
Saat ini di tempat Shass mengadakan acara 7 bulanan. Seperti saat hamil Ayu, Shasa memilih acara untuk mengundang anak panti dan keluarga tidak mampu. Seteleah prosesi 7 bulanan, Saat ini ada doa bersama dengan anak panti. Di rumah dan halaman Shasa di penuhi orang orang . Shasa juga memberi contoh kepada putrinya jika berbagi itu harus, apalagi dia sangat mampu.
"sayang, nanti kalau kakaknya pulang kamu bagikan ini ya?" ujar Shasa memberikan tumpukan amplop berisi uang.
"iya ibu." ucap Ayu pada sang ibu.
"bu Nin, mbak Cristin bingkisannya jangan lupa. Sembako untuk yang dewasa." ujar Shasa mengingatkan.
"sudah nyonya." Shasa mengangguk.
Selesai berdoa dan makan, semua anak panti keluar dengan berbaris rapi untuk mendapatkan bingkisan. Ayu nampak tersenyum kala membagikan amplop tersebut, dengan di dampingi Vaiz.
"terimakasih." ucap salah satu anak panti.
"sama sama." ujar Ayu.
Butuh waktu lama untuk membagikan bingkisan tersebut, namun Ayu tidak mengeluh capek. Gadis itu masih terlihat senang dan bahagia .
"sayang capek?" tanya Shasa mengingat putrinya sudah berdiri cukup lama.
"tidak ibu. I'm happy." ujarnya dengan girang.
"anak ayah itu pintar dan kuat ibu." ujar Vaiz di balas dengan senyuman oleh Shasa.
Mereka kembali fokus bersalaman dan berbagi lagi. Selesai berbagi, Ayu istirahat di kamar di temani oleh mbak Cristin sementara bu Nin, mbak Hilma membereskan barang barang sisa acara di bantu oleh office boy/girl yang di perintah oleh Vaiz .
"No, kau sudah makan?"
"sudah tuan. Maaf saat ini saya akan kembali ke kantor. Karena kita akan mengadakan pertemuan dengan PI company tuan." ujar Nino.
"baiklah, aku tidak bisa ikut jadi kau bisa handle semuanya kan?"
"iya tuan, saya kan handle semuanya." ujar Nino.
"iya aku selalu percaya padamu." ucap Vaiz.
" baiklah saya permisi dulu tuan."
"ya hati hati." Vaiz menepuk pundak Nino pelan. Nino mengangguk undur diri.
"sayang." panggil Shasa . Vaiz menoleh lalu mengerutkan dahinya.
"baju siapa?" tanya Vaiz saat melihat istrinya mengenakan baju yang belum pernah ia lihat.
"aku kemarin membelinya. Apa ini terlihat cantik untukku?" tanya Shasa.
"sayang, kau terlihat masih remaja." tutur Vaiz dengan nada protes.
"mana ada remaja hamil besar begini?" ujar Shasa.
__ADS_1
"sayang." ujar Levi.
"iya iya, aku tidak akan mengenakannya." Shasa memilih mengalah.
"kau marah?"
"tidak, apapun yang tidak kau sukai dan setujui tidak akan aku lakukan." jelas Naya.
"sayang."
"kita ke kamar, aku tidak sabar melihat hadiah darimu." pinta Shasa dengan lembut. Vaiz tersenyum lembut mendengar pinta istri tercintanya.
Vaiz merengkuh pinggang istrinya dengan posesif. Mereka berjalan menaiki tangga dengan pelan pelan. Sesekali ia mengusap perut istrinya dengan lembut.
"aku sangat mencintai kalian." ucap Vaiz lirih.
"aku sangat tau, dan kami juga mencintaimu." balas Shasa.
Sampai di depan kamar, Vaiz membuka pintu lalu menggiring Shasa menuju tumpukan hadiah dari suami, putri, orang tua, dan teman temannya.
"mungkin nanti kita buka yang lain. Tapi kali ini aku ingin membuka hadiah darimu." ujar Shasa dengan semangat 45.
"bukalah." ujar Vaiz menyodorkan. Shasa langsung meraih kado tersebut dan langsung semangat membukannya.
"ini sangat besar sayang." ucap Shasa antusias. Ia membuka bungkus kado, lalu membuka tutup kotak tersebut. Di dalam kotak, Shasa melihat kotak bludru berwarna biru. Ia menatap sang suami dengan tanda tanya.
