Mengejar Cinta Wanita Biasa

Mengejar Cinta Wanita Biasa
Bab 185


__ADS_3

Saat ini Shasa sudah satu mobil dengan suaminya, mereka duduk di belakang kemudi. Vaiz juga tak henti hentinya mencium punggung tangan istrinya hingga Shasa di buat malu dengan tingkah suaminya.


"sayang, please malu sama sopir." lirih Shasa.


"kenapa malu, kita sudah suami istri." jelas Vaiz dengan tetap mencium punggung tangan istrinya.


"please, malu yank." Shasa menarik tangannya.


"pak, bapak lihat saya sama istri saya?" tanya Viaz pada sopir yang selalu mengantar Shasa.


"tidak tuan, tuan tidak perlu khawatir saya selalu fokus kedepan tidak melirik kebelakang sama sekali." jelas pak Damar.


"tuh kan, jadi kamu tidak perlu malu . Kan sudah di jelasin sama Pak Damar." Vaiz meraih tangan istrinya dengan santai.


"sumpah, aku rasa setelah kita menikah dan punya anak sifat asli kamu udah ilang. Malah tambah gak ada malu malunya." omel Shasa.


"hey, aku begini karena sudah terjerat cintamu. Karena cintamu sudah membuatku berubah."


"ya berubah seperti anak kecil yang sudah tidak punya malu. Di depan orang masih aja cium2."


"memangnya kenapa? toh pak Damar pernah muda. Pernah ngalamin kaya kita. Bukan begitu pak?"


"hehe iya tuan."


"kamu dengarkan sayang, hal seperti ini sudah biasa . Lagian kamu cantik banget aku malah nggak nahan lihat kamu secantik ini." ucap Vaiz.


"bikin aku pingin ngurung kamu di kamar terus." lanjut Vaiz dengan berbisik membuat Shasa membulatkan matanya.


"kamu.. issshhh aku rasa lebih baik kamu temenan sama tuh artis yang suka godain wanita siapa tuhh, ssshhh o iya Vicky tidaksetia itu."


"hey kenapa begitu."


"karena kamu sama dia sama sama genitnya." jelas Shasa dengan nada kesal. Malah membuat Vaiz tertawa.


Mobil mahal tersebut berhenti di tempat tahanan para narapidana. Vaiz turun di ikuti oleh Shasa, takut yang ia rasakan karena akan menemui orang yang telah menabraknya.

__ADS_1


"kau jadi akan ikut menemuinya sayang." tanya Vaiz, ia tahu istrinya gugup maka dari itu ia meyakinkan istrinya.


"aku hanya ingin tahu alasan kenapa dia mencelakaiku."


"sayang, aku tahu kau ini sangat tidak siap. Aku bisa menceritakanmu nanti."


"please, aku mohon aku juga sudah menyiapkan makanan untuk papanya Jessie." pinta Shasa.


"baiklah, berjanjilah kau harus menahan emosimu. Kau baru saja sembuh aku tidak ingin terjadi apa apa denganmu."


"iya, aku janji." Vaiz meraih tangan istrinya.


"tuan, saya sudah menunggu anda dari tadi." ucap Dino.


"maaf, aku tadi masih berbicara pada istri tercintaku. Baiklah ayo kita masuk untuk menemuinya."


"baik tuan."


Vaiz menggandeng tangan istrinya dengan erat seolah ia tak ingin terlepas sedetikpun dari istrinya.


"apa kau baik baik saja sayang?" bisik Vaiz.


"aku baik ."


Tuan Smith berjalan menatap 2 orang yang tengah duduk bersanding berdua.


"ada perlu apa kau datang kemari?" Shasa terlonjak kaget.


"tuan saya membawakan makanan untuk anda tuan." ucap Shasa ragu ragu .


"tidak perlu basa basi, aku juga tidak butuh belas kasihan wanita miskin sepertimu."


"tuan jaga bicaramu." Vaiz memperingatkan tuan Smith.


"aku tak apa sayang." bisik Shasa.

__ADS_1


"apa maumu." ucap tuan Smith dengan nada sedikit tinggi.


"aku disini hanya ingin menemuimu, ingin tahu keadaanmu." jelas Vaiz.


"dan kau ingin tahu bukan alasan kenapa aku menabrak wanita picik ini bukan?"


"tuan tolong jangan pernah rendahkan istriku seperti ini." mata Vaiz terlihat memerah menahan amarahnya.


"kau tahu apa alasanku mencelakaimu? karena kau menghancurkan hidup putriku, masa depan putriku. Kau juga membuat perusahaan hancur."


"apa yang aku lakukan, aku tidak pernah menyentuh Jessie sama sekali, dia yang lebih dulu menyenggolku." jelas Shasa, ia memang merasa tidak pernah menyentuh Jessie lebih dulu. Karena Jessie selalu yang lebih dulu mengganggunya.


"wanita bodoh sepertimu tidak akan pernah mengerti."


"apa salahku tuan." Shasa menitikkan air matanya.


"hapus air mata palsumu itu," tuan Smith terihat geram.


"cukup tuan, jangan sampai aku melupakan batasanku tuan." geram Vaiz.


"sayang, tenangkan amarahmu." lirih Shasa.


"kau yang melupakan batasanmu, apa kau lupa janji orang tuamu,apa kau lupa siapa yang menemanimu saat kepergian orang tuamu , apa kau lupa Jessie putri semata wayangku terlalu mencintaimu. Penuh harap padamu."


"tuan hentikan ocehanmu, sayang ayo kita pulang." Vaiz menyentuh pundak istrinya.


"kenapa? apa kau takut jika istrimu tahu jika kau sudah di jodohkan oleh orang tuamu, Semua karena istrimj yang murahan ini."


"ayo sayang kita pulang jangan dengarkan mulut bu*uknya." Vaiz berdiri menarik tangan istrinya namun di tahan oleh Shasa dengan air mata yang di bendungnya. Merasa tangannya di tahan Vaiz langsung menoleh menatap istrinya.


"tuan yang terhormat dengarkan ucapan saya, sebelum kami menikah aku tidak tahu menahu tentang perjodohan suamiku dengan putrimu, aku tidak tahu apa peran keluargamu dalam kehidupan suamiku, dan dengan perasaan putrimu itu bukan urusanku aku tidak peduli dengan semuanya , Dan tentang perusahaanmu wajar jika suami yang mencintai istrinya melakukan apapun agar istrinya tidak terusik dengan ulah putri dan istrimu." jelas Shasa menjeda ucapanya.


"apa kau tahu tuan, Jika istrimu dan putri kesayangmu itu yang lebih dulu mengusikku? Dan harusnya istri dan putrimu tahu jika menyentuhku barang sedikitpun dia akan lebih terluka, kau bilang aku murahan, beritahu aku tuan dimana letak murahanku dimana?" ucap Shasa dengan amarahnya.


"sudah cukup sayang ayo kita pergi." Vaiz memapah istrinya meninggalkan tuan Smith . Sementara Dino mengikuti Vaiz dan Shasa dari belakang. Laki laki paruh baya tersebut tersenyum menahan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2