
Di dalam mobil , Shasa membuka ponselnya dan mencari tahu seputaran ibu hamil . Saat mobil berhenti di lampu merah .Mata Shasa menangkap sesuatu yang membuat air liurnya akan menetes .
"sayang kau tahu tidak ,jika ibu hamil menginginkan sesuatu itu tidak boleh di tunda dan tidak boleh di tolak."
"kenapa begitu?" tanya Vaiz yang masih menatap padatnya jalanan yang tersendat karna kemacetan pada lempu merah .
"iya karna takutnya saat lahir anaknya akan ileran. Kau tahu aku dulu punya tetangga ibu hamil istrinya menginginkan sesuatu karna suaminya pelit ia tidak bisa membeli apa yang ia inginkan jadi waktu lahir beberapa bulan anaknya menjadi ilerena sayang ." ucao Shasa panjang lebar .
"langsung pada intinya saja ." ucap Vaiz .
"maksud kamu?"
"apa yang kau inginkan ,tidah usah mencari alesan dengan menceritakan tetanggamu ." ucap Vaiz seolah tahu yang dimaksud istrinya . Dengan tersenyum sok cantiknya Shasa memberitahu apa yang ia inginkan .
"seblak ." Shasa mengatakan dengan lirih sangat lirih yang masih dapat di dengar oleh Vaiz .
"apa itu?" Shasa pun menunjukkan gambar seblak di layar ponselnya pada Vaiz .
"itu pedas , bayi kita tidak bisa menerima makanan yang pedas seperti itu , kau tidak boleh makan makanan pedas ." omel Vaiz .
"Ya Allah, kau ini sayang . Aku akan membeli yang level tidak pedas." jelasnya berbohong .
"Sa, apa hukumnya bohong pada suami sendiri?" tanya Vaiz .
"dosa sayang ."
"lalu ?"
__ADS_1
"tidak boleh herbohong."
"lalu istri harus apa saat suami berkata?" tanya Vaiz lagi .
"manurut dan tidak membantah ."
"Good ."
"ahhhh sayang ," ucap Shasa dengan nada manja yang tak di hiraukan suaminya .
"mintalah yang wajar wajar saja untuk ibu hamil Sa." jelas Vaiz .
"baiklah, masakin makanan untukku . Aku mau kamu yang masak ."
"it's oke sayang , no problem ."
Sampai dirumah Vaiz menuju dapur dan mengambil celemek . Ia pun meletakkan jas mahal miliknya dan melonggarkan dasi , lalu melipat lengan bajunya keatas .
"apa kau menggodaku ?" ucapnya sambil mengeluarkan bahan makanan pada almari pendingin .
"ahh, kau baperan sekali." Vaiz tak menanggapi ucapan istrinya . Ia hanya tersenyum sambil mencuci sayuran yang ia butuhkan .
"tuan, ada yang bisa saya bantu." ucap pelayan saat mengetahui kedua manjikannys berada di dapur .
"tidak beristirahatlah . Hari ini aku yang akan masak untuk istriku ." pelayan tersebut mengangguk dan berlalu pergi .
Shasa mentap kagum suaminya . Lama lama tatapan itu berubah sayu dan kepala yang tadi terangakat kini telah bersandar di meja dengan mata terpejam .
__ADS_1
30 menit sudah Vaiz berkutat di dapur mahal miliknya . Selesai dengan tugas dari istrinya ia membawa 2 piring untuknya dan istrinya . Saat berjalan di meja makan , kepalanya menggeleng dan tersenyum .
"sejak kapan kau menjadi tukang tidur seperti ini sayang ." gumam Vaiz . Ia mengelus pipi mulus istrinya agar istrinya terbangun dan benar saja , Shasa menggeliat dan menguap .
"sayang,aku lapar sekali . Apa sudah matang?" tanya Shasa sambil mengerjapkan matanya .
"hmmm." Vaiz menyodorkan makanan yang ada di piring untuk Shasa. Dan Shasa mulai lemas melihat hidangan yang suaminya sajikan untuknya .
"kenapa?" tanya Vaiz bingung .
"hanya nasi , ayam suwir , dan rebusan sayur sayang?" tanya Shasa .
"krabohidrat, protein, nabati. Kau harus menjaga pola makanmu ada anakmu di perutku ." ucap Vaiz tegas .
Dengan terpaksa Shasa mengahabiskan makanannya .
"makan dengan pelan sayang,tidak akan ada yang mau mencuri makananmu." protes Vaiz .
"jika ada, tanpa mencuri pun aku aka memberikannya . Aku seperti orang sakit makan makanan seperti ini dan rasanya hambar . Aku hanya hamil sayang tidak sakit keras ." protes Shasa .
"turuti suamimu ." ucap Vaiz singkat .
Shasa lebih dulu menyelesaikan makannya . Karena kesal , ia tak menunggui suaminya dan lebih memilih kekamar seorang diri .
"lain kali naik tangga dengan pelan , ingat diperutmu ada bayiku ."teriak Vaiz agar didengar istrinya .
"memang kau saja yang punya baby ini, ini anakku juga ." gerutu Shasa .
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa engkau membuat suamiku lebih posesif saat tahu istrinya hamil ." keluh Shasa pada yang Pencipta .
Ia pun membaringkan tubuhnya di ranjang memejamkan mata bersiap untuk istirahat karna merasa kepalanya terasa berat . Ia tidak mau mengeluh pada suaminya ,jika ia mengeluh sudah pasti suaminya akan lebih posesif lagi . Nafas kasar tersebut berubah teratur kini Shasa sudah berada di alam bawah sadar alias tidur .