Kotak bludru tersebut, ia ambil dan ia buka. 1 set perhiasan cantik yang membuat Shasa terkesima.
"sangat suka, sayang terima kasih." ucap Shasa langsung memeluk Vaiz.
"sama sama, apapun demi kamu. Agar bibirmu selalu tersenyum. Selagi aku masih mampu dan bisa membahagiakanmu akan kulakukan setiap saat." ujar Vaiz membalas pelukan istrinya.
"kamu dan anak anak kita adalah hidupku. Aku mencintaimu , sangat sangat mencintaimu." ucap Shasa dengan cairan bening yang siap menetes.
Vaiz menangkup kedua pipi Shasa, ia menghapus air mata istrinya yang menetes perlahan.
"kau menangis?" ucap Vaiz dengan tersenyum.
"tangis bahagia." jelas Shasa ikut tersenyum.
"sayang, terus bersamaku. Temani aku hingga aku tua." pinta Shasa pada suaminya.
"tanpa kau minta aku akan selalu di sisimu. Raga dan nyawaku akan selalu menjadi milikmu, cintaku." ucap Vaiz lalu mencium bibir istrinya sekilas.
"ayah, ibu." teriak Ayu di ambang pintu. Di bepakang ada ibu dan bapak Shasa.
"sayang, sini nak. Pak Bu masuk." ucap Shasa.
Ayu nampak terlihat kesal dengan muka bantalnya. Ia duduk di antara ayah dan ibunya.
__ADS_1
"nak, bapak sama ibu mau pamit pulang. Adikmu gak mau nginep soalnya besok sekolah." ucap bu Nur.
"lahh, kenapa enggak nginep. Sekolah kan bisa langsung berangkat dari sini bu." jelas Shasa.
"kan adekmu gak bawa seragam nak, lagian masih satu kota bukan. Ibu dan bapak akan sering sering main kesini." jelas Pak Yono.
"baiklah." ucap Shasa.
"kalau begitu kami pamit."ucap Pak Yono menyalami putri, menantu dan cucunya. Begitu juga bu Nur
"saya antar pak." tawar Vaiz.
"tidak perlu, cucuku terlihat kesal. Lebih baik kalian bujuk dia." tolak pak Yono.
"baiklah, bapak dan ibu hati hati." ucap Vaiz.
"itu pasti."
Pak Yono dan Bu Nur keluar kamar dan turun dari lantai atas menuju lantai dasar.
"putri ibu kenapa sedih?" tanya Shasa.
"ayah dan ibu kenapa wajahnya saling dekat, pasti mau cium ayah kan?" todong Ayu pada Ibunya.
"ohhh astagfirullah, tidak sayang. Ayah hanya bantu ibu meniup mata nya karena kelilipan." jelas Vaiz membela istrinya.
"apa itu benar ibu?" tanya Ayu pada Shasa . Nampak terlihat tidak percaya.
"iya sayang. Oo iya kamu sudah makan?" tanya Shasa mengalihkan pembicaraan.
"sudah, uti yang menyuapiku."
"pintar sekali anak ibu."
"ibu, kapan adik akan keluar?" tanya Ayu.
"sebentar lagi, nanti kalau adeknya udah keluar dari perut ibu Ayu jadi kakak yang baik, sayang adik, nurut sama ayah ibu ya? gak boleh nakal." tutur Vaiz .
"iya ayah, aku tidak akan Nakal. Ayu sayang adik, ayah dan ibu." ucap Ayu sambil tersenyum.
"astagfirullah, putri ibu sangat pintar." puji Shasa.
"baiklah, sekarang Ayu bermain dengan ayah , ibu harus mandi dulu." tutur Levi.
"iya ayah, main di kamarku." ajak Ayu.
Keduanya berjalan meninggalkan Shasa, netra Shasa menatap keduanya penuh dengan sayang. Ia mengelus perutnya
"bersyukur kita sayang, punya kakak dan ayah yang selalu menyayangi kita. Sehat terus anak ibu yang di perut. Semoga kamu lair dengan sehat dan selamat, Tuhan menyertaimu sayang." ucap Shasa.
__ADS_1
Shasa merasa bayinya menendang nendang membuatnya tertawa bahagia. Ujung matanya mengeluarkan air mata bahagia. Dia selalu bersyukur kepada Allah SWT, karena di berikan suami dan 2 anak yang akan menjadi pengisi hatinya. Kedua orang tua serta adik yang selalu menyayangi nya dan sahabat dan teman yang selalu tulus padanya.