
Saat ini Shasa berada di pusat perbelanjaan. Ia memilih kebutuhan rumah yang sudah hampir habis. Keranjang tersebut sudah di penuhi oleh beberapa bahan yang ia pilih. Sementara Asisten lainnya hanya mengikuti sambil mendorong troli.
"Nona Keisha Andira." panggil seseorang . Mendengar namanya disebut Shasa langsung menoleh, Ia langsung membola.
"kau?" ucap Shasa.
"mau apa kau?" tanya Shasa dengan raut wajah tidak senang.
"Nyonya kita pergi dari sini?" tanya salah satu asisten rumah tangga nya.
"ijinkan aku bicara dengan majikanmu. Setelah itu aku tidak akan mengganggu lagi." tutur pria tersebut.
"tidak bisa tuan, nyonya sedang hamil kami tidak bisa meninggalkan nyonya sendiri." jelas Hilma.
"aku mohon, setelah itu aku akan pergi sejauh mungkin." pinta nya pada Naya.
"baiklah, setelah itu berjanjilah tidak mengganggu ku. Aku akan di coffe shop depan, kalian selesaikan pembayaran." ujar Shasa.
"tapi nyonya.."
"aku akan baik baik saja." Setelah mencoba meyakinkan ART nya, Shasa berjalan di ikuti pria di coffe shop yang di tunjukkan.
"katakan." ucap Shasa setelah duduk . Pria tersebut duduk di hadapan Shasa.
"ini adapah kebetulan yang pas, aku tak meyangka bertemu denganmu."
"to the point saj, tuan Zidan ." ucap Shasa tanpa berbasa basi.
Zidan menghela napas .
"disini aku ingin meminta maaf atas sikapku yang tidak menyenangkan. Aku tahu aku salah dan aku di butakan oleh obsesiku. Hingga aku membuat kau tidak nyaman." Shasa terdiam mendengar perminta maafan dari Zidan.
"saat ini aku menyesal, seharusnya aku tidak menggangu milik Pervaiz Taban, tapi saat aku melihat dirimu, aku merasa kau adalah wanita yang aku cari. Tanpa berfikir akhir yang buruk. Nona Keisha, berkenankah kau memaafkan diriku?"
"tuan, kau tidak perlu meminta aku sudah memberi maaf untukmu, dan aku rasa kita sudah tidak ada masalah lagi tuan. Aku rasa aku harus permisi." Shasa berdiri namun pergelangan tangannya di tahan oleh Zidan.
"bisakah kita menjalin pertemanan?" tanya Zidan.
"ya kita memang teman, tapi cukup seperti ini karena sejatinya laki laki dan perempuan saling akrab akan menimbulkan rasa suka, entah dari pihak pria atau wanita, dan kau tahu aku menghindari itu. Cukup suamiku yang menjadi rekan, teman, sahabat dan jodohku. Jadi biarkan aku pergi tuan. Tidak baik jika ada yang mengenal kita dan salah paham."
"tapi.."
"apa yang kau lakukan pada istriku?" ucap Vaiz dengan aura kemarahan. Shasa terkejut dan langsung menghampiri suaminya
"sayang, jangan marah tahan emosi." tutur Shasa lembut.
"bagaimana aku tidak emosi jika melihat kalian berdua disini. Dimana pelayan kita?" tanya Vaiz dengan mata memerah.
"tuan Vaiz, aku hanya meminta maaf pada nona Keisha atas sikapku." jelas Zidan.
"apa kau lupa, sudah ku katakan jangan temui istriku. Belum cukup puas kau bicara padaku? sekarang kau ingin menemui istriki?" ucap Vaiz dengan rahang mengetat.
Melihat tangan suaminya terkepal, Shasa langsung menggandeng suaminya. Keduanya berjalan keluar dari coffe shop. Hilma dan Cristin mengkuti langkah keduanya sambil menenteng tas belanjaan.
Sampai di parkiran mobil, Vaiz meminta menaki mobil yang di pakai saat berangkat. Dan Shasa diminta Vaiz untuk ikut dengan Vaiz .Shasa menurut tanpa protes dan bertanya.
__ADS_1
"sudah jangan marah, aku tidak ada apa apa dengannya. Dia sudah jelaskan padamu bukan?" jelas Shasa.
"kemarin di menemuiku, aku memintanya untuk tidak menemuimu tapi dia malah menemuimu dan tak menghiaraukan ucapanku. Aku percaya padamu tapi tidak dengannya." jelas Vaiz.
"dia sudah berjanji tidak akan kembali. Semuanya akan baik baik saja."
"yaa, maafkan aku jika aku berlebihan."
"kau tau bukan seluruh hidupku hanya untukmu. Tak ada kesempatan untuk pria lain mengisinya. Jadi jangan berfikir yang tidak tidak fokus pada keluarga kecil kita." tutur Shasa.
"hmmmm, aku sangat mencintaimu." ucap Vaiz membuka pintu mobil untuk istrinya. Ia langsung berputar dan masuk pada bagian kemudi.
"aku juga sangat mencintaimu." ujar Shasa mencium pipi kiri suaminya.
Vaiz mengemudikan mobil menyusuri jalan ramai. Sesekali Shasa menggoda suaminya.
"jemput anak dulu." ucap Shasa.
"iya." Vaiz langsung tancap gas menuju sekolah putrinya.
Tak butuh menunggu waktu lama, sang putri nampak berlari kecil. Shasa dan Vaiz langsung turun.
"ibu ayah." teriak Ayudia.
"hai putri ibu. Bagaimana sekolah nya?" tanya Naya.
"tadi aku mewarna ibu, dan tadi ada lomba mencocokan bentuk. Aku menang ibu." ucap Ayu menunjukkan bungkusan hadiah dari garu nya.
"wah putri ayah hebat?"
"oke sayang."
Vaiz menggandeng tangan putrinya masuk kedalam mobil. Shasa ikut masuk begitu juga Vaiz . Dalam perjalanan Ayu tampak berceloteh.
Sampai dirumah, Ayu turun dari mobil berlari kecil saat melihat mobil kakeknya datang.
"kakung, uti." teriak Ayudia .
"cucu kakung." ujar bapak Shasa.
"bapak ibu sudh dari tadi?" tanya Shasa sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"lumayan, mana suamimu?" tanya ibu Shasa.
"masih di depan bentar lagi masuk." ujar Shasa.
"ooo yawes anak e gik di bantuin bersih bersih dulu." ucap ibu Shasa.
"iya bentar ya bu."
Shtanggik keatas bersama putrinya. Tak berselang lama Vaiz masuk kedalam rumah langsung menghampiri mertua nya.
"pak, ibu. Dari tadi atau barusan pak?" tanya Vaiz .
"lumayan nak, maaf kesini nya gak ngabarin soalnya kami berdua kangen sama cucu ibu." jelas ibu Shasa.
__ADS_1
"oh gak papa bu, gak perlu minta maaf ini juga rumah kalian. Kapan pun kalian ingin berkunjung pintu rumah selalu terbuka." jelas Vaiz.
"iya, lo kamu memangnya ndak balik ke kantor nak?" tanya bapak Keisha.
"oh tidak bu, aku akan dirumah menemani Shasa dan Ayu." jelas Vaiz .
"jika ada urusan kantor kamu bisa pergi nak." jelas bapak Shasa.
"tidak ada pak." jelas Vaiz
Shasa menuruni tangga bersama putrinya. Terdengar Ayu berceloteh bercerita khas anak kecil. Bertanya tentang apa yang tidak ia pahami.
"kakung, uti." panggil Ayu.
"sudah ganti baju?" tanya Bu Sri.
"sudah uti, o iya uti Ayu punya adik di perut ibu."
"ooo iya, Ayu senang tidak?" tanya Bu Sri.
"senang, tapi adik Ayu masih belum mau keluar. Kata ibu nunggu 6 bulan lagi. Kata ibu 6 bulan masih lama." jelas Ayu dengan logat anak kecil.
Semua orang dewasa mendengar celotehan Ayu nampak tersenyum gemas, begitu juga dengan Shasa. Ia langsung mencium pipi putrinya membuat sang pemilik pipi gembul berteriak.
"aaaaawwww, sakit ibu." ucap Ayu dengan nada kesal.
"ayah, ibu nakal. Gigit pipi Ayu." ujar Ayu .
"ibuuuu." ucap Vaiz pada Shasa dengan nada penekanan.
"gemas ayah." ucap Shasa sambil tersenyum.
"mbok ojo gitu to nduk. Kasian anak e , kamu mau di gigit pipimu gitu." ucap Pak Yono dengan logat campur bahasa jawanya.
"iya pak."
Ayu berdiri menjauh dari Shasa, dan meminta di pangku ayah nya. Raut wajah kesal pada ibunya nampak tercetak jelas .
"sayang. Maafin ibu." pinta Shasa.
"tidak mau, ibu terus menggigit pipiku. Itu sakit ibu." ujar Ayu.
"iya minta maaf ibu, gak akan gigit lagi." ucap Shasa.
"janji?" tanya Ayu.
"iya..." ucap nya menjeda
"kalau gak lupa." lanjut nya dengan tawa terbahak.
"ayah." rengek Ayu.
"ibu."
"nduk."
__ADS_1
Ucap mereka bersama saat melihat kejahilan Shasa.