Mengejar Cinta Wanita Biasa

Mengejar Cinta Wanita Biasa
Bab 129


__ADS_3

Malam hari, nona kecil yang baru saja di boyong dari rumah sakit terjaga . Ia akan merengek saat kehausan dan dengan begitu Shasa akan selalu terbangun di 1 jam atau 2 jam sekali . Sesekali ia melirik suaminya yang tertidur pulas . Senyumnya tersungging kala wajah yang tampan tersebut terlihat letih .


"sayang, jika ingin membangunkan ibu jangan menangis keras kasihan ayahmu yang terlalu letih menunggu di rumah sakit . Biarkan istirahat sejenak ." ucap Shasa pada putrinya yang masih merah . Bayi tersebut menggeliat lalu perlahan memejamkan mata kembali . Shasa perlahan menarik pay***ranya dan ikut memejamkan mata karna masih tengah malam . Beberapa menit kemudian bayinya kembali terbangun , putri kecil tersebut menangis membuat Vaiz malah terbangun .


"hey , putri ayah bangun?" Vaiz menggendong putrinya . Ia menina bobokan putrinya sambil menatap wajah merah putrinya .


"sayangnya ayah ini sangat menggemaskan. Kau cantik sekali nak ." ucap Vaiz lirih memuji putrinya .


Shasa terbangun dan memandang suaminya yang telaten menina bobokan putrinya .


"dia terbangun sayang? dan mengganggu tidurmu?" tanya Shasa pada suaminya .


"iya sayang, tapi dia tidak mengganggu tidurku ." ucap Vaiz .


"sepertinya dia nyaman dalam dekapanmu ." puji Shasa .


"tentu, karna seorang anak harus dekat dengan ayah dan ibunya ."


"iya ,apa kau setuju jika aku membahasakan anak dengan menyebut kita ayah dan ibu? apa kau tidak keberatan?" tanya Shasa sambil menggaruk tengkuknya .

__ADS_1


"aku lebih menyukai panggilan itu , lebih sedeharana ."


"iya menurutku juga begitu ." ucap Shasa sambil tersenyum .


"dia sangat menggemaskan , aku tidak sabar ingin memamerkan anakku pada semua orang ." ucap Vaiz .


"maaf aku belum bisa memberikan anak laki laki untukmu ." ucap Shasa lirik dan menunduk .


"apa bedanya ,laki laki dan perempuan itu sama sayang . Apa aku pernah meminta anak laki laki darimu? tidak bukan . Yang penting dia lahir sehat,selamat tampa kurang satu pun . Memilik putri adalah suatu tantangan lebih berat bagiku .Apalagi saat ia tumbuah dewasa ."


"kenapa begitu?" Shasa mendongak kearah suaminya. Vaiz yang semula berdiri kini berjalan dan duduk di samping istrinya .


"karna ada banyak hal yang harus kita jaga dan tanamakan hal hal baik darinya . Apalagi tentang pergaulan yang tidak benar dan dijaman sekarang **** bebas merajalela. Itu yang menjadi tantangan terberat bagi orang tua." jelas Vaiz yang di pahami Shasa .


"sekarang kau paham bukan? jadi jangan pernah merasa bersalah jika kau belum bisa memberiku anak laki laki . Masih ada lain waktu untuk memproduksinya lagi ." bisik Vaiz yang membuat Shasa melotot .


"ha, anakmu masih merah dan aku baru kekuar dari rumah sakit kau sudah berbicara tentang produksi anak ? memangnya istrimu ini mesin pembuat anak dengan mudah kau bicara begitu?" sunhut Shasa yang membuat Vaiz terbahak . Karna bayinya masih dalam pangkuan dan mendengar ayahnya terbahak bayi tersebut terlonjak kaget dalam tidurnya .


"jaga tertawamu sayang ,anakmu terkejut mendengar tawamu ." protes Shasa seketika .

__ADS_1


"maafkan aku sayang aku lupa ." ucap Vaiz memohon .


"iya , sekarang tidurkan putrimu itu . Lalu mari kita kembali tidur besok kau bekerja jangan sampai telat ."Vaiz berdiri sambil menepuk lirik bayinya .


" aku bosnya jadi tidak akan ada yang memarahiku ." bela Vaiz pada dirinya sendiri .


"iya aku tahu setidaknya beri contoh yang baik pada karyawanmu ." ucap Shasa lirih . Setelah menidurkan anaknya , Vaiz juga ikut berbaring di samping putrinya . Karna bayi tersebut berada di tengah .


"sayang ." panggil Vaiz .


"hmmm ." gumam Shasa .


"terima kasih ." ucap Vaiz .


"untuk?" tanya Shasa .


"hadirnya putri kecil kita." ucap Vaiz .


"tidak perlu berterimakasih ." Vaiz dan Shasa saling memandang dan tersenyum .

__ADS_1


"baiklah ayo kita tidur ." Vaiz mengangguk .


Mereka bertiga pun kembali memejamkan mata untuk menyambut hari esok .


__ADS_2