan makanan untuk istrinya .
__ADS_1
"janji ya?" Vaiz mengangguk .
Mereka pun makan bersama dengan lahap . Sesekali Vaiz menyuapi Shasa dengan sayang .