
Pagi hari mata Shasa mulai mengerjap ,tangan lemah miliknya menggerayangi tempat tidurnya dan merasakan kosong tak ada tanda tanda suaminya di dekatnya. Di buka perlahan matanya ,ia melirik kesana kemari dan tepat pada sofa ruang rawat di lihat suami yang di cintai tengah tidur meringkuk . Di pandangi suaminya dari kejauhan hingga tak bosan.
"mau sampai kapan liatin suamimu yang tampan ini?" ucap Vaiz membuat Shasa setengah malu.
"apaan sih yank,gak jelas deh siapa juga yang liatin kamu." protes Shasa
"masak? kayaknya dari tadi ada yang liatin aku tidir deh."
"ihh ke pede an kamu mas." ucap Shasa sambil menetralkan rasa malunya.
Vaiz bangun dari tidurnya berjalan kearah istrinya yang masih terpasang jarum infus.
"morning sayang." sapa Vaiz mencium kening istrinya.
"pagi,kok tidur di sofa? aku tadi malem kenapa gak di kelonin?" protes Shasa.
"hey aku tadi malam tidur di sampingmu,setelah itu aku pindah ke sofa karena aku ada pekerjaan sedikit ,setelah itu aku ketiduran." ucap Vaiz beralasan. Pasalnya ia tak tega jika istrinya tak nyaman tidurnya jika berdua,memang ranjang milik rumah sakit tersebut muat untuk di tempati 2 orang tapi Vaiz tak mau jika istrinya kurang nyaman. Akhirnya ia pun pindah tidur di sofa.
"kamu ndak bohong?" tanya Shasa tak yakin dengan alasan suaminya.
"buat apa bohong,mau cek handphone ku?" Shasa pun langsung menggelengkan kepalanya .
"terus kenapa masih cemberut,,masih gak yakin nih?" ucap Vaiz .
"ntahlah," Shasa memalingkan wajahnya .
"tuh kan gak percaya sama suami sendiri." goda Vaiz .
"ahhh tau ah,kamu mah nyebelin." ucap Shasa manja membuat Vaiz tertawa gemas .
"sayang." panggil Shasa dengan nada lirih.
"hmmm,kamu mau apa?" tanya Vaiz lembut sambil mengelus kepala istrinya.
"pulang yuk, aku kangen sama anak kita." Shasa mengeluarkan air mata tanpa ia sadari sendiri.
"kamu nangis,, uuussshhh jangan nangis sayang. Aku tahu kamu kangen sama buah hati kita. Tapi kamu harus sembuh dulu." terang Vaiz.
"aku sudah sembuh sayang, bantu aku ya buat ngomong sama dokter. Aku kangen anakku yang." jelasnya.
"iya iya nanti aku bicara sama dokter." Shasa mengangguk.
"terima kasih ." ucap Shasa lirih.
__ADS_1
tok.. tok.. tok..
"masuk." titah Vaiz.
"permisi tuan,sarapan untuk nyonya." perwata tersebur berjalan dan meletakkan sarapan diatas nakas rumah sakit.
"ya terima kasih."
"iya tuan,saya permisi."
"ya."
Setelah perawat pergi,Vaiz meraih mangkuk yang berisi bubur dan meminta Shasa untuk sarapan.
"kamu sarapan ya yank?" bujuk Suami Shasa.
"aku gak mau makan bubur yank." tolaknya.
"lalu kamu mau makan apa?"
"aku mau pulang."
"sayang,kamu sarapan dulu setelah sarapan nanti aku akan bicara dengan dokter."
"janji ya." Vaiz mengangguk.
"please." pinta Vaiz.
"aku gak mau bubur, makan bubur serasa aku kaya orang sakit." keluh Shasa.
"kamu sakit,kepala kamu saja masih di perban yank."
"tapi aku gak mau bubur."
"lalu kamu mau makan apa?"
"aku mau makan nasi campur boleh?"
"dimana belinya?" tanya Vaiz yang tak mau berdebat dengan istrinya.
"di warteg dekat komplek rumah kita."
"baik,aku akan minta Dino untuk mengantar kesini." Shasa mengangguk sambil tersenyum lebar. Vaiz ikut tersenyum sambil berselancar pada gawainya untuk menghubungi Dino.
__ADS_1
"sudah,kita tunggu Dino datang ."
"iya."
Setengah jam sudah Vaiz menunggu kedatangan Dino sang asissten pribadinya. Ia berjalan kesana kemari dengan wajah yang sulit di artikan.
"sayang,lantainya udah licin tuh."
"maksudnya?" tanya Vaiz bingung.
"lantainya udah licin karena kamu setrika, ganti lantai lain gih." goda Shasa.
"kau ini." Vaiz menggelengkan kepala.
tok.. tok.. tok..
"permisi tuan." ucap Dino memasuki ruang rawat.
"kamu lewat rute mana?" tanya Vaiz ketus.
"maaf tuan,saya harus menunggu warteg tersebut buka dulu."
"alasan kamu,mana nasi campurnya." Dino menyodorkan bungkusan plastik hitam.
"saya permisi tuan,nyonya." mereka berdua pun mengangguk setelah itu Dino keluar.
Vaiz membuka bungkusan tersebut dan mulai menyuapi istrinya.
"kamu nggak makan?" tanya Shasa .
"belum lapar,kamu habiskan ya."
"belum lapar atau takut nggak higienis? semua makanan yang di jual itu sudah pasti bersih. Toh wartegnya juga bersih kenapa mesti takut sih yank." jelas Shasa.
"enggak , aku hanya belum laper aja." tanpa panjang lebar Shasa menyaut sendok yang di pegang oleh suaminya lalu menyendokkan makanan dan menyuapi suaminya.
"kalau kamu gak mau buka mulut,aku gak akan makan." ancam Shasa membuat Vaiz menyerah. Dengan ragu Vaiz membuka mulut dan mulai mengunyah suapan dari istrinya.Setelah makanan di mulut suaminya habis Shasa kembali menyuapi mereka pun makan bersama dan sepiring berdua.
"enakkan? jangan apa apa itu di testaurant . Kita juga perlu beli di warteg,warung tenda dengan seperti itu kita juga ikut andil membantu perekonomian mereka yang."
"iya aku tahu,tapi aku tidak terbiasa."
"suatu saat kamu juga akan terbiasa,o iya kapan kamu mulai menemui dokter. Aku sangat rindu baby Ayu yank."
__ADS_1
"iya setelah ini aku akan menemui dokter kamu ya." Shasa mengangguk dan merentangkan tangan.
"thank you." ucap Shasa lirih. Vaiz memeluk istrinya dan mencium kening istrinya setelah itu mengusap pipi istrinya penuh sayang.