
Di kantor Taban groub, seorang wanita berjalan anggun layaknya model . Dengan dres pendek ,sepatu yang tidak terlalu tinggi , dengan menenteng sebuah bungkusan. Banyak pasang mata menatapnya tak berkedip , namun wanita itu tidak perduli hanya berjalan menuju lift menuju lantai paling atas milik CEO perusahaan .
Setelah di lantai atas wanita itu mengkode sekretaris pribadi Vaiz dengan jari telunjuk ia tempel dibibir . Lalu membuka pintu ruangan Vaiz dan menutupnya kembali .
"saaaayyyyaaaaaaanggggg ." teriak Shasa . Vaiz terkejut dengan teriakan istrinya tersebut lalu menatap kearahnya . Dan kembali terkejut saat melihat penampilan Shasa .
"sayang kau kah itu?" tanyanya merentangkan tangan ingin memeluk istrinya. Shasa berlari kecil memeluk suaminya .
"kalau bukan aku siapa lagi ." memukul dada suaminya lirih . Vaiz terkekeh mendengar ucapan Shasa .
"kau cantik sayang ." bisiknya .
"dari lahir sayang , jika aku tidak cantik pasti tidak akan kau nikahi ." gelak tawa Vaiz terdengar .
pletak . Vaiz menyentil kening istrinya .
"uhhh inilah hadiah untukku saat aku berubah menjadi cantik ." sungutnya .
"baiklah , kau mau apa ?" tanya Vaiz menatap lekat manik wajah istrinya .
"tidak banyak , aku hanya mau suamiku mencintaiku, setia padaku dan percaya padaku ."
"kau meragukan cinta suamimu sayang?" tanya Vaiz pelan diangguki Shasa .
"kenapa?" tanya kembali
"Entahlah ," Shasa melepas pelukan suaminya berjalan menuju sofa ruangan suaminya .
__ADS_1
"percayalah padaku sayang cintaku memang untukmu ." Vaiz berjalan mengikuti istrinya .
"iya iya aku percaya padamu , sayang boleh aku bicara padamu tapi berjanjilah kau tidak akan marah ." ucap Shasa ragu .
"bicaralah ."
"berjanjilah sayang ." rengeknya .
"oke oke aku berjanji ."
"sayang sebenarnya aku meminta uang itu untuk membeli baju,sepatu,tas dan make up . Termasuk yang ku kenaka ini sayang dan ternyata aku menghabiskan uangmu begitu banyak ." Shasa menundukkan kepalanya jarinya saling bertautan .
"aku tahu ," ucap Vaiz singkat .
"hah,bagaimana kau tahu ."
"kau marah,?" tanya Shasa sembari melirik suaminya .
"tidak, bakan jumlah yang kau belanjakan masih sedikit ." ucapnya sombong .
sombong amat , tau gitu akan ku kuras habis. hartamu . batin Shasa
"Kau tidak akan mampu menghabiskan uang uangku maupun hartaku sayang ." goda Vaiz .
"hah ." mata Shasa membulat dan tersenyum menampilkan deretan giginya .
"ya sudah, makanlah aku sudah menyiapkan makan siang untukmu ."
__ADS_1
"sayang, apa kau tidak membeli baju tipis yang biasa digunakan seorang istri untuk menjerat suaminya ." bisik Vaiz dengan menempelkan bibirnya pada daun telinga Shasa .
"hah , tidak bahkan aku tidak mengenakannya saja kau sudah terjerat padaku ." Shasa paham dengan maksud ucapan suaminya .
"belilah satu sayang , setidaknya agar lelah suamimu hilang saat kau mengenakan dimalam hari ."
"huh, sayang ingat umur kau sudah tidak pantas untuk berhicara mesum seperti itu ."Shasa memanyunkan Bibirnya .
" kah ini memang tidak peka sayang ." Vaiz berpura pura kecewa , ia menyaut makanannya dari tangan istrinya .
"apa kau tidak ingin menyuapiku?" tanya Shasa .
"tidak,makanlah dirumah aku banyak pekerjaan ."
"hah, kau mengusirku hanya karna aku tidak membeli baju dengan kain tipis seperti saringan teh sayang?"
"aku selalu memanjakan mu tapi kau tidak pernah sekali pun memanjakan suamimu ." gerut Vaiz .
"huh , aku pulang saja ." Shasa berjalan menuju pintu .
"aku pulang sayang, kau tidak mencegahku?" ucap Shasa yang tak dihiraukan oleh Vaiz . Shasa yang kesal hanya menghentakkan kakinya dan berlalu pergi .
Setelah kepergian Shasa , Vaiz tertawa terbahak hingga tersedak .
uhuk uhuk uhuk .
"s**l , gara gara mengerjai istriku aku kena batunya ." berjalan mengambil air minum . Untung saja istrinya sudah pulang jika tidak Vaiz akan malu sendiri . Ia kembali menghabiskan makanan yang dibawa istrinya dengan lahap . Setelah itu ia kembali bekerja menyelesaikan pekerjaan yang baru saja tertunda .
__ADS_1