
Sudah 2 hari Shasa mendiamkan suaminya . Ia juga tak memberi kesempatan suaminya untuk menggendong putrinya dan itu membuat Vaiz sangat frustasi.
"kenapa aku tidak boleh menyentuh putriku." protes Vaiz .
"anak ibu, kesayangan ibu . Ayu cuma anak ibu kan bukan anak siapa siapa lagi kan? jadi Ayu gak boleh sembarangan di gendong orang lain kan ibu yang mengandung Ayu." sindir Shasa membuat Vaiz mengusap wajahnya frustasi .
Vaiz langsung berjalan keluar kamar dan pergi kekantor tanpa mengecup kening kedua orang tersayangnya. Sementara Shasa tertawa terbahak melihat suaminya frustasi.
Vaiz sampai di kantor dengan wajah masamnya . Para karyawan yang menyapanya sama sekali tak dihiraukannya .
"Rahma ,minta Dino keruanganku ." perintah Vaiz pada sekretarisnya .
"baik pak ."
beberapa saat Dino sudah memasuki ruangan Vaiz , ia mengernyit kala melihat atasannya tidak seperti biasanya .
"Tuan ." panggil Dino .
"aku sudah tidak kuat lagi Dino, istriku sudah 2 hari mendiamkanku bahkan aku saja dilarang menyentuh anakku sendiri ." mendengar keluhan atasannya Dino tersenyum tipis .
"kau mengejekku?" tanya Vaiz menatap nyalang assisten pribadinya .
__ADS_1
"maaf tuan ,lalu apa yang harus saya lakukan?"
"alihkan semua kepemilikkanku menjadi milik istriku." ucap Vaiz . Ia sudah memikirkan matang matang keputusannya .
"apa anda yakin tuan ?" tanya Dino .
"yakin seyakin yakinnya Dino . Aku muak dengan tante Fanny dan Jessica jika aku tetap begini maka dia akan tetap mengejarku. Kau tahu bukan kalau dia hanya ingin hartaku bukan karna janjinya pada orang tuaku ." jelas Vaiz .
"saya tahu tuan, baiklah perintah tuan akan saya laksanakan ." ucap Dino .
Di dalam kamar, Shasa baru saja menyelesaikan panggilan video call dari para sahabatnya. Saat ponsel miliknya akan di letakkan tiba tiba berdering tanda telpon masuk dari nomor tak di kenalnya . Ia mengernyitkan dahinya, melihat nomor asing pada layar ponselnya .
"halo nona Shasa , aku merindukanmu ." mendengar suara yang tak asing membuat tubuhnya menenggang .
"sudah cukup jangan ganggu kehidupanku,kita tak saling mengenal dan kau tahu aku sudah memiliki suami yang sangat aku cintai jadi tolong jangan hubungi aku lagi ." ucap Shasa.
"maafkan aku, aku tidak bisa melupakanmu . Ahh senyuman manismu membuatku melayang . Kau sudah terpatri di dalam hatiku sayang dan ingat aku akan mendapatkanmu ." mendengar hal itu Shasa langsung membanting ponselnya hingga ponsel tersebut tidak bisa tertolong .
"Ya Tuhan dosa apa aku hingga terjebak dalam permainan orang orang kaya ." gumam Shasa memeluk tubuh kecil putrinya .
Saat ini kepalanya berdenyut , di saat masalah Jessieca dan mommy nya belum selesai, kini hadir sosok yang sudah lama tidak mengganggunya . Ia perlahan memejamkan mata dan tak berapa lama nafasnya teratur .
__ADS_1
Sore hari Vaiz kembali langsung menuju kamarnya, ia melihat istrinya sedang memakaikan baju untuk putri kecilnya . Saat ia meletakkan tas keejanya di meja , ia mendapati ponsel istrinya yang sudah hancur berada di lantai .
"sayang, kenapa kau merusak ponselmu ?" tanya Vaiz pelan .
"aku membantingnya, jangan berikan ponsel padaku ." ucap Shasa asal .
"kenapa?" Vais berjalan mendekati istrinya .
"dia menghubungiku lagi dan bicara bahwa akan berusaha merebutku darimu ." mata Shasa berkaca kaca.
"kau percaya dengan hal itu? lihat aku tak akan ada yang bisa merebutmu dariku . Aku akan menjagamu dan putri kita jangan khawatir masih ada aku suamimu ." jelas Vaiz .
Shasa langsung berhambur memeluk tubuh suaminya .
"maafkan aku sudah mendiamkanmu dan melarangmu menyentuh putri kita."
"aku tau kau sedang marah, sekarang jangan menangis. Aku yang akan mengurus semuanya ." Shasa mengangguk .
"sekarang mandilah, biar aku yang menajaga Ayu ." Shasa kembali mengangguk dan berjalan kearah kamar mandi .
Vaiz menggendong putrinya lalu menciumi pipi putrinya dengan gemas .
__ADS_1