
Kini Vaiz dsn Shasa sudah berada di counter hp , sebelumnya mereka harus berdebat dulu karena Vaiz ingin membelikan di mall tapi Shasa memaksa untuk membeli di counter hp pinggir jalan, Vaiz yang selalu kalah harus terpaksa mengikuti keinginan istrinya .
"aku mau ini sayang ." Shasa menunjukkan ponsel kepada suaminya .
"ada yang keluaran terbaru tidak? yang paling mahal?" tanya Vaiz pada si penjual counter namun di tolak oleh Shasa dengan terpaksa lagi Vaiz mengiyakan permintaan istrinya.
"aku yang warna biru aja ." penjual ponsel tesebut menyodorkan ponsel yang Shasa pilih . Setelah membayar sepasang suami istri tersebut keluar dari counter hp .
"kenapa kau memilih ponsel itu? padahal aku ingin kita memiliki ponsel yang sama ."
"aku sudah lama ingin ponsel ini ,makanya waktu kamu ngajak aku sudah angan angan ingin membelinya ." Vaiz yang tak ingin berdebat dengan istrinya hanya mengangguk pasrah . Shasa yang malas kemana mana mengajak suaminya langsung kembali kerumah .
Di kamar Shasa sibuk memainkan ponsel barunya, ia tak memperdulikan suaminya yang kesal karna ia tak memperhatikannya .
"sayang," panggil Vaiz .
"iya apa?" jawab Shasa yang masih memandangi layar ponsel barunya .
"kau tak memperhatikanku?"
"baiklah baik , apa yang suamiku inginkan ?" memiringkan tubuhnya menghadap suaminya .
"pelukan darimu ." ucap vaiz dengan senang hati Shasa langsung memeluk tubuh suaminya .
"begini ?" tanya Shasa di angguki Vaiz .
"kau seperti bayi besar saja bukan seperti suamiku ." keluh Shasa membuat Vaiz terkekeh .
__ADS_1
"sedikit, tapi tidak masalah . Jadi nanti kalau anakmu lahir aku akan mengenalkanmu sebagai kakanya bukan ayahnya."
"kenapa begitu?" tanya Vaiz bingung .
"yaaa , karna kamu bayi besarku bukan? berarti kamu anakku kakak dari anak yang ada di dalam perutku."
"kau ini suka sekali menyindirku ." Shasa tergelak .
"baiklah tidak usah memelukku ." Vaiz menepis tangan Shasa lirih .
"baiklah kalau begitu peluk aku ." pinta Shasa .
"tidak nanti kau seperti bayi besarku ." ucap Vaiz membalikkan ucapan Shasa .
"kalau ini beda sayang,jika kau memelukku akan jelas aku istrimu dan kau suamiku . Beda kalau aku yang memelukmu ." jelas Shasa sambil meletakkan tangan suaminya pada perut besarnya .
"huh kau ini banyak alasan ." gerutu Vaiz malah membuat Shasa kembali tergelak .
"aku lebih mencintaimu ." Vaiz mencium bibir istrinya .
Vaiz mengusap perut besar istrinya . Sesekali ia juga memandangi wajaj istrinya .
"kau sudah menyiapkan nama untuk anakmu?" tanya Vaiz .
"belum , apa kau tidak ingin menamai anakmu?" tanya Shasa kembali .
"aku ingin , tapi juga belum menemukan yang cocok." jelas Vaiz .
__ADS_1
"ya udah kapan kapan kita akan mencari bersama sama." jelas Shasa .
"kau ingin punya anak laki laki atau perempuan?" tanya Shasa .
"keduanya . aku ingin banyak anak darimu ."
"amin , kita semogakan ya sayang ." ucap Shasa .
"iya , yang penting ibu dan bayinya sehat dan selamat ." Shasa mengngguk .
"Apapun jenis kelaminnya tidak masalah buatku ."lanjut Vaiz membuat Shasa tersenyum.
" kau memang lelakiku sayang , aku mencintaimu lagi dan lagi ." ucap Shasa mengelus pipi suaminy .
"aku tahu ." Vaiz tersenyum tulus menatap istrinya .
"kapan kita berbelanja kebutuhan anak kita nanti? aku takut nantinya kita malah tidak sempat ." tanya Vaiz pada istrinya .
"minggu depan ," ucap Shasa lembut .
"berjanjilah jika belanja nanti kau tidak mengkhawatirkan uangku habis."
"tapi sayang kita akan belanja seperlunya saja ," jelas Shasa .
"dia anakku , aku akan memanjakannya." protes Vaiz .
"hey aku ibunya ."
__ADS_1
"aku juga ayahnya ."
"baiklah terserah padamu saja ." jawab Shasa sambil tersenyum kepada suaminya . Vaiz pun juga ikut tersenyum . Mereka berdua sudah tidak sabar menanti kehadiran malaikat kecil di tengah tengahnya .