
"Vaiz, seharusnya kau tak mengirim ku kesini. Kau juga menghancurkan perushaan daddyku." teriak Julie di seberang melalui teleponnya.
"aku masih berbaik hati menyisahka perusahaan daddymu." ucap Vaiz enteng.
"kau telah berdosa Vaiz, kau menghancurkan kehidupan mantanmu dan sekarang kau menghancurkan kehidupanku."
"ini sudah menjadi masalalu sekarang hanya ada aku, istriku, dan putriku. Menentaplah disana, meskipun kau banyak uang namun kau tak akan bisa kembali kesini." ucap Vaiz. Mendengar hal itu Julie terdengar mengumpat dengan sumpah sarapahnya.
Dengan tersenyum, Vaiz mematikan sambungan tersebut. Ia tetap berdiri di balkon kamar sambil memandangi malam penuh bintang. Tak berapa lama ia menoleh saat merakan kedua tangan tengah menelusup pada dada bidang miliknya.
"siapa?" tanya sang istri dengan manja.
"Julie." ucapnya sambil mengusap kedua tangan istrinya.
"ngajakin berantem sama aku?" ucapnya sambil tertawa.
"kamu seneng akunya susah." lirih Vaiz.
"kenapa begitu." tanya Keisha sambil menempelkan wajahnya pada punggung suaminya.
"kalau di lerai kamunya ngancem." Shasa cemberut mendengar penuturan suaminya.
Vaiz memutar tubuhnya mengadap Shasa. Ia memeluk tubuh istrinya. Sementara sang istri lebih menempel pada tubuh Vaiz.
"ngantuk?" tanya Vaiz.
"iya, putri kita tambah pintar. Ngajakin ngobrol mulu sebelum tidur." ucap Shasa.
"dia mirip denganmu. Banyak tingkah." celetuk Vaiz.
"kok aku." Shasa mendongak menatap suami.
__ADS_1
"lalu siapa lagi?" ucap Vaiz sambil terkekeh.
Shasa melepaskan pelukan tersebut dan berjalan kearah ranjang king size.
"kalau dia mirip aku, trus mirip kamu apanya?" tanya Shasa sambil memeluk guling.
Vaiz tersenyum menyusul istrinya . Ia perlahan mendekat dan berbisik tepat di telinga istrinya.
"kamu mau tau bagian mana putriku mirip denganku?" Shasa mengangguk. Ia meresa tengkuknya meremang. Merasakan nafas suaminya yang tengah menembus kulit miliknya.
"apa?" tanya Shasa sedikit gugup.
"otaknya." ucap Vaiz lagi.
"hah? ke.. kenapa begitu?" tanya Shasa .
"putriku cerdas seperti Ayahnya, tidak seperti ibunya." ucap Vaiz langsung merebahkan tubuhnya, namun Shasa melotot mendengar penuturan suaminya.
"sayang... kau fikir aku tidak cerdas?" ucap Shasa sedikit keras.
Sontak Shasa pun langsung menindih tubub suaminya dan langsung mencium paksa seluruh wajah suaminya.
"kamu ya.. selalu bikin aku bete. Rasakan ini."
cup.. cup.. cup .. cup..
"sayang sudah, wajahku penuh air liurmu." ucap Vaiz sambil berusaha mengalihkan wajahnya.
"bodo amat, sini biar aku ciup biar bau sekalian."
cup.. cup.. cup .. cup..
__ADS_1
"ampun sayang, ampun." ucap Vaiz dengan tertawa geli.
Shasa tak berhenti untuk menciumi suaminya. Karena tak tahan dengan kelakuan istrinya, Vaiz pun dengan tenaga penuh langsung membalikkan tubuhnya. Kini berganti Vaiz diatas tubuh Shasa.
Vaiz dengan cekatan menguci tangan sang istri keatas membuat Shasa tak bisa berkutik.
"sayang apa yang kau lakukan?" tanya Shasa dengan nafas ter engah2..
"memakanmu?" dengan senyum menyeringai.
"sayang lepaskan aku, nanti anak kita bangun."
"apa menurutmu aku peduli?" seringai Vaiz.
"sayang please." keluh Shasa.
Vaiz langsung menciumi seluruh wajah Shasa, terakir ia m****** bibir Shasa dengan rakus. Mereka pun sama sama terbuai. Vaiz tak akan membiarkan istrinya lolos dari tangannya, sementara Shasa sudah mengalah karena tak sanggup dengan sentuhan suaminya.
"aku merindukanmu." bisik Vaiz membuat seluruh tubuh Shasa meremang.
Dengan cekatan, Vaiz melepaskan pakaian atas Shasa hingga terpampang nyata benda kenyal mainannya selama menjadi suaminya.
Vaiz menciumi tubuh Shasa hingga sang istri mengeluarkan suara merdu yang selalu membuatnya semangat untuk menyentuh istrinya.
"yank." ucap Shasa dengsn nafas ter engah engah.
"hmmmm, kau menyukainya?" ucap Vaiz.
Kembali Vaiz melepas celana panjang milik Shasa, membuat Vaiz kembali menelan saliva nya.
"aku mencintaimu." lirih Vaiz membuat Shasa semakin malu.
__ADS_1
"ak-." ucapan Vaiz terjeda karena...
Karena lanjut extra part 2.. tetap stay dan tunggu extra part selanjutnya kak😉