
"hai, boleh aku temani kau duduk?" sapa pria yang sedang berdiri di hadapan Shasa .
"maaf." ucap Shasa menatap pria tersebut .
"maaf aku melihatmu duduk sendiri dengan keadaan hamil besar . Apa suamimu tidak ikut ?" tanya pria tersebut ..
"suamiku sedang ..." ucapan Shasa terpotong oleh pria tersebut .
"aku tahu pasti suamimu sibuk bukan?" ucap pria tersebut .
"perkenalkan aku zidan , pemilik Zhi Hotel . Dan siapa namamu?" ucap Zidan .
"maaf aku harus pergi , suamiku menungguku ."
"hey , kenapa buru buru bukannya suamimu tidak ada disini?" cecar Zidan .
"suaminya disini . Di belakangmu ." suara Vaiz terdengar pada kedua telinga Zidan dan Shasa .
"sayang ." Shasa melebarkan sepasang matanya .
"Pervaiz Taban ." ucap Zidan lirih .
"kau terkejut tuan Zidan? apa kau tidak melihat jika istriku hamil? berarti dia memilik suami bahkan dia hamil besar dan akan melahirkan ." cecar Vaiz .
__ADS_1
"sayang sudah ." bisik Shasa setelah menghampiri Vaiz .
"ayo pulang ." ucap Vaiz menggandeng tangan istrinya . Shasa hanya menurut tanpa membantah .
Vaiz berjalan tanpa berbicara sepatah kata pun . Yang dirasakan kini hanya kecemburuan . Ia cemburu melihat istrinya berbicara dengan laki laki lain . Memasuki gerbang , Vaiz berjalan dengan cepat meninggalkan istrinya . Shasa yang tak mampu mengimbagi langkah suaminya hanya menghela nafas kasar .
"sayang ." panggil Shasa saat memasuki kamarnya . Ia melihat suaminya berdiri di balkon sambil berbicara melalui telepon .
"pergilah sendiri, aku akan dirumah . Aku tidak peduli jika perusahaanku disana gagal ." ucap Vaiz pada sambungan telepon .
Shasa hanya diam mematung mendengar percakapan suaminya dengan orang yang berada dalam panggilan suaminya . Ia tahu jika suaminya cemburu karna pria yang sok kenal tadi . Setelah selesai menelepon , Vaiz berbalik dan menatap istrinya .
"sayang ." panggil Shasa pada suaminya . Vaiz hanya diam tak menjawab .
"sayang, kau marah hanya karna laki laki tadi aku tidak mengenalnya . Kau marah tanpa sebab ." ucap Shasa membela dirinya .
"huh kau ini . Untuk apa aku tertarik dengannya . Kau sudah lebih dari cukup . Jika aku memilih di bawah mu aku berarti bodoh ." ucap Shasa .
"kenapa begitu?" tanya Vaiz tak mengerti .
"jelas saja kau lebih tampan darinya, kau lebih mencintaiku , kau juga lebih memiliki segalanya . Apa yang kurang dari mu , yang lebih lagi kau adalah suamiku dan kau adalah ayah dari anak yang ku kandung ini ." jelas Shasa panjang lebar .
"kau itu pintar ngeles , kau bicara seperti itu agar aku tidak marah denganmu kan? dan aku memaafkanmu kan?" ucap Vaiz .
__ADS_1
"huh, kau ini untuk apa aku seperti itu . Jika kau tidak percaya ya sudah . Kau tidak perlu pergi menggapai impianmu dan tidak perlu menemaniku di persalinan nanti." cecar Shasa .
"hey kenapa begitu . Aku ayahnya lalu siapa yang akan menemanimu? laki laki tersebut?" tanya Vaiz mengikuti langkah istrinya yang duduk di sofa kamarnya .
"enak saja , kau fikir istrimu ini wanita murahan apa . Aku ingin suamiku meraih impiannya agar kelak anak anak kita yang meneruskan . Bukannya kau ingin punya banyak anak . Jika perusahaanmu tidak banyak nantinya kita tidak adil untuk membaginya . Jadi pergilah , raih impianmu dan aku akan menunggumu disini dengan anak yang ku kandung ini ." jelas Shasa .
"jika aku pergi apa kau ingin berjanji tidak akan bertemu dengan laki laki lain ." ucap Vaiz lirih .
"huh, apa kau kira aku seperti itu . Jika iya sudah dari dulu sebelum mencintaimu aku akan melakukan itu ." keluh Shasa .
"jadi kau melakukannya ?" ucap Vaiz dengan tatapan tak menentu.
"kau ini , sifat cemburu membuat dirimu menjadi telmi sayang ."
"apa itu telmi ?" tanya Shasa .
"telat mikir ." Shasa terbahak menjawab pertanyaan suaminya .
"kau ini ." gerutu Vaiz sambil menyentil kening istrinya .
"aauuuhh sakit sayang . Berangkatlah aku akan menunggumu pulang ." ucap Shasa lirih sambil mencium bibir suaminya .
"kau janji , janji akan setia denganku ."
__ADS_1
"iya aku akan berjanji . Setia denganmu sampai tua nanti sampai mau memisahkan ." Shasa meyakinkan suaminya .
"peluk aku ." ucap Vaiz merentangkan tangannya , dengan secepat kilat Shasa melabuhkan tubuhnya dalam dekapan suaminya . Merekapun berpelukan sangat lama menyalurkan rasa cintanya pada pasangannya